Sekjen MUI: Ada Keinginan Untuk Membenturkan Islam Dengan Kebangsaan

JAKARTA – Sekretaris Jenderal MUI (Majelis Ulama Indonesia) Pusat, Dr. H. Anwar Abbas MM., M.Ag. menyatakan bahwa ia melihat ada keinginan orang atau kelompok tertentu untuk membenturkan Islam dengan kebangsaan, “Islam sebelah sana kebangsaan sebelah sini, Islam sebelah sini kebangsaan sebelah sana,” ucapnya di Lantai III Gedung Pola Perintis Kemerdekaan di Jalan Proklamasi no. 56 Menteng, Jakarta Pusat (24/1).

Mengawali sambutannya di acara “Sarasehan Nasional: Penguatan Literasi Islam Kebangsaan Generasi Milenial,” Dr. Anwar menyayangkan masih banyaknya buku dan konten keislaman yang beredar namun bertentangan dengan Pancasila, “Literasi-literasi kita banyak yang bertentangan dengan sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sila keempat, sila kelima.”

Ia berharap agar bangsa Indonesia konsisten dengan falsafah Pancasila. “Kita harus konsisten dengan falsafah kita Pancasila, siapapun kita dan dimanapun posisi kita,” imbuhnya.

“Siapapun yang berkata di negeri ini tidak boleh bertentangan dengan sila pertama, sila kedua, sila ketiga, sila keempat dan sila kelima,” ucapnya dengan tegas.

Dalam kesempatan tersebut ia menuturkan, “Bagaimana caranya LPBKI (Lembaga Pentashih Buku dan Konten Keislaman) MUI bisa melihat buku buku, sehingga buku-buku yang ada ini jangan membenturkan Islam dengan kebangsaan,” kata salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Penulis disertasi tentang Bung Hatta juga mengangkat hasil tulisannya tersebut. “Disertasi saya menyebutkan kalau Hatta itu seorang nasionalis dan bukan sekuler bahkan dia nasionalis relijius. Kesimpulan saya, beliau nasionalis yang sangat Islamistis karena kata Bung Hatta, ‘Apa yang kita pikirkan dan apa yang kita renungkan itu harus sesuai ajaran agama kita’, dan Bung Hatta agamanya adalah Islam. Bung Karno pun menurut saya seperti itu, beliau nasionalis dan relijius.”

Ada upaya untuk menjauhkan Soekarno dari Muhammadiyah. Bung Karno harus dikembalikan kepada habitatnya. Dan kalau kita baca pikiran-pikiran beliau tentang agama Islam sangat mencerahkan.

Ia menyimpulkan bahwa, “Anda itu adalah apa yang anda baca. Kita ini dan kamu itu adalah apa yang kita dan kamu baca. Karena itu bagi saya, pelurusan literasi itu justru sangat penting. Kalau kita ikuti terus nih arus yang seperti ini, menjauhkan Soekarno dari Islam, maka kesimpulannya Soekarno itu tidak relijius tidak islami dan ini berbahaya sekali, padahal beliau nasionalis dan sangat relijius.”

“Literasi kita harus berisikan yang al haq, literasi kita harus dijauhkan dari hoaks, literasi kita harus dijauhkan dari yang tidak benar, literasi kita berisikan kebenaran, literasi kita sesuai dengan nilai nilai yang kita junjung tinggi yaitu keilmuan. Ilmu harus bertugas menjelaskan itu semua,” pungkasnya.

Sarasehan diselenggarakan atas kerjasama antara LPBKI-MUI, Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) dan Yayasan Bung Karno. (eep)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...