Tradisi Unik Ramadhan dari Berbagai Negara

Ramadhan bagi kebanyakan Muslim di dunia bukan hanya tentang ibadah puasa. Lebih dari itu, Ramadhan merupakan bulan suci yang dirayakan dengan berbagai macam tradisi dan budaya.

Di banyak negara berpenduduk Muslim, Ramadhan menjadi momentum untuk kembali merayakan tradisi yang sudah berjalan berabad-abad lamanya, dari mulai penyambutan bulan Ramadhan, memasak kuliner khas, atau tradisi-tradisi lain yang khas di setiap tempat. Biasanya, tradisi diwariskan secara turun menurun.

Apa saja tradisi unik yang dilakukan di negara-negara berpenduduk Muslim di dunia?

Menembakkan Meriam di Libanon

Di Libanon, sebagaimana di banyak negara Timur Tengah, ada tradisi menembakkan meriam setiap hari selama Ramadhan untuk menandai waktu buka puasa.

Tradisi yang dikenal sebagai midfa al-iftar ini konon dimulai di Mesir sejak lebih dari 200 tahun yang lalu. Saat itu, Mesir di bawah kekuasaan Ottoman Khosh Qadam.

Ceritanya, saat menguji meriam baru pada waktu matahari terbenam, Qadam secara tidak sengaja menembakkannya, dan suara bergema terdengar di seluruh Kairo. Orang-orang yang berpuasa kemudian menganggap ini adalah cara baru untuk menandai akhir waktu puasa.

Tradisi ini kemudian dilakukan di banyak negara di Timur Tengah, termasuk Lebanon dan masih berlaku hingga sekarang.

Di UEA, anak-anak bernyanyi untuk mendapat permen

Tradisi ini dianggap meniru tradisi Barat, trick-or-treating. Tapi di negara-negara teluk tradisi tersebut dikenal dengan haq al-laila yang dilakukan pada tanggal 15 Sya’ban, setengah bulan sebelum Ramadhan.

Pada hari itu, anak-anak berkeliaran di lingkungan perumahan mereka mengenakan pakaian berwarna cerah untuk mengumpulkan permen dan kacang-kacangan dalam tas jinjing bernama kharyta, sambil menyanyikan lagu-lagu tradisional.

Syair lagu seperti, “Aatona Allah Yutikom, Bait Makkah Yudikum”, yang artinya, “Berikan kepada kami dan Allah akan membalas Anda dan membantu Anda mengunjungi Baitullah di Mekah”, bergema di jalan-jalan.

Di Uni Emirat Arab, negara teluk yang dianggap lebih modern, perayaan tradisional seperti ini mengingatkan kembali identitas dan tradisi Arab. Menawarkan kembali kesederhanaan, pentingnya ikatan sosial yang kuat, dan nilai-nilai keluarga di tengah gelombang modernisasi negara tersebut.

Di Pakistan, para wanita berkumpul pada malam Idul Fitri

Ketika Ramadhan berakhir, maka dimulailah perayaan Chaand Raat di Pakistan. Setelah berbuka puasa terakhir, para wanita berbondong-bondong ke pasar tradisional untuk membeli gelang warna-warni dan melukis tangan serta kaki mereka dengan pacar.

Para penjaga toko menghiasi kios mereka dan tetap buka sampai dini hari. Suasana pasar yang ramai saat perayaan Chaand Raat merupakan simbolisasi semangat masyarakat dan kegembiraan mereka menyambut Idul Fitri.

Membangunkan Sahur di Maroko

Selama bulan Ramadhan, di pemukiman kota Maroko penjaga kota bernama ‘nafar’ mengenakan pakaian tradisional gandora dengan sandal dan topi. Nafar berjalan menyusuri jalanan sambil meniup terompet untuk membangunkan warga sahur.

Tradisi ini, disebutkan berasal dari Timur Tengah pada abad ketujuh, ketika seorang sahabat Nabi Muhammad berkeliling di jalan-jalan saat fajar merapalkan doa-doa dengan suara merdu.

Melihat Hilal Idul Fitri di Afrika Selatan

Akhir Ramadhan ditandai dengan penampakan hilal atau bulan sabit pertama. Meski tradisi melihat hilal dipraktikkan di seluruh dunia, tapi Afrika Selatan memiliki tradisi yang unik.

Pada hari pengamatan bulan, Muslim dari seluruh Afrika Selatan menuju ke sebuah acara di ibu kota Cape Town untuk melihat hilal. Tapi hanya maan kykers, orang yang ditunjuk oleh Dewan Pengadilan Muslim Afrika Selatan, yang dapat menyatakan penampakan hilal secara resmi.

Masyarakat berdiri di sepanjang pantai di Sea Point Promenade, di Three Anchor Bay atau bahkan di atas Signal Hill. Hilal harus terlihat oleh mata telanjang pada malam yang jernih di Cape Town.

Orang Mesir menyalakan lentera warna-warni

Setiap tahun, orang-orang Mesir menyambut Ramadhan dengan memasang lentera warna-warni. Ini melambangkan persatuan dan sukacita sepanjang bulan suci tersebut.

Konon, ini bermula saat dinasti Fatimiyah, ketika orang-orang Mesir menyambut kekhalifahan Al-Muʿizz li-Din Allah ketika ia tiba di Kairo pada hari pertama Ramadhan.

Untuk membuat pintu masuk yang terang bagi pemimpin mereka, para pejabat militer memerintahkan penduduk setempat memegang lentera di jalan-jalan gelap, agar lentera aman mereka melindunginya dengan bingkai kayu. Seiring waktu, bingkai kayu tersebut menjadi lentera berpola dengan beragam warna dan desai yang menarik.

Muslim Roma memainkan balada di Albania

Selama berabad-abad, komunitas Muslim di Roma, yang berasal dari Kekaisaran Ottoman, menandai awal dan akhir puasa dengan lagu-lagu tradisional mereka. Setiap hari, selama bulan Ramadhan, mereka berkeliling di jalan-jalan memainkan lodra, sebuah alat musik buatan sendiri, berbentuk seperti drum yang dilapisi kulit domba atau kambing.

Para keluarga Muslim sering mengundang mereka ke dalam rumah untuk memainkan balada tradisional untuk menyambut buka puasa.

Ritual Padusan di Indonesia

Di beberapa daerah di Indonesia, umat Islam melakukan berbagai ritual untuk membersihkan diri sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ritual ini dilakukan di antaranya di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang disebut ‘padusan’, yang artinya ‘mandi’.

Dalam ritual ini orang-orang menceburkan diri ke sebuah sumber mata air, membasahi tubuh mereka dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Ritual padusan memiliki makna spiritual yang dalam pada budaya Jawa, yaitu sebagai momen pembersihan diri sebelum memasuki Ramadhan.

Praktek ini diyakini diajarkan oleh Wali Songo saat menyebarkan Islam di Jawa. Di mana dakwah mereka tidak mempertentangkan antara agama dan budaya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...