Tri Mumpuni, Muslimah Peraih ’22 Most Influential Muslim 2021′

Di antara 22 nama peraih penghargaan tokoh muslim paling berpengaruh di dunia tahun 2021, terselip nama seorang perempuan muslimah asal Indonesia. Dialah Tri Mumpuni.

Puni, sapaan akrab perempuan tersebut, baru saja mendapatkan penghargaan dari dunia internasional. Beliau tercatat sebagai satu-satunya orang yang mewakili Indonesia dalam 22 Most Influential Muslim 2021 in Science and Technology.

Apa prestasi perempuan kelahiran Semarang, 6 Agustus 1964 ini?

Sebagai seorang ilmuwan aktivis, Puni dijuluki sebagai ‘Perempuan Listrik’. Ini karena selama 15 tahun terakhir, dia berjuang untuk menghadirkan aliran listrik di puluhan desa terpencil di Indonesia.

Puni, bersama sang suami dan para kolega lainnya, mengembangkan pembangkit listrik energi mikro-hidro. Hingga saat ini, paling tidak sudah ada sekitar 65 desa di Indonesia dan 1 desa di Filipina yang menikmati listrik berkat teknologi yang dikembangkannya.

Penghargaan adalah ‘Warning’

Bagi Puni, penghargaan tidak melulu dimaknai sebagai kebanggaan. Tapi juga merupakan ‘warning’ atau peringatan untuk dirinya.

“Penghargaan buat aku itu warning dari Allah bahwa kita harus selalu ingat kepada masyarakat yang memerlukan kita,” kata dia, mengutip Kompas.

Soal penghargaan memang sudah terbilang banyak, mulai tingkat nasional hingga internasional.

Puni tercatat pernah menerima penghargaan ‘Climate Hero 2005’ dari World Wildlife for Nature, lalu Ashden Awards pada tahun 2012, Magsaysay Awards tahun 2012, dan ASEAN Social Impact Awards pada tahun 2018.

Berbagi tak mengurangi

Lalu apa arti sederet penghargaan tersebut bagi Puni?

Perempuan muslimah ini, dengan bijak menuturkan bahwa penghargaan yang diterima harus mendorong dirinya untuk terus berguna bagi sesama.

Puni pun merasa dirinya lebih beruntung ketimbang yang lain, oleh karena itu ia merasa harus selalu bersyukur dengan cara berbuat kebaikan terus-menerus.

Ia ingin agar generasi mendatang terinspirasi, bahwa “dengan berbuat baik itu Tuhan juga selalu memberi kebaikan-kebaikan dalam hidup kita.”

Ada satu hal menarik yang ditanamkan jauh di dalam keyakinannya. Yaitu bahwa berbagi itu tidak akan mengurangi yang kita miliki, tapi justru sebaliknya.

“Berbagi rejeki tambah kaya, berbagi ilmu tambah pintar, berbagi senyum tambah bahagia,” jelasnya.

Puluhan Tahun Membantu Masyarakat Desa

Perempuan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Chiang Mai University ini telah puluhan tahun mengabdi untuk masyarakat pedesaan. Tujuannya adalah agar membawa perubahan bagi masyarakat yang kerap terpinggirkan ini.

Semua yang dilakukan Puni adalah inspirasi dari ibunya. Dulu waktu kecil, sang ibu selalu memintanya menemani ketika pergi ke desa-desa untuk merawat orang sakit.

Rumah mereka pun selalu digunakan sebagai pusat berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari program literasi hingga pelayanan kesehatan.

Beruntung, Puni menghabiskan sebagian masa remajanya bersama keluarga Soepardjo Rustam, mantan Menteri Dalam Negeri. Oleh karena itu dia sangat dipengaruhi oleh keluarga. Dari merekalah dia belajar langsung bagaimana bekerja dengan orang miskin di wilayah pedesaan.

