Tahannuts dan Wahyu Pertama

Tahannuts atau menyendiri dari hiruk pikuk duniawi untuk beberapa waktu tertentu merupakan tradisi yang sudah dilakukan oleh kaum Quraisy.

Praktik penyendirian spiritual ini biasanya dilakukan oleh mereka di sebuah bukit, gua atau tempat-tempat sepi lainnya. Tujuannya adalah agar seseorang terbebas dari kontaminasi dunia selama beberapa waktu.

Pada setiap generasi keturunan Nabi Ismail, selalu ada satu atau dua orang yang melakukan tahannuts, tradisi kuno ini. Nabi Muhammad adalah salah satunya. Biasanya beliau melakukannya lebih sering di bulan Ramadhan.

Nabi Muhammad Saw mulai sering bertahannuts ke gua Hira di Jabal Nur, tidak jauh dari pinggiran kota Mekah, ketika mulai mengalami tanda-tanda kekuatan batiniah melalui mimpi. Menurutnya, mimpi itu bagaikan kilatan cahaya.

Beliau sering mendaki bukit hira dengan membawa sejumlah perbekalan untuk beberapa hari. Jika perbekalan habis beliau kembali ke rumah untuk menyiapkan bekal dan kembali lagi. Di bukit itu, beliau mengkhususkan malam-malamnya untuk sepenuhnya menyembah dan beribadah kepada Tuhan.

Nabi Muhammad Saw melakukan tradisi tahannuts selama beberapa tahun, dan biasanya dilakukan pada malam-malam bulan Ramadhan.

Sampailah pada suatu malam, di malam-malam terakhir bulan Ramadhan, saat usianya mencapai 40 tahun, ketika beliau sedang sendirian di dalam gua, datanglah seseorang kepadanya.

Orang itu, yang tak lain adalah Jibril yang merupa manusia, berkata kepadanya, “Bacalah!”

Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.”

Lalu Jibril mendekapnya sampai beliau kesulitan bernapas. Jibril pun melepaskan dekapannya lalu berkata lagi, “Bacalah!”

Beliau menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Peristiwa itu terus terulang seperti itu hingga tiga kali.

Lalu Jibril melanjutkan kata-katanya:

“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan! Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan pena. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Lalu Nabi Saw mengulangi perkataan Jibril yang kemudian meninggalkannya.

Peristiwa inilah yang kemudian diperingati sebagai hari diturunkannya Alquran. “Iqra’” (Bacalah!) merupakan ayat Alquran pertama yang diturunkan. Sebagian besar pendapat ulama mengatakan, peristiwa ini terjadi pada kari ke-17 di bulan Ramadhan.

Setelah itu, Alquran turun kepada Nabi Saw secara berangsur-angsur bertahun-tahun setelahnya. Ada yang berpendapat selama 18 tahun, 20 tahun, 23 tahun, ada pula 25 tahun.

Selama itulah, wahyu Alquran turun kepada Nabi Muhammad Saw seperti bunyi lonceng yang amat keras, dan ini yang terberat, kata Nabi. Ada pula wahyu yang disampaikan oleh malaikat Jibril yang merupa sebagai manusia.

Tahannuts, menyendiri secara spiritual, untuk mengasah batin, membebaskan diri dari kontaminasi duniawi, adalah langkah awal manusia untuk mencapai derajat yang lebih tinggi secara spiritual.

Hari ini, barangkali sulit jika harus menyepi di dalam gua. Tapi kita bisa memilih tempat-tempat di sekitar kita untuk “bertahannuts”, khususnya di malam-malam terakhir Ramadhan. Bahkan mungkin, di masa pandemi Covid-19 kita bisa mengambil salah satu sudut di rumah kita untuk “bertahannuts”. Beribadah penuh kepada Allah, menetralisir dari kontaminasi dunia.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...