5 Kebiasaan di Masa Kuliah Ini Akan Bikin Kamu Sukses

Konon, setiap manusia punya potensi yang dapat menjadi nilai lebih. Seorang berjiwa entrepreteneur, pada prinsipnya berusaha memberi bonus pada setiap hasil karyanya. Kira-kira seperti apa? Ikuti contoh perkuliahan berikut.

Pertama, disiplin. Jika jadwal perkuliahan jam 07:00 maka sudah harus siap sebelumnya. Dengan begitu kita sedang belajar menghormati waktu dan memegang komitmen. Dalam diri dibangun perasaan malu jika telat, orang lain akan menunggu dan bisa dirugikan karena keterlambatan kita.

Kedua, jangan ‘memainkan waktu’. Ketika mahasiswa yang telat tiba di kelas, lalu dosen memutuskan menyelesaikan perkuliahan, itu sama saja tidak menghormati mahasiswa yang sudah siap belajar. Pendidik juga harus menghormati mahasiswa yang sungguh-sungguh ingin belajar dengan tekun.

Ketiga, komitmen mengikuti proses pembelajaran. Dosen dan mahasiswa tidak boleh hadir di kelas hanya sekedar setor muka atau mengisi presensi. Setelah itu sibuk dengan urusan lain di luar perkuliahan. Mungkin ada segudang alasan yang bisa dikemukakan. Namun intinya ada keteledoran dalam manajemen waktu.

Keempat, lakukan yang terbaik. Salah satu kunci sukses adalah selalu memberikan yang terbaik. Termasuk dalam proses belajar-mengajar. Dosen dan mahasiswa menyiapkan dirinya sebelum menyampaikan dan mengikuti perkuliahan.

Kelimacontinuous improvement. Catat aktivitas tidak produktif kita selama proses belajar, lalu perbaiki secara bertahap dari hari ke hari. Pada akhirnya aktivitas ini akan menjadi kebiasaan produktif. Jika dosen dan mahasiswa melakukan ini, akan terjadi akselerasi peningkatan kualitas pembelajaran.

Kelima hal ini harus menjadi ‘inner’ kebiasaan, keluar dari dalam diri. Hal tersebut bisa menjadi modal positif untuk bersaing di bidang masing-masing.

Untuk ‘bosque’, pengusaha muda, Anda nanti terbiasa memenuhi janji dan target’ dengan mitra bisnis. Anda juga akan berusaha menjadi pengusaha yang fair, sehingga ada nilai tambah yang diberikan.

Bagaimana jika ada yang tidak fair, dan Anda kalah karena hal itu. Fairness harus ditumbuhkan dan dikembangkan oleh kita semua. 

Sering disebutkan bisnis pada dasarnya adalah kreativitas. Jika kelima hal diatas tampak kaku, di manakah tempat kreativitas itu?

Jika Anda tahu yang standar (kaku), maka Anda tahu yang tidak standar. Justru empat hal diatas melatih bosque untuk operasional sehari-hari sekaligus mempertajam hal yang tidak standar.

Anda menjadi ahli, dan serahkan pada ahlinya! Oh ya, setiap dosen biasanya mengajar mata kuliah tertentu. Ini mengajarkan Anda tidak harus berbisnis dalam semua hal.

Dalam berbisnis bosque harus tahu hal apa yang harus dilakukan. Perhatikan diferensiasi produk, dan jangan lupa nilai tambah apa yang diberikan.

Misal, saat pandemi ini banyak sekali pedagang makanan yang tidak memakai masker, padahal hal itu telah menjadi standar atau aturan. Bosque bisa mengambil peluang dengan memberi nilai tambah, bukan hanya sekedar memakai masker. Anda bisa ikut mengampanyekan, sehingga stakeholder tahu Bosque memiliki kepedulian kepada pelanggan dan sesama.

Nilai tambah dapat diberikan pada setiap produk. Belajarlah datang kuliah 5 menit sebelum dimulai. Bosque dapat mengamati situasinya (observasi). Begitu juga dosen yang baik, akan datang tepat waktu.

Hikmahnya, Anda punya ‘nafas’ melihat faktor lingkungan eksternal, PESTEL (Politic, Economy, Social, Technology, Environment, Legal) untuk menyesuaikan diri. Bosque dapat membuat produk dengan persiapan yang lebih baik. Hasil akan lebih sempurna.

Bagaimana jika kelima hal diatas dilakukan hasilnya masih buruk?

Hal itu jarang terjadi. Percayalah, dalam hukum alam, “sesuatu yang bagus berasal dari yang bagus, bukan tiba-tiba”. Memang ada saja pengecualian, termasuk juga tidak ‘berbakat’. Namun secara umum kita akan sampai pada langkah yang kita jalankan.

Jika masih gagal juga, apakah harus disesali? Jawabannya juga tidak. Tidak ada yang perlu disesali, jika sudah melakukan yang terbaik. Penyesalan itu hanya boleh dirasakan karena tidak melakukan yang terbaik.

Memberi nilai lebih pada setiap produk yang diberikan adalah kepuasan. Hal ini harus menjadi prinsip dalam bertransaksi. Upayakan selalu, kesan yang diingat adalah hal positif. Tentu hal ini tidak harus menjadi ‘berpura-pura’ tetapi diharapkan tumbuh dari dalam diri.

Mengucapkan terima kasih, bersikap santun, melayani dan mendengarkan, adalah ciri dari semangat wirausaha. Saya hanya pekerja? Ooo tidak….., Anda adalah pekerja yang berjiwa wirausaha.

Ingat, untuk birokrat pun akan demikian. Jika tidak berjiwa wirusaha, mereka akan mendapat ‘serbuan netizen’ di dunia maya, yang pada akhirnya akan sangat merugikan dirinya.

Di era ke depan, era teknologi informasi dan Artificial Intelligence, layanan yang baik adalah kunci sukses. Saya adalah solusi, bukan problema.

Mungkin dapat dimulai dari “Apa yang dapat saya bantu?”

Jangan lupa sruput kopinya!

Baca Lainnya
Komentar
Loading...