Sambutan Ketum PBNU Pada Pembukaan Konsolidasi Nasional NU  

JAKARTA – Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, MA dalam sambutannya pada acara ‘Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad Nahdlatul Ulama (NU) Dalam Rangka Hari Lahir Nahdlatul Ulama Ke-93’ mengatakan bahwa NU berkomitmen menjaga kekuatan eksisitensi budaya kepribadian jati diri Islam Nusantara, Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) yang ramah, santun, anti radikalisme, anti terorisme, anti ekstrimisme, Kamis (31/1).

“Dengan segala suka duka kita berusaha menjalankan amanat yang amat luhur ini sesuai dengan firman Allah”, ucap beliau yang dilanjutkan dengan membaca ayat 72 surah al Ahzab.

“Sesungguhnya kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidaka akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia itu sangat zhalim dan sangat bodoh”.

Menurut Kiai Said amanah itu ialah kalimatul haq, “Berani mengatakan ‘iya’ terhadap kebenaran apapun resikonya, berani mengatakan ‘tidak’ terhadap kebathilan apapun resikonya, walaupun orang lain diam ataupun ketakutan,” pungkasnya di JCC (Jakarta Convention Center), Jakarta.

Dengan demikian, “InsyaAllah kita tidak akan masuk dalam kaum dzaluman jahula (zalim dan bodoh).”

“Gus Dur telah memberi contoh yang sangat jelas, beliau kalau ingin kaya, ingin makan enak, ingin mobil mewah, ingin uang banyak, tinggal bilang iya pada orde baru, tapi beliau demi mempertahankan amanah dari Allah supaya tidak masuk dzaluman jahula, beliau tetap pegang prinsip ketika benar beliau katakan iya, ketika itu melanggar beliau katakan tidak.

“Kita sekarang membutuhkan Gus Dur – Gus Dur yang lain,” tegasnya.

Alhamdulillah, bangsa Indonesia ini punya struktur sosial yang jelas circle grouping social, ada Nahdlatul Ulama ada Muhammadiyah dan lainnya. Sedangkan di Timur Tengah tidak ada yang ada hanya suku, partai poliik dan tarekat di Afrika Utara yang merupakan struktur sosial tapi kurang mampu menjaga persatuan kesatuan mereka, oleh karena itu apabila terjadi konflik perang saudara, sulit untuk disatukan kembali.

Kiai Said juga mengajak NU untuk menyukseskan Pemilu (Pileg & Pilpres) dengan damai, aman, nyaman, dan santai.

Menyongsong 100 tahun NU ini harus mampu menghadapi tantangan, terutama, menurutnya nanti Ketua Umum yang akan datang pada Muktamar 2020.

“Menghadapi Revolusi Industri 1.0 yaitu mekanisasi air dan tenaga uap selama 125 tahun (5 generasi), kemudian memasuki Revolusi Industri 2.0 produksi massal, assembling, listrik dll, selama 75 tahun (3 generasi). Yang ketiga Revolusi Industri 3.0 Komputer, otomatisasi selama 75 tahun (3 generasi). Memasuki era sekarang Revolusi Industri 4.0, Cyber Physical System, digitalisasi, full informasi, teknologi IT, robotic (yang memiliki) kualitas lebih tinggi dan lebih cepat, online sistem ekonomi (seperti) Go Jek Grab dan tak ketinggalan NU Cash,” jelasnya.

“Kita siap memasuki Revolusi Industri 5.0,” singkatnya.

Tambahnya, Revolusi kelima yaitu mengisi kekosongan kehidupan sosial hubungan antar sesama umat manusia dan antar manusia dan Allah atau Tuhan (humanity central). Termasuk NU punya hubbul wathan minal iman.

“Kalau tidak, kalau sampai revolusi ke-4 saja, kita akan kehilangan jati diri, akan jadi masyarakat yang sekuler, liar, tidak memiliki kepribadian,” terangnya.

Semua itu dalam rangka memposisikan NU sebagai syuhada alannas, sebagai kelompok civil society yang berperan membangun masyarakat. Syuhudan Diniyan (peran agama), Syuhudan Tsaqafiyan (peran untuk kemajuan di bidang pendidikan, scientific, humanity, culture, religion), Syuhudan Hadlariyan (peran untuk kemajuan dibidang kekayaan dan ekonomi).

“Dua duanya ( tsaqafi dan hadlari) maju namanya madinah, mutamaddin, madaniyah,” pungkasnya.

Oleh karena itu NU ke depan harus percaya diri menghadapai Revolusi Industri Global (atstsaurah ash shina’iyyah al ‘alamiyah). Dan kita tahu ke depan akan lebih lagi berat dan lebih menantang.

Dalam kesempatan yang dihadiri Presiden RI dan para menteri kabinet, Kiai Said juga menginformasikan tentang Musyawarah Nasional NU pada 27 Februari s/d 1 Maret yang dihadiri struktural maupun kultural di Ponpes Al Azhar, Banjar, Jawa Barat yang akan dihadiri 10.000 ulama.

Pertama, tentang memperkuat kembali keputusan Muktamar NU tahun 1936 di Banjamasin Kalimantan Selatan. Bahwa menurut NU, Indonesia ini adalah Darussalam bukan Darul Islam, memperkuat kembali hubungan antara agama dan nasionalisme. Kedua, tentang monopoli perdagangan, karena masih ada ketimpangan dan kedzaliman. Yang ketiga, sampah plastik yang dinilai ancaman lingkungan hidup.

Terakhir, kita juga akan perkuat kembali secara sistemik dan ilmiah definisi Islam Nusantara supaya kita mampu menjawab yang tidak paham, yang belum paham, yang pura pura tidak paham dan yang tidak mau paham.

“Mudah-mudahan ke depan NU semakin bermanfaat, harus lebih berperan membangun negara Indonesia demi kejayaan kita semua. Dengan Islam Nusantara, dengan budaya dan kepribadian tipologi umat Islam Indonesia dan sekitarnya,” tutup Kiai Said. (eep)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...