Rhenald