Ritual Asyura; Massapusapu Ulu dan Ritual Tolak Bala

Sabtu besok (29/08) bertepatan 10 Muharram 1442 Hijriah merupakan hari Asyura. Istilah Asyura berasal dari kata asyara yang berarti angka sepuluh atau bilangan ke sepuluh. Jadi Asyura adalah hari ke sepuluh Muharram bulan pertama dalam kalender tahun Hijriah.

Disebut pula Asyura karena bertepatan Allah memuliakan sepuluh nabi, yakni pada hari Asyura Nabi Adam dimasukkan ke surga, Nabi Idris diangkat derajatnya menjadi khalilullah, Nabi Sulaiman diangkat menjadi raja, Nabi Nuh mendarat perahunya, Nabi Ibrahim diselamatkan dari api, Nabi Musa diselamatkan dari lautan dan menenggelamkan Fir’uan, Nabi Dawud diterima taubatnya, Nabi Ayub selamat dari cobaan penyakitnya yang menahun, Nabi Yunus dikeluarkan dari perut ikan dan Nabi Isa diangkat ke langit.

Asyura bukan saja dimuliakan umat Islam, tetapi juga orang-orang Quraisy di zaman Jahiliah dengan cara berpuasa. Demikian pula kaum Yahudi mentradisikan Asyura sebagai hari berpuasa. Islam kemudian menetapkan Asyura sebagai penetapan awal ritual berpuasa sebelum turun kewajiban puasa Ramadan.

Puasa Asyura tanggal 10 Muharram dapat menebus dosa satu tahun. Pahala puasa Asyura setimbang pahala 10.000 malaikat, puasa Asyura sama kedudukannya menunaikan ibadah haji dan umrah, serta kelak bagi mereka di akhirat diberi kedudukan sama dengan orang mati syahid.

Selain puasa dan karena lantaran kemuliaan Asyura yang menawarkan berbagai kebaikan, maka bagi umat Islam sengaja memanfaatkan hari ini sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dengan cara mengisi berbagai kegiatan untuk memperoleh kemuliaan dan keselamatan hidup serta keberkahan. Itu tercermin dengan munculnya ritual sekaligus tradisi membelanjakan harta di jalan Allah, menyantuni anak yatim, berzikir dan doa bersama.

Hari Berbelanja

Membelanjakan harta di jalan Allah di momen Asyura fokus untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga yang umum digunakan untuk keperluan sehari-hari. Misalnya alat-alat dapur dan perlengkapan masak-memasak, mulai dari belanga, piring, sendok, ember dan lain sebagainya. Meskipun dalam pelaksanaannya ada yang berbelanja di luar dari kebiasaan umum yakni membeli pakaian baru, kulkas dan mobil baru.

Setelah Asyura atau hari ke sepuluh Muharram berlalu, mereka sudah menganggap seperti hari-hari biasa saja. Karena itu, kegiatan masyarakat muslim pada hari Asyura sering menarik perhatian oleh pihak pedagang. Hampir di setiap pasar dan toko yang menyediakan peralatan rumah tangga ramai dikunjungi oleh ibu rumah tangga, kaum remaja, bapak-bapak maupun anak-anak.

Mereka bahkan ada yang berdatangan dari tempat-tempat yang jauh dan sangat terpencil di pelosok-pelosok desa. Dalam kegiatan tersebut mereka terkadang harus rela melakukan antrian di toko-toko maupun pasar tradisional yang menyediakan alat-alat rumah tangga. Kondisi ini terjadi lantaran mereka harus memperoleh keperluan belanja yang sama.

Masyarakat yang menyempatkan diri untuk memperoleh alat-alat rumah tangga tersebut, diyakini mendapatkan berkah. Karena telah merayakan hari Asyura secara baik menurut ajaran agama dan sudah tentu akan memperoleh keberkahan dalam kehidupan selama satu tahun itu, hingga datangnya hari Asyura kembali. Sedangkan yang tidak melakukan kegiatan belanja, tentulah berkah kebaikan yang diharapkan akan jauh dari kehidupannya.

Ritual Massapusapu Ulu

Ritual penting lainnya di Asyura ini adalah sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Saw. Siapa yang mengusapkan tangannya kepada anak yatim di hari Asyura, maka Allah Swt mengangkat derajatnya pada setiap helai rambut anak yatim itu. Hadis lain menyebutkan bahwa setiap lembar rambut anak yatim yang disantuni pada hari Asyura akan memperoleh satu ampunan (HR Abdullah bin Abbas RA).

Kontekstual hadis tersebut, terutama pada teks mengusapkan tangan ke anak yatim memang menjadi tradisi masyarakat Bugis-Makassar yang disebut ritual massapusapu ulu. Yang bermakna sebagai bagian dari upaya melakukan anjuran berlapang dada dan sejalan dengan tuntunan agama agar memberikan perhatian kepada para anak yatim piatu yang kebanyakan terlantar kehidupannya.

Namun lebih bermakna jika dibarengi dengan kegiatan penyantunan terhadap anak yatim piatu. Dengan cara memberi sumbangan sebab mengandung kemuliaan yang dapat diperoleh dengan memberikan santunan pada hari Asyura ini, antara lain bertambahnya rezeki bagi yang melakukannya.

Ritual Tolak Bala

Ritual yang tidak kalah pentingnya, adalah acara zikir dan doa khusus Asyura untuk memperoleh keselamatan dan terhindar dari cobaan-cobaan yang buruk, yang dalam tradisi tarekat acara ini dinamai sebagai ritual tolak bala.

Urutan ritual zikir dan doa Asyura adalah mengirimkan Al-Fatihah kepada Nabi Saw, membaca istighfar sebelas kali, membaca tasbih tujuh puluh kali. Setiap selesai sepuluh kali tasbih disertai doa Asyura.

Pelaksanaan ritual Asyura di internal Jam’iyah Khalwatiyah, dilaksanakan besok, Sabtu (29/08) mulai pukul 17.00 secara serentak dan berjamaah di beberapa kabupaten/kota antara lain di Gowa, Parepare, Pangkep dan Maros.

Khusus di kota Makassar dipusatkan pada empat lokasi, yakni di kediaman ketua Umum Jam’iyah Khalwatiyah, H. Anwar Abu Bakar, Jl. Bontoduri VI/16. Kediaman Dewan Pembina, H. Aziz Margianto, Kompleks Tames Jl. Monomen Emmy Saelan 3C/7. Kediaman muslimat Khalwatiyah, Hj. Lili Mas Ula, BTN Andi Tonro Permai B10/13. Kediaman jamaah, Faisal Ibrahim, Bengkel Bunga Barombong.

Acara ini terbuka untuk umum dan apat dihadiri oleh segenap masyarakat yang berkesempatan. Bagi yang ingin mengikuti ritual Asyura tersebut bisa memilih alamat terdekat dari lokasi masing-masing. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...