Yang Paling Berat Bagi Salik Menurut Imam Ghazali

Niat adalah pondasi amal. Tanpa niat yang benar, bangunan apapun yang ada di atasnya bisa rapuh dan mudah roboh.

Sekian banyak perbuatan yang sederhana tapi menjadi besar nilainya karena niat. Sebaliknya, banyak perbuatan yang terlihat besar dan rumit tapi kecil nilainya di sisi Allah. Itu semua lantaran niat.

“Bahwa setiap segala perbuatan itu sesuai dengan niatnya, dan setiap orang sesuai dengan apa yang diniatkan,” (HR. Bukhari & Muslim).

Abu Abdillah dalam Fathul Bari’ Syarah Shahih Bukhari mengatakan bahwa tidak ada dalam hadis-hadis (Akhbar) Nabi Saw yang paling menghimpun seluruhnya (ajma’), yang paling berguna dan mencukupi (aghna), dan paling banyak faedahnya dari hadis ini.

Para ulama dan imam besar seperti Abdurrahman bin Mahdi, Imam Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ali Al Madini, Abu Dawud, At Tirmidzi, Ad Daruquthni, Hamzah Al Kinani sepakat bahwa hadis ini mencakup sepertiga (ajaran) Islam.

Abdurrahman bin Mahdin dan lainnya dalam Al Minhaj Syarah Shahih Muslim mengatakan bahwa seyogyanya bagi setiap pengarang kitab untuk memulai kitabnya itu dengan hadis ini. Sebagai peringatan (tanbih) bagi setiap penuntut ilmu untuk selalu membenahi niat.

Yang Paling Berat Bagi Salik

Imam Ghazali dalam kitab Minhajul Arifin berkata, setiap hamba Allah tidak boleh tidak berniat dalam setiap aktivitasnya yakni dalam gerak dan diamnya. Sebagaimana hadis tersebut di atas.

Imam Ghazali menambahkan bahwa niat seorang mukmin itu lebih baik dari amalnya sebagaimana dalam hadis. Sedang niat itu berbeda-beda menyesuaikan dengan perbedaan waktunya.

Oleh karenanya, kata Imam Ghazali, bagi shahibun niat (yang berniat) itu bisa lelah karena selalu menyesuaikan situasi dan kondisi. Sedangkan manusia saat itu dalam keadaan santai.

Beliau kemudian menegaskan, bahwa dan tidaklah ada sesuatu yang lebih berat bagi seorang murid (salik) dari menjaga niat (hifdzun niyah).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...