Yakin Pikiranmu Sehat? Ini 5 Hal Yang Perlu Diperhatikan Saat Berpikir

Manusia dianugerahi alat oleh Allah Swt untuk dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana diketahui, bahwa apa-apa yang Allah anugerahkan harus disyukuri, yakni dengan cara menggunakannya sesuai tujuan penciptaannya.

Sebab jika tidak kita syukuri atau dengan kata lain tidak dipergunakan dengan sebaik-baiknya dikhawatirkan kita bisa termasuk orang-orang yang kufur atas nikmat-Nya.

Salah satu yang perlu kita syukuri sehingga harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya adalah akal yang digunakan untuk berpikir. Meski demikian, berpikir bagi seorang muslim tak sembarang berpikir, ada hal-hal yang mesti diperhatikan.

Berikut 5 hal yang perlu diperhatikan dalam berpikir, sehingga kamu tergolong orang yang berpikir sehat.

Pertama, Objek Pikiran

Al Qur’an menggaris bawahi bahwa objek pikiran itu adalah menyangkut penciptaan langit dan bumi alias makhluk ciptaan Allah Swt bukan menyangkut sang Pencipta (khalik).

Foto: Pixabay.

Hal ini sesuai dengan ungkapan, “berpikirlah tentang ciptaan Allah dan janganlah kamu berpikir tentang Allah karena kamu tidak akan mampu.”

Hal tersebut juga diungkapkan dalam Al Qur’an, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali Imran: 191).

Kedua, Pikir Selaras Dengan Dzikir

Berpikir tidak bisa dilepaskan dengan berdzikir. Artinya berpikir yang benar justru akan mengarahkan pikirannya itu pada ingat kepada Allah bukan justru lalai pada-Nya (ghaflah).

Itu sebabnya dzikir dianjurkan dalam setiap keadaan baik berdiri, duduk maupun berbaring, sehingga dalam berpikir pun selalu ingat kepada Allah. Bahkan sebagian ulama menyebut bahwa berpikir yang mengantar pada ingat pada Keesaan Allah dan kekuasaan-Nya bisa juga disebut berdzikir.

Ketiga, Melahirkan Ilmu, Hikmah dan Pelajaran

Penggunaan kata dalam Al Quran yang menunjuk arti berpikir disebut beragam. Kali waktu menggunakan yatafakkarun. Di lain tempat ada yatadabbarun, ya’qilun, yatadzakkarun dan lain sebagainya.

Foto:Fotografierende.

Namun kesemua kata yang berarti berpikir tersebut itu mengarahkan manusia demi meraih ilmu, merengkuh hikmah dan memetik atau mengambil pelajaran.

Sulaiman Ad Darani mengatakan, bahwa setiap aku keluar rumah, maka tak ada yang nampak dalam pandanganku kecuali aku melihat sesuatu itu karena Allah (lillah) yang di dalamnya ada nikmat (ni’mah) dan pelajaran (‘ibrah).

Jadi berhentilah memikirkan sesuatu yang tidak bernilai dan tidak berfaedah. Apalagi jika berpikir itu bisa berpotensi atau mengarah kepada hal yang negatif terlebih bisa mencelakakan diri dan orang lain.

Keempat, Adil dalam Berpikir

Untuk bertindak adil, seseorang mesti adil sejak dalam pikiran. Dengan menempatkan segala sesuatunya sesuai porsi dan tempatnya. Adil juga bisa bermakna berpikir skala prioritas, jangan sampai kamu memikirkan sesuatu justru yang lebih penting dipikirkan terabaikan.

Jangan memikirkan sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya. Itu sebabnya sering kali para ulama ketika ditanya mengenai persoalan akan menjawab, “saya tidak tahu”. Justru Al Qur’an memerintahkan kita bertanya pada ahlinya (ahladz dzikri) jika tidak mengetahuinya.

Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. (Al-Isra’: 36).

Berpikir secara adil juga lebih dekat kepada taqwa. “Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ma’idah: 8).

Kelima, Berpikir adalah Ibadah

Hasan Al Basri berkata bahwa berpikir sejenak (sa’ah) lebih baik daripada shalat malam. Sedangkan Ibnu ‘Aun menyatakan bahwa berpikir itu bisa menghilangkan ghaflah (lalai dari mengingat Allah). Berpikir juga bisa menumbuhkan ‘khasyah’ (rasa takut disertai kekaguman kepada-Nya) sebagaimana air menumbuhkan tanaman.

Foto: Chinmay Singh.

Imam Fakruddin Ar Razi menyebut bahwa tanda-tanda Keesaan Allah itu terbatas pada dua hal, pertama alam raya (dalailul afaq), dan kedua manusia (dalailul anfus). Sehingga sejatinya berpikir itu akan mengantar pada Keesaan Allah. Berpikir akan membuat kamu makin mengagungkan Allah dan takjub dengan Kebesaran dan Kekuasaan-Nya.

Dalam Tafsir As-Sa’di disebutkan bahwa berpikir (tafakkur) adalah salah satu ibadahnya Auliya Allah Al ‘Arifin. Maka setiap kali mereka berpikir maka semakin mengenal Allah, bahwa tidak ada yang tercipta sia-sia. Karena setiap ciptaan Allah mengandung hikmah dan tidak kosong dari maslahat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...