Sufi dan Tarekat Ditakuti Penjajah Belanda

Siapa bilang tarekat identik dengan kejumudan, keterbelakangan dan jauh dari revolusioner karena hanya mengejar akhirat.

Coba Lihat sejarah tentang perlawanan Pangeran Diponegoro. Sejarah mencatat, Perang Diponegoro adalah perlawanan rakyat Jawa yang paling merepotkan dan paling berdarah terhadap penjajah Belanda.

Siapa Pangeran Diponegoro?

Kiai Maja, tokoh spiritual kala itu, mengatakan kepada sang pangeran, “Kamu adalah seorang sufi.”

Pernyataan ini ditegaskan Kiai Maja untuk menguatkan spirit Pangeran Diponegoro, yang juga pengikut Tarekat Sattariyah, saat berjuang melawan kolonialisme Belanda.

Di berbagai belahan dunia, gerakan tarekat juga terbukti telah menjadi penggerak bagi perlawanan terhadap kolonialisme.

Selain di Indonesia, perlawanan terhadap kolonial yang digerakkan kelompok tarekat juga terjadi di Afrika Utara ketika melawan kolonial Inggris dan Spanyol, juga di India.

Menurut penulis buku Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII, Prof. Azyumardi Azra, dua tarekat yang paling dikhawatirkan penjajah adalah Tarekat Qadariyah dan Tarekat Naqsabandiyah.

Kenapa Belanda amat takut dengan tarekat? Peneliti dan penulis Martin van Bruinessen mensinyalir, bahwa dalam pandangan para pejabat penjajah Belanda, Prancis, Italia dan Inggris, fanatisme penganut tarekat kepada guru mereka akan dengan mudah berubah menjadi fanatisme politik.

Selain Tarekat Qadiriyah dan Tarekat Naqsabandiyah di Nusantara juga berkembang Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah.

Lukisan Peristiwa Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Nicolaas Pieneman. Foto: Wikipedia

Tarekat ini merupakan penggabungan antara keduanya, dipelopori oleh Syekh Ahmad Khatib sambasi, yang berasal dari Kalimantan Barat.

Sejak abad ke-16, tarekat ini menyebar, khususnya di seluruh Jawa, seperti di Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur.

Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah berkembang pesat pada abad ke-19, terutama ketika menghadapi penjajahan Belanda.

Penulis Annemerie Schimmel dalam buku Mystical Dimensions of Islam, menyebut bahwa tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk menandingi kekuatan lain.

Pada tahun 1888, di Banten pernah terjadi pemberontakan petani yang sempat membuat penjajah Belanda keteteran.

Pemberontakan itu dipimpin oleh para ulama dan kiai. Mereka adalah para pengikut Tarekat Qadiriyah yang dipimpin Syekh Abdul Karim dan Kiai Marzuki.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...