Wawancara Bersama KH. Wahfiudin Sakam (Mudir Am JATMAN): Tarekat Di Eropa (Bag. 2)

Wawancara oleh Didik Suyuthi dari majalah Nahdlatul Ulama Aula yang terbit untuk edisi Februari 2019, berikut ini petikannya.

Bagaimana dengan tarekat di Eropa Kiai?

Di Eropa terutama Jerman dan Belanda tumbuh juga gerakan-gerakan tarekat. Kalau di Belanda, di Amsterdam itu, di sana memang banyak orang-orang Indonesia. Komunitas Indonesia yang sudah menjadi warga negara sana, mendirikan berbagai kegiatan utamanya berbasis Aswaja, ahlussunnah waljamaah. Sehingga punya PCINU sendiri kan. Mereka punya masjid dulu disumbang oleh seorang tokoh besar Indonesia. Karena adiknya wafat di sana, adalah teman-teman NU yang mengurus jenazahnya sampai tahlilnya selama 7 hari adalah teman-teman NU. Sehingga teman-teman komunitas Indonesia itu dibelikanlah sebuah lahan dan didirikan sebuah masjid yang besar.

Saya sendiri beberapa bulan yang lalu ke Spanyol. Terutama ke bagian selatan Madrid. Dari ibu kota Madrid saya ke selatan ke Cordoba dan Granada. Memang di sana banyak kisah pahit bagi umat Islam. Karena hancurnya umat Islam di Asbania ini bukan hanya hancur secara politik, tapi secara kultural pun diobrak abrik, gitu.

Saya ke Portugal sebenarnya untuk menghadiri sebuah konferensi besar tentang teknologi digital. Kali ketiga saya hadir di sana. Karena saya pun sangat menginginkan untuk mengembangkan teknologi digital untuk lingkungan JATMAN. Di sana saya jumpai beberapa masjid yang orang-orangnya masih mengamalkan amaliah tarekat. Nah itulah sekilas cerita.

Kalau di negara-negara komunis atau eks komunis bagaimana perkembangan tarekatnya Kiai?

Oya, saya juga sempat ke Rusia. Kemarin itu sampai dua kali. Itu negeri yang selama 70 tahun di bawah rezim komunisme yang sangat ateistik dan otoriter. Tetapi setelah komunisme tidak lagi dijadikan sebagai ideologi, mereka menjadikan dirinya sebagai bangsa yang terbuka. Dan ternyata 70 tahun itu tidak menghancurkan Islam. Tahun 2015 bahkan Vladimir Putin, pemimpin Rusia, membangunkan masjid yang besar, yang pada 2015 itu diresmikan bersama Erdogan (Presiden Turki). Masjid yang sangat megah di sebelah Stadion sepakbola Moskow.

Apa yang menarik dari masjid itu?

Kali pertama saya datang ke Moskow itu kan pas musim dingin di Desember. Jadi menjelang shalat Jum’at untuk masuk ke masjid itu kita harus antre menjalani pemeriksaan x-ray. Karena mereka masih menghadapi adanya kelompok separatisme menurut versi politik mereka. Separatisme dari berbagai wilayah yang banyak didominasi oleh kelompok muslim. Jadi dikhawatirkan adanya musuh. Dikhawatirkan adanya terorisme.

Penjaga melihat kami dari Indonesia bertubuh kecil dan sangat kedinginan tidak terbiasa dengan cuaca di sana. Winter yang begitu menggigit. Melihat kami mereka justru memprioritaskan kami untuk tidak ikut antre dan langsung masuk.

Menjelang shalat jum’at suasana di dalam masjid begitu hening. Saya amati lebih dari 70 persen jamaah masjid adalah anak-anak muda. Orang-orang muda di bawah 40 tahunan lah. Mereka mengamalkan, membacakan wirid-wirid sampai tibalah waktu pelaksanaan shalat Jum’at. Begitu imam mengucapkan salam berakhirnya shalat Jum’at, ya kita lihat bahkan yang di Masjidil Haram sendiri begitu salam sebagian besar orang langsung bangkit dan bubar. Di Moskow itu begitu selesai diucapkan salam hanya satu dua orang saja yang bangkit. Yang lain tetap duduk. Mereka tetap melakukan wirid-wirid sebagaimana ahlussunnah waljamaah lainnya, sampai kemudian membaca do’a, dilakukan shalat sunnah ba’diyah. Selesai shalat ba’diyah mereka bersama-sama mengamalkan wirid atau amaliah thariqah.

Maaf karena waktu itu sangat dingin dan saya agak kebelet ingin pipis, saya keluar duluan. Begitu mau masuk lift, do’a bersama dimulai. Dan banyak orang yang tidak jadi masuk lift, mereka memilih bertahan balik menghadap kiblat mengangkat tangan untuk ikut berdo’a.

Lebih mengejutkan ketika saya tiba di luar masjid cuaca kan begitu dingin saat itu. Orang tidak akan mungkin duduk di lantai batu granit. Mereka berdiri. Tetap dalam keadaan berdiri dalam shaf atau barisan yang rapi mereka tetap bertahan dalam zikir mengangkat tangan di depan dada. Kagum juga. Kita juga di Indonesia saja melihat orang begitu salam langsung bubar, mereka tidak.

Sumber: Majalah Aula

Baca Lainnya
Komentar
Loading...