Pernak-pernik Koperasi, Bagaimana Menyikapi?

Salah satu bentuk badan usaha adalah koperasi. Berbeda dengan lainnya, saat besaran modal menjadi pertimbangan, koperasi lebih dekat pada asas kebersamaan. Motto terkenalnya adalah One Man, One Vote. Nah, semacam perkawanan, padahal koperasi adalah lembaga serius sebagaimana lembaga bisnis lainnya.

Salah satu contoh adalah koperasi perusahaan, yang didirikan karyawan. Arus modal awal didapat dari simpanan pokok, wajib maupun sukarela. Perusahaan yang baik, biasanya di awal pendirian memberi ‘hibah’ dana.

“Dari dan untuk anggota”, adalah semboyan operasionalnya. Fokusnya untuk mensejahterakan anggota. Lambat laun, koperasi sangat melekat dan sangat bermanfaat bagi anggotanya. Tantangannya, koperasi sering menjadi ‘pintu Doraemon’ bagi anggota. Sebagai pintu ajaib, kadang kala aturan yang standar dapat terlangkahi. Ini merupakan satu kebaikan koperasi, namun juga menjadi problem. Ayo bosque kita obrolkan.

Kebaikan Koperasi

Pada awalnya koperasi ditujukan untuk mengumpulkan sumber daya yang “tercecer”, sehingga lebih bermanfaat. Pengorganisasian berdasarkan manusia, bukan berdasarkan modal. Makin banyak manusia, maka makin besar suara tersebar. Tak ada monopoli pendapat.

Sebagai bagian demokrasi ini dapat dianggap baik. Perlu ada tujuan yang jelas, cita-cita yang lurus, sehingga keragaman suara tidak menjadi masalah. Perlu adanya pengelola yang bagus, karena pengelola tidak ‘dikuasai’ oleh pemegang suara (menyebar).

Secara umum, koperasi adalah bisnis, mencari untung. Dalam hal ini, koperasi biasa membedakan berbisnis dengan anggota dan bukan anggota dalam hal penerapan ‘tarif’. Keuntungan anggota, mendapatkan tarif lebih murah. Hal ‘subsidi silang’ sebenarnya hal lazim juga pada ‘kelompok bisnis’ dikenal sebagai ‘transfer pricing’, menerapkan harga berbeda untuk tujuan keuntungan dilihat dari sudut kelompok.

Koperasi dibalut juga misi-misi sosial. Sebagian laba dialokasikan untuk misi tersebut. Mirip dengan perusahaan modern, melalui CSR. Perbedaan utamanya, sebagai bisnis dengan misi sosial-perkawanan, koperasi tampaknya tidak mengeksploitasi keuntungan. Dengan demikian, koperasi tidak akan ‘aji mumpung’ dalam berbisnis.

Koperasi milik bersama, maka koperasi akan mensejahterakan pemilik semua. Karena pemiliknya banyak, maka koperasi tidak akan menjadi sapi perah. Berbeda jika sebuah badan usaha dimiliki oleh seseorang (atau berdasarkan modal). Berlaku prinsip, Maximize Shareholder Wealth. Tak ada yang salah dari prinsip ini

Keburukan Koperasi

Pertama, prinsip one man one vote menyalahi kaidah bisnis, yakni kumpulan modal. Secara rasional, tak ada yang bersedia memberi 1000 dihargai dengan 1. Asas ini menunjukkan ketidakadilan, eksploitasi justru dari yang ‘lemah’ pada yang ‘kuat’. Karena itu, potensi koperasi adalah ‘kumpulan yang lemah’ agar mendapatkan skala ekonomis. Dalam konteks ini koperasi akan kalah, jika tidak dilindungi.

Kedua, karena modal cenderung kecil, maka skala ekonomis usaha cenderung sulit. Hal ini menyebabkan sulit berkembang. Misal, koperasi simpan pinjam, dapat dikalahkan, dengan begitu banyaknya lembaga pembiayaan (fin-tech) yang bersedia melayani hal yang sama.

Ketiga, karena ‘untuk anggota’ koperasi cenderung mengabaikan prinsip ‘good-governance’, aturan standar dapat diterobos sehingga menimbulkan problem bisnis atau keuangan di kemudian hari.

Keempat, pada koperasi perusahaan terkadang sulit mempekerjakan professional. Ini terjadi karena koperasi melekat pada ‘organisasi lainnya’. Misal koperasi simpan-pinjam karyawan, melekat pada PT tersebut. Terkait keuangan bisa menjadi kesulitan yang nyata jika dikelola sendiri.

Lalu bagaimana bosque harus berpijak tentang koperasi?

Mungkin lebih tepat semacam Venture Capital (penyetoran modal). Bosque tetap dapat memelihara semangat pertemanan, sosial, namun spirit bisnis tetap menjadi komando. Jika bosque ditawari setor modal, tentu bosque memiliki hak untuk tahu, sesuai dengan besar modal yang akan disetor.

Bosque dapat membuat prasyarat, termasuk prasyarat sosial dan otomatis juga pembagian laba. Walau teman, jika tidak layak secara bisnis, maka tidak perlu dilanjutkan. Jadi bosque memiliki sikap professional sejati, dan itu baik buat semuanya. Tetapi sebelum itu, ayo jangan lupa seruput kopinya. Nikmati!

#koperasi #csr #simpanpinjam

Baca Lainnya
Komentar
Loading...