Tujuh Tren Pemasaran Digital di 2021

Tahun 2020 segera berlalu, selamat datang 2021. Pandemi global tampaknya masih akan terus berdampak pada kehidupan kita, tak terkecuali dunia bisnis.

Lalu bagaimana dengan pemasaran digital yang marak setelah pandemi? Apakah akan terus berlangsung, atau berubah di tahun depan?

Mengutip Forbes, sejumlah pemimpin pemasaran digital membagikan pengetahuan dan prediksi mereka tentang tren yang akan terjadi di tahun 2021:

1. Peralihan ke bisnis digital akan berlangsung permanen

Pendiri The Gauge Collective, Teddy Heidt, memprediksi bahwa pengalaman virtual audiens yang merasa nyaman dengan kegiatan non konvensional ini akan terus berlangsung.

Bahkan acara-acara virtual seperti demo masak, live music, konsultasi kesehatan dan perawatan tubuh secara virtual, kemungkinan akan terus berkembang.

2. Media sosial akan menjadi saluran teratas untuk pembelian

Massimiliano Tirocchi, CMO dan co-founder Shapermint melihat bahwa platform media sosial seperti Facebook telah memudahkan konsumen untuk beralih dari sekadar penjelajahan ke pembelian. Ia telah menciptakan jalur yang sederhana untuk seseorang melakukan pembelian.

Dengan tumbuhnya perdagangan lewat media sosial, pada 2021 pemegang merek seharusnya mampu beradaptasi dengan platform media sosial ini dengan sejumlah aturan barunya.

3. Pengguna yang mendapat informasi barang dagangan dari medsos ingin membeli

Sherene Hilal, seorang SVP, product marketing dan business operations di Bluecore memprediksi, pemasaran digital akan berkembang, bahkan melampaui personalisasi dan memasuki era perdagangan pribadi (personal commerce), di mana konsumen sendiri yang membagikan pengalaman mereka tentang sebuah produk untuk menunjukkan siapa diri mereka.

Sebab itu, mereka berharap pada pemilik merek bisa memahami apa yang sudah mereka beli sebelumnya, dan membantu mereka menentukan apa yang harus mereka beli selanjutnya. Tentu saja, berdasarkan semua data yang secara sadar mereka bagikan di media sosial mereka.

Nantinya, keberadaan sebuah produk di media sosial bukan sekadar untuk mengenalkan merek, tapi juga memberi tahu audiens apa yang mereka inginkan.

Data pembeli yang dikumpulkan, harus ditindaklanjuti dengan sesuatu yang berarti, seperti memprediksi apa yang ingin dilihat oleh pembeli selanjutnya, dan kapan mereka akan membeli.

4. Acara virtual awalnya dimulai karena kebutuhan, tapi akan tetap ada karena menguntungkan

Jim Kruger, Chief Marketing Officer Veeam mengatakan, dalam menghadapi pandemi Covid-19 semua kegiatan menjadi virtual karena kebutuhan.

Tapi saat memasuki tahun 2021 dan seterusnya, akan tetap banyak acara virtual, tapi tidak hanya karena masalah protokol kesehatan, tapi sebagai hasil dari pembelajaran di tahun 2020.

Sejumlah perusahaan telah merasakan bahwa kegiatan virtual ternyata lebih mudah diakses daripada acara tatap muka langsung.

Virtual menghemat sejumlah biaya, seperti visa, tiket perjalanan, dan biaya lain yang harus dikeluarkan dalam acara tatap muka. Sehingga memungkinkan partisipasi peserta lebih tinggi.

Dengan biaya lebih rendah dan partisipasi lebih banyak orang, artinya menguntungkan bagi penyelenggara.

Tapi syaratnya, harus kreatif dengan melibatkan pembicara yang hebat, konten yang kaya, serta harus happy. Pada tahun 2021 dan seterusnya, acara virtual akan terus populer.

5. Mulai memilah saluran media sosial

Namun Lisa Apolinski dari 3 Dog Write Inc, memprediksi bahwa pada 2021 banyak perusahaan akan mulai mengurangi jumlah saluran media sosial yang mereka gunakan.

Tujuannya, agar mereka hanya menggunakan media sosial yang paling relevan. Sehingga tidak hanya menjadi populer tapi juga menguntungkan.

6. Berinteraksi langsung lewat acara virtual

Acara virtual punya kekuatan yang besar, dengan catatan, komunikasi dilakukan dua arah secara live.

Ada kesalahan di antara banyak perusahaan di mana acara virtual disiarkan, tapi tidak secara live.

Memang, ada risiko yang bisa terjadi dengan siaran langsung (live), tapi keuntungannya jauh lebih besar daripada risikonya. Interaksi langsung adalah yang dicari oleh banyak peserta.

7. Penggunaan Augmented Reality (AR) dalam keterlibatan digital

Facebook yang memiliki Oculus dan lusinan paten Augmented Reality, hanya masalah waktu saja, sebelum para pakar pertumbuhan digital belajar menggabungkan AR ke dalam keterlibatan digital.

Sekarang ini mungkin masih belum menjadi tren, tapi sekarang waktunya untuk melakukan riset, mempelajari dan mempertimbangkan bagaimana AR dapat digunakan dalam aset digital saat ini.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...