Soal Kedaulatan Pangan, Tengoklah Pesantren

Kedaulatan pangan merupakan cita-cita semua bangsa, di mana sumber-sumber pangan seharusnya bisa diproduksi secara mandiri dan mampu memenuhi kebutuhan sendiri.

Kedaulatan pangan sebagai slogan memang mudah diucapkan, tapi sepertinya sulit dipraktekkan tanpa adanya kesungguhan. Sampai saat ini, Indonesia, negara yang tanahnya subur, belum bisa dikatakan berdaulat dalam hal pangan. Buktinya, sejumlah komoditas pangan pokok masih tergantung dengan impor.

Pandemi Covid-19 akhirnya menyadarkan banyak negara soal pentingnya kedaulatan pangan. Sebab ketika lalu lintas ekspor-impor antar negara dibatasi, maka tidak mudah lagi mendapatkan bahan pangan impor sehingga harganya menjadi mahal.

Program-program kedaulatan pangan pun mulai kembali dikumandangkan. Orang-orang kembali diimbau untuk memanfaatkan lahan yang ada di sekitar rumah untuk bercocok tanam dan berternak apa saja. Sayur-sayuran, cabai, buah-buahan, hingga berternak lele.

Menengok ke pesantren

Sejumlah pondok pesantren sudah lama menjadi miniatur kedaulatan pangan. Ada istilah, “milik kiai, juga milik santri”. Artinya, apa yang ada di dalam komplek pesantren seperti perkebunan dan peternakan, adalah kewajiban santri untuk merawat seperti milik sendiri. Hasilnya, untuk dinikmati bersama.

Banyak pondok pesantren yang hanya membeli sedikit saja bahan makanan dari luar untuk para santrinya. Sebagian besar bahan pangan dihasilkan dari pertanian, perkebunan, hingga peternakan milik pesantren. Inilah contoh kecil dari kedaulatan pangan.

Bahkan, ada juga pesantren yang sudah bisa menjual produk-produk pertaniannya untuk masyarakat umum sehingga hasilnya bisa menghidupkan roda perekonomian pondok pesantren.

Pesantren Lintang Songo Bantul

Pesantren Lintang Songo di Bantul Yogyakarta salah satunya, pesantren ini mandiri secara pangan dan ekonomi. Para santri di pesantren ini dilibatkan untuk mengelola sejumlah sektor seperti pertanian, peternakan, perkebunan, perhutanan dan home industry. Sejumlah usaha bahkan sudah bekerja sama dengan perguruan tinggi di Yogyakarta.

Sejauh ini pesantren tersebut setidaknya sudah mengelola 27 unit usaha, diantaranya usaha kolam pemancingan dan kebun sayur Lintang Songo Smart Farm and Garden.

Seluruh kegiatan usaha yang dikembangkan oleh pesantren bertujuan melatih kemandirian santri, memenuhi kebutuhan pangan, dan meningkatkan produktivitas pondok pesantren.

Ponpes Miftahul Huda Tasikmalaya

Contoh lainnya, Pondok Pesantren Miftahul Huda Tasikmalaya Jawa Barat. Sejak berdiri pada pertengahan 1960-an, santri pesantren ini telah terbiasa memenuhi kebutuhan santrinya dengan bertani.

Pesantren ini memiliki lahan seluas 30 hektar lebih, dan setengahnya adalah lahan pertanian dan sudah dikembangkan untuk sawah, kebun bawang, buncis, cabai, peternakan, hingga lahan hidroponik untuk sayuran.

Tentu saja, sebagian besar pengelolaan pertanian, perkebunan dan peternakan tersebut dilakukan oleh para santri.

Pesantren Al-Ittifaq Bandung

Pesantren Al-Ittifaq mungkin merupakan contoh yang lebih maju. Tidak saja untuk memenuhi kebutuhan santri sehari-hari, hasil pertanian dan peternakan dari pesantren tersebut bahkan telah mampu memenuhi kebutuhan pasar modern di wilayah Bandung hingga Jakarta.

Banyak orang kemudian menyebut pesantren ini sebagai pesantren agroindustri. Saat ini, pesantren Al-Ittifaq kerap menjadi tempat magang atau pelatihan agribisnis bagi para santri, mahasiswa, hingga petani.

Santri pesantren Al-Ittifaq rata-rata datang dari berbagai pelosok di Tanah Air, yang mayoritas golongan ekonomi rendah, fakir miskin dan anak yatim piatu sehingga tidak dipungut biaya.

Untuk keperluan makan, kesehatan dan kebutuhan sehari-hari dipenuhi dari hasil usaha pertanian yang dikelola oleh para santri sendiri.

Usaha agribisnis yang dilakukan pesantren yakni memproduksi sayuran dataran tinggi untuk memenuhi permintaan pasar tradisional maupun pasar modern dan supermarket.

Ada banyak komoditas pertanian yang diproduksi seperti sayuran antara lain buncis, kentang, daun bawang, tomat, cabe hijau, paprika, sawi putih, lobak, seledri, kacang merah, wortel dan jagung semi.

Pesantren juga sudah mampu memproduksi komoditas sayuran yang siap untuk konsumen pasar swalayan dan pasar modern melalui sortasi, grading, packing, wrapping dan labeling sesuai permintaan pasar.

Pesantren Al-Ittifaq juga bekerja sama dengan sejumlah swalayan modern di kota besar untuk memasok hasil pertanian.

Nah, jika sekarang orang ramai-ramai mulai menyadari akan pentingnya kemandirian memenuhi kebutuhan pangan dengan mulai bercocok tanam, baik dengan sistem pertanian modern atau pertanian kota, mungkin ada baiknya menengok dan belajar ke pesantren, banyak dari mereka sudah memulainya lebih awal.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...