Siswa di Jepang Kenali Bahaya Banjir Lewat Teknologi AR

Jika siswa dan siswi di Indonesia masih beradaptasi dengan sistem pembelajaran online, anak-anak di Jepang selangkah lebih maju. Mereka mulai menggunakan teknologi AR (Augmented Reality) untuk belajar tentang banjir bandang dan cara evakuasinya secara ril.

Sekolah-sekolah di Jepang, bahkan di tingkat sekolah dasar sudah mulai menggunakan AR untuk mengajari anak-anak tentang bahaya banjir bandang.

Mereka menggunakan tablet atau tab untuk mensimulasikan banjir bandang dengan teknologi AR. Teknologi ini mampu menunjukkan kepada anak-anak betapa air banjir itu naik dengan cepatnya.

Seorang anak berusia 6 tahun di sana, mengatakan bahwa cara belajar seperti ini adalah pengalaman yang lebih berkesan dibandingkan jenis pelajaran lainnya.

Simulasi bencana, baik bencana alam maupun non alam, sangat berguna untuk mengajari orang-orang, terutama anak-anak untuk mendapatkan cara terbaik bereaksi dalam keadaan darurat.

Jadi, jika bahaya terjadi, anak-anak tahu bagaimana cara keluar dari bahaya tersebut dengan cepat. Selain untuk simulasi banjir, teknologi VR juga digunakan dalam simulasi penanganan kebakaran dan gempa bumi.

Teknologi yang membuat tampilan visual menjadi sangat nyata ini memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan lebih menarik bagi anak-anak untuk ikut berpartisipasi.

Simulasi yang dilakukan dengan mempraktikkan langsung, kadangkala membutuhkan biaya yang lebih mahal dan tenaga ahli yang memadai. Tapi dengan teknologi VR latihan evakuasi rutin dengan berbagai perencanaan dan skenario lebih menghemat biaya.

Teknologi AR bisa membuat simulasi bencana seperti banjir bandang atau kebakaran lewat gambar visual yang diproses melalui teknologi grafik komputer.

Jepang dikenal sebagai negara rawan bencana, terutama gempa dan tsuami. Oleh karena itu, negara tersebut memiliki antisipasi yang baik terhadap bencana. Salah satunya dilakukan dengan memberikan pelatihan dan simulasi evakuasi kebencanaan semenjak dini.

Gempa bumi di Jepang pada tahun 2011 adalah gempa bumi terkuat di negara itu yang tercatat dengan kekuatan 9,0 skala Richter yang menyebabkan banjir dan tsunami besar.

Dalam peristiwa tersebut, lebih dari 300 anak usia sekolah dasar meninggal dunia karena tidak menyadari risiko tsunami dan banjir atau tidak dapat melarikan diri, meskipun peringatan telah disiarkan kepada mereka lewat radio dan TV.

Waktu itu, anak-anak dan orang dewasa tidak dapat membayangkan seperti apa tsunami itu, dan tidak memahami perlunya evakuasi yang cepat.

Salah satu yang tragis terjadi di SD Okawa. Di sekolah ini siswa dan guru tewas karena rencana evakuasi tsunami mereka tidak dipersiapkan dan guru melakukan kelalaian.

Belajar dari peristiwa ini Jepang mulai fokus mengembangkan alat digital untuk pelatihan evakuasi bencana yang bisa dipelajari lewat smartphone, VR (Virtual Reality), dan AR.

Lain Jepang, lain Indonesia. Meski bencana alam di Indonesia juga tidak kalah dahsyat dengan Jepang. Seperti banjir, gempa bumi, gunung meletus, yang terjadi berulang kali. Namun tampaknya belum ada upaya pengenalan secara serius sejak dini tentang bencana dan bagaimana penyelamatannya. Apalagi menggunakan teknologi AR seperti di Jepang.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...