Tahun 1982, Puni menjuarai lomba karya tulis ilmiah, sehingga ia ditawari kuliah di IPB oleh mantan rektor institut tersebut, meski sebetulnya keinginannya menjadi dokter.

Di tahun terakhir kuliah, dia diberi kesempatan oleh USAID untuk bekerja dengan keluarga petani ikan di Sumatera Utara dalam meningkatkan pendapatan.

Dia kemudian sering bekerja untuk masyarakat pedesaan dalam sejumlah program perempuan pedesaan terpadu dan lingkungan.

Setelah lulus kuliah, ia bergabung dengan UNDP dan menjadi pengelola program perumahan murah bagi kaum miskin kota. Semua pengalaman itu membantunya mengembangkan pemahaman yang jelas tentang cara membuat model berbasis komunitas.

Kebetulan, Puni mendapatkan suami seorang aktivis gerakan tenaga mikrohidro. Dia membujuk Puni untuk kembali ke pedesaan, mengembangkan listrik pedesaan. Berikutnya, mereka berdua berbagi keahlian dalam hal teknis, sosial, dan ekonomi dari sistem tersebut.

Tergerak karena nasib seorang petani

Semua berawal tahun 1996. Tri Mumpuni tergerak karena menyaksikan seorang petani meninggal terkena serangan jantung ketika usaha tenaga mikrohidronya runtuh setelah perusahaan listrik milik negara masuk ke desanya. Mereka menawarkan tarif bersubsidi sebagai bagian dari program politik.

Namun, Puni menyadari bahwa penggunaan listrik mikrohidro akan sangat penting untuk gerakan listrik pedesaan yang berkelanjutan.

Oleh sebab itu, selama tiga tahun berikutnya, dia pun melobi tanpa lelah tiga menteri energi agar mengizinkan produsen listrik kecil menjual kembali ke jaringan mereka.

Puni pun akhirnya memfokuskan diri pada pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga air kecil. Dia berhasil memenangkan konsesi pertamanya dalam kampanye co-generation pada tahun 1999.

Puni kemudian terus mendukung IBEKA (Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan) serta mengabdikan dirinya secara penuh untuk mengembangkan industri mikrohidro.

Dia membangun model kepemilikan komunitas, menerapkan beberapa prinsip untuk memastikan keberlanjutan sistem secara teknis dan sosial.

Melalui koperasi komunitas, akhirnya banyak sistem yang dia bantu bangun dan terus berjalan. Beberapa di antaranya dikelola bersama investor swasta, sementara yang lain dimiliki sepenuhnya oleh masyarakat itu sendiri.

Puni sengaja memberdayakan masyarakat agar mereka mampu mengelola sistem secara teknis maupun finansial. Sebab itu, jauh sebelum masyarakat memperoleh keuntungan dari sistem tenaga listrik, dia membantu mereka merencanakan pendanaan sistem, mengatur konstruksi dan pemeliharaan, serta menetapkan prioritas penerima manfaat untuk pendapatan yang dihasilkan.

Sebagai contoh, di satu desa misalnya, setelah sistem Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) dibangun, masyarakat mulai menerima pendapatan kotor bulanan sekitar RP 31 juta.

Pendapatan ini lalu dibagi rata dengan mitra bisnis setelah dikurangi biaya operasi dan pemeliharaan sistem. Sisa dananya, kemudian digunakan untuk beasiswa, dana kesehatan darurat, fasilitas kesehatan, dan uang bibit bagi petani.

Dengan model yang sama, kini Puni telah mampu memfasilitasi lebih dari 60 masyarakat pedesaan di seluruh Indonesia untuk mendapatkan akses dan kendali atas listrik mereka sendiri.

Ketika ilmu pengetahuan (sains) dikaitkan dengan kesejahteraan sosial, maka lahirlah kemandirian. Dan, itulah yang telah dilakukan perempuan muslimah, yang kini namanya masuk dalam daftar tokoh muslim berpengaruh di dunia tahun 2021.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...