Tiga Percobaan Sains yang Berujung Kegagalan

Untuk mendapatkan kesimpulan yang pasti dan akurat, sebuah percobaan dan penelitian dalam bidang sains memang wajib dilakukan. Namun, ternyata, tidak semua percobaan itu bisa berhasil. Ada juga yang gagal, bahkan berakibat pada kematian.

Berikut ini tiga contoh percobaan sains yang dianggap gatot (gagal total) dan akhirnya tidak berlanjut:

Pertama, kloning antara babi dan kera
Tiga-Percobaan-Sains-yang-Berujung-Kegagalan
Cloning babi dan kera bernama chimera. (Foto: Newscientist)

Laman New Scientist mencatat bahwa beberapa tahun yang lalu, Tiongkok pernah melakukan kloning hewan dari dua spesies berbeda, yakni babi dan kera. Produk dari proyek kloning ini dinamakan Chimera, yang secara harfiah berarti spesies gabungan. Beberapa ilmuwan Tiongkok menamakan spesies baru tersebut sebagai babi primata.

Awalnya, proyek ini berhasil. Dua chimera berhasil lahir ke dunia. Dengan wajah babi, tapi sel dan organ dalam tubuhnya identik dengan kera. Percobaan sains tersebut dilakukan di Laboratorium Sel Punca dan Reproduksi Beijing, Tiongkok.

Namun, seminggu usai kelahirannya, kedua chimera meninggal dunia. Proses kematiannya pun sangat menyiksa dan ada banyak ilmuwan di dunia yang mengecam tindakan kloning tersebut.

Tetapi, ilmuwan Tiongkok berdalih bahwa apa yang dilakukan justru untuk menghasilkan organ manusia (transplantasi) pada hewan-hewan gabungan.

Kedua, uji coba obat antibiotik di Nigeria
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)
Ilustrasi. (Foto: Pixabay)

Pada 1996 lalu, sebuah perusahaan farmasi besar pernah melakukan uji coba dalam pemberian obat-obatan antibiotik di wilayah Kano, kota kecil di utara Nigeria. Ditulis dalam laman National Institute of Health, saat itu dilakukan pemberian obat antibiotik untuk meningitis pada dua ratus anak.

Sayangnya, sebelas dari anak-anak yang diberikan obat tersebut meninggal dunia. Ada kemungkinan terjadi reaksi alergi atau ketidakcocokan senyawa kimia obat itu terhadap tubuh beberapa anak di Nigeria. Beberapa tuduhan menyeruak ke publik dan menyatakan bahwa beberapa anak tidak ditangani dengan prosedur yang benar di saat kondisi mereka memburuk.

Klimaksnya, obat-obatan antibiotik tersebut dicabut peredarannya dari Eropa karena dinilai memiliki efek samping yang berbahaya dan bahkan menyebabkan kematian. Ada pihak-pihak yang menuding bahwa perusahaan farmasi tersebut tidak memiliki izin dan persetujuan resmi sebelum menguji coba antibiotik tersebut pada anak-anak di Nigeria.

Ketiga, eksekusi mati dengan cara minum kopi
Ilustrasi. (Foto: Burst)
Ilustrasi. (Foto: Burst)

Banyak cara dilakukan untuk menerapkan hukuman mati, salah satunya adalah minum kopi. Pada zaman dulu, kopi pernah menjadi momok menakutkan di Swedia. Ditulis dalam laman History, para raja dan pemimpin Swedia pernah membatasi, bahkan melarang peredaran kopi karena dianggap dapat membunuh atau membuat peminumnya menjadi hilang kesadaran.

Uniknya, untuk membuktikan teorinya, seorang raja bernama Gustav III memberikan kopi pada narapidana sebagai hukuman matinya. Terpidana mati tersebut diberikan kopi sebanyak tiga gelas kecil per hari. Bukannya meninggal, terpidana tersebut justru berusia panjang.

Bahkan, Raja Gustav III lebih dulu meninggal dunia dan dikabarkan bahwa mantan narapidana yang rutin dihukum “minum kopi” tersebut meninggal pada saat usianya mendekati 90 tahun.

Demikian tiga percobaan sains yang pernah terjadi di dunia dan dianggap gagal. Masih banyak lagi percobaan-percobaan lainnya yang dianggap gagal. Namun, untuk sementara, cukup tiga saja.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...