Tiga Tingkatan Menghidupkan Lailatul Qadar

Ramadlan merupakan bulan penuh rahmat dan ampunan. Bulan dimana Al-Qur’an diturunkan atau biasa disebut Nuzulul Qur’an. Bulan dimana umat Islam diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh.

Pada bulan Ramadhan, biasanya umat Islam berbondong-bondong memperbanyak ibadah dan meningkatkan ketakwaan dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an, melakukan shalat tarawih, shalat malam atau qiyamullail, memperbanyak sedekah dan melakukan kebaikan-kebaikan yang lainnya.

Pada bulan Ramadlan, terdapat satu malam yang penuh keistimewaan dan kemuliaan, malam yang ditunggu-tunggu oleh umat Islam di seluruh dunia. Malam yang memiliki kemuliaan lebih baik dari seribu bulan atau biasa disebut dengan malam lailatul qadar.

Pada malam ini, dikatakan bahwa barangsiapa yang melakukan kebaikan maka pahalanya setara dengan seribu bulan. Meskipun kapan jatuhnya malam lailatul qadar tidak diketahui secara pasti alias dirahasiakan oleh Allah. Namun umat Islam meyakini bahwa malam lailatul qadar jatuh antara malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan.

Para Ulama’ pun sudah banyak yang memprediksi jatuhnya malam lailatul qadar, seperti Imam Syadzili, jika awal Ramadlan jatuh pada hari Sabtu, maka kemungkinan malam lailatul qadar jatuh pada malam ke-23.

Imam Ghazali, jika awal Ramadlan jatuh pada hari Jumat, maka malam lailatul qadar jatuh pada malam ke-27. Dan lain sebagainya. Namun, prediksi itu hanyalah perkiraan semata, tidak pasti kebenaranya.

Selain prediksi yang dilakukan para ulama, juga terdapat tanda-tanda terjadinya malam lailatul qadar, seperti udara terasa tenang dan damai, angin bertiup pelan, langit cerah dan lain sebagainya.

Terlepas dari perkiraan dan tanda-tanda kapan jatuhnya malam lailatul qadar secara pasti. Allah memang sengaja merahasiakan terjadinya malam lailatul qadar, supaya umat Islam selalu meramaikan dan menghidupkan malam-malam Ramadlan, tanpa mengkhususkan pada malam tertentu.

Menghidupkan malam lailatul qadar dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, shalat-shalat sunnah dan ibadah-ibadah yang lain. Dalam Kitab Nihayatuz-Zain, Imam Nawawi menjelaskan tiga tingkatan dalam menghidupkan malam lailatul qadar.

Tingkatan Pertama,

Pada tingkatan pertama ini merupakan tingkatan tertinggi, yaitu menghidupkan malam lailatul qadar dengan shalat. Artinya seseorang yang mencapai tingkatan tertinggi ini, ia menghidupkan malam lailatul qadar dengan memperbanyak melakukan shalat-shalat sunnah, seperti shalat tarawih, shalat witir, shalat hajat, shalat taubat dan tentunya dilanjut dengan shalat tahajjud. Serta melaksanakan shalat-shalat sunnah lainnya, dalam rangka menghidupkan malam bulan Ramadhan dan tentunya supaya mendapatkan malam lailatul qadar.

Tingkatan Kedua,

Pada tingkatan kedua ini merupakan tingkatan wushta atau pertengahan. Yaitu menghidupkan malam lailatul qadar dengan memperbanyak berdzikir.

Berdzikir atau mengingat Allah tetunya banyak sekali macam bacaannya, seperti membaca hauqalah, kalimat tahlil, hamdalah, subhanaallah dan kalimat-kalimat thayyibah atau bacaan dzikir lainnya. Termasuk juga dalam kategori dzikir adalah membaca Al-Qur’an. Memperbanyak membaca Al-qur’an sama halnya dengan memperbanyak dzikir.

Tingkatan Ketiga,

Pada tingkatan ketiga ini merupakan tingkatan terendah dalam menghidupkan malam lailatul qadar, yaitu dengan shalat Isya’ dan shalat subuh secara berjamaah. Dalam penjelasan Imam Nawawi, mengkategorikan bahwa melakukan jamaah shalat Isya’ dan shalat Subuh adalah tingkatan terendah.

Hal ini bisa kita maknai, yang shalat isya dan subuh secara berjamaah saja masih dianggap tingkatan terendah, bagaimana yang tidak melakukan jamaah, terlebih tidak melakukan kebaikan apapun pada malam lailatul qadar? Mungkin termasuk orang-orang yang paling merugi. Wallahu ‘alam.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...