Yuk, Waktunya Cek Arah Kiblat

Menghadap Kiblat (Ka’bah di Masjidil Haram) adalah salah satu syarat sahnya salat, baik salat fardhu maupun sunah.

Sebagaimana firman Allah Swt, “…maka hadapkanlah wajahmu ke Masjidil Haram, di manapun kamu berada (saat salat) hadaplah ke arahnya…” (QS. Al-Baqarah: 150).

Nabi Saw. juga bersabda, “Apabila kamu ingin salat maka berwudhulah, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbir…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ijma’ ulama menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kiblat adalah Masjidil Haram di mana di dalamnya terdapat Ka’bah.

Pertanyaannya, apakah dalam mengarahkan wajah ke kiblat harus benar-benar presisi, bagaimana kalau melenceng sedikit?

Madzhab Syafii yang dianut kebanyakan umat Islam di Indonesia menyaratkan ketepatan dan kehati-hatian dalam upaya penentuan arah kiblat. Meskipun pada akhirnya kurang presisi, yang ditekankan, adanya upaya agar sebisa mungkin arah kiblat itu sesuai.

Sebagian besar ulama mengatakan, selama arah kiblat itu tidak melenceng jauh dan bertolak belakang dengan ketentuan Alquran dan Hadis, salat yang dilakukan tetap sah.

Nah untuk itu, pada hari Selasa (14/7) hingga Kamis (16/7) matahari bergerak dan melintas tepat di atas Ka’bah. Saat peristiwa yang dikenal dengan istiwa a’dham atau rashdul qiblah ini bayangan benda yang terkena sinar matahari akan menunjuk ke arah kiblat.

Inilah saat yang tepat bagi umat Islam Indonesia untuk melakukan kalibrasi atau penyesuaian arah kiblat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, dalam setahun matahari bergerak semu dari posisi 23,5o Lintang Selatan (LS) ke 23,5o Lintang Utara (LU) dan sebaliknya. Akibat gerak semu ini, pada tanggal tertentu matahari akan tepat berada di atas suatu bangunan atau kota yang posisinya berada di antara 23,5o Lintang Selatan ke 23,5o LU.

Mengingat posisi Ka’bah berada di 21o 25’ 21” LU dan 39o 49’ 34” BT, dalam setahun matahari akan tepat berada di atas Ka’bah sebanyak dua kali.

Pada tahun 2020, yang merupakan tahun kabisat, keduanya terjadi, pertama, pada tanggal 27 Mei pukul 12.18 Waktu Arab Saudi atau pukul 16.18 WIB atau pukul 17.18 WITA atau pukul 18.18 WIT, dengan waktu toleransi pada tanggal 26 hingga 28 Mei.

Kedua, pada tanggal 15 Juli pukul 12.27 Waktu Arab Saudi atau pukul 16.27 WIB atau pukul 17.27 WITA atau pukul 18.27 WIT, dengan waktu toleransi tanggal 14 hingga 16 Juli.

Pada waktu-waktu tersebut, umat Islam di Indonesia dapat melakukan penyesuaian arah kiblatnya dengan proses sebagai berikut:

Pertama, sesuaikan jam yang akan digunakan untuk kalibrasi arah kiblat dengan jam atom bmkg di http://jam.bmkg.go.id atau http://ntp.bmkg.go.id.

Kedua, gunakan alat yang dapat dijadikan tegak lurus pada tanah yang datar. Alat tersebut bisa berupa bandul yang digantung atau tiang pancang atau dinding bangunan yang benar-benar tegak lurus pada tanah yang datar.

Ketiga, lakukan proses kalibrasi sejak 5 menit sebelum waktu yang ditentukan di atas hingga 5 menit sesudahnya, dengan puncak kalibrasi pada waktu-waktu di atas.

Keempat, perhatikan arah bayangan yang terjadi pada alat yang digunakan untuk kalibrasi arah kiblat tersebut.

Kelima, tarik garis lurus dari ujung bayangan hingga ke posisi alat. Garis yang ditarik itulah arah kiblat yang sudah dikalibrasi dengan posisi matahari saat tepat berada di atas Ka’bah.

Namun sayangnya, waktu kalibrasi arah kiblat untuk wilayah Indonesia Timur dan sebagian Indonesia Tengah terjadi pada saat Matahari terbenam, sehingga tidak bisa dilakukan.

Oleh karena itu disarankan, bagi umat Islam yang berada di wilayah tersebut dapat melakukan kalibrasi arah kiblat pada waktu lain.

BMKG juga mengingatkan, agar saat melakukan proses tersebut masyarakat tidak melihat matahari secara langsung tanpa menggunakan penapis cahaya karena membahayakan bagi mata.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...