Zawiyah, dari Tempat Berkhalwat di Sudut Masjid

Ada banyak istilah yang merujuk pada lembaga pendidikan Islam di masa lampau. Tapi kita hanya mengenalnya beberapa saja di masa sekarang, yang paling populer adalah madrasah atau pondok pesantren.

Padahal dulu ada beragam sebutan bagi lembaga pendidikan Islam, tergantung jenis dan karakternya. Di kalangan sufi misalnya, dikenal lembaga atau institusi bernama zawiyah. Semacam padepokan atau pondok bagi para sufi yang mengajarkan ajaran tarekat.

Secara literal zawiyah sebetulnya berarti “sudut”. Memang, sebelum mewujud sebagai institusi, zawiyah awalnya merupakan sebuah tempat khusus bagi kaum sufi yang terletak di sudut sebuah masjid. Biasanya tempat ini digunakan kelompok sufi untuk berkhalwat dan menempa diri dengan mujahadah serta riyadhah.

Dalam perkembangannya, pada abad pertengahan, zawiyah populer sebagai institusi pusat belajar agama bagi para penganut tarekat. Zawiyah menjadi istilah yang populer untuk menyebut semacam pondok bagi para pencari kehidupan spiritual.

Di Aceh, ‘zawiyah’ mengalami perubahan penyebutan menjadi ‘dayah’. Dan fungsinya berkembang sebagai tempat untuk menimba beragam ilmu agama, seperti halnya Pesantren di Jawa. Orang Aceh meyakini bahwa dulu Rasulullah mengambil tempat di sudut masjid (zawiyah) di Madinah untuk mengajarkan Islam.

Selain zawiyah, sebetulnya ada sebutan lain yang digunakan di sejumlah tempat yaitu ribat dan khanqah. Ribat artinya “bersiaga”, memang semula berupa lembaga pendidikan agama di barak-barak kaum mujahidin yang berbatasan dengan garis terdepan dengan musuh. Seiring waktu, barak-barak tersebut berubah menjadi pemukiman dan ribat lalu mengambil bentuknya yang baru sebagai sebuah lembaga pendidikan.

Khanqah berasal dari bahasa Persia, bermakna sebuah tempat tinggal untuk sufi. Khanqah juga merupakan lembaga pendidikan bagi yang ingin menyelami kehidupan sufi. Tapi jika zawiyah biasanya hanya terdiri dari satu bangunan atau bagian tertentu dari suatu bangunan. Khanqah seringnya berupa suatu kompleks yang di dalamnya terdapat kuburan khusus para sufi.

Khanqah pertama kali muncul pada abad ke-4 H di Khurrasan, kemudian mengalami perkembangan yang pesat pada abad ke-5 H. Dari Khurrasan, Khanqah berkembang ke Baghdad kemudian ke Syiria dan Yerussalem pada abad ke-6 H, lalu berkembang ke Mesir.

Zawiyah pernah ada di sudut masjid Amr bin Ash Kairo. Namun berkembang menjadi sebuah bangunan yang berdiri sendiri. Di dalamnya seorang syekh menyebarluaskan ajaran tarekat.

Di beberapa tempat zawiyah dilengkapi dengan fasilitas dapur dan ruang untuk menyambut para pengunjung. Zawiyah juga terkadang bisa bermula dari rumah seorang ulama tempat ia mengumpulkan murid-muridnya untuk belajar, bukan dari masjid.

Foto: Flicker.

Secara umum, antara zawiyah, khanqah atau ribat tidak ada perbedaan, hanya berbeda dari sisi penyebutan saja. Ketiganya kerap dianggap sebagai “biara” bagi kaum sufi. Sejarawan Ibnu Batuta mencatat bahwa ia menemukan banyak tempat seperti itu di Irak dan Persia. Ia mengatakan, di Barat tidak dikenal istilah khanqah atau ribat melainkan zawiyah.

Di Nusantara, zawiyah pernah dikenal pada masa Kesultanan Buton. Di masa itu, zawiyah identik dengan sebuah bangunan untuk menyebarkan ajaran tasawuf sesuai dengan aliran pendirinya. Tapi dalam perkembangannya ajaran-ajaran fikih juga mendominasi di dalam zawiyah.

Di era Kesultanan Buton penyebutan nama zawiyah sebagai institusi pendidikan selalu disandingkan dengan nama pendirinya. Ada setidaknya empat zawiyah yang tercatat di masa itu yaitu Zawiyah Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin, Zawiyah H. Abdul Ganiu (Kanepulu Bula), Zawiyah Muhammad Nuh (Kanepulu Bente) dan Zawiyah Sultan Muhammad Umar. Sejumlah literatur menyebutkan, keempatnya didirikan pada awal abad ke-19.

Salah satu zawiya yang masih aktif dan terkenal hingga sekarang adalah Zawiya Syekh Ahmad Tijani yang terletak di Fez, Maroko.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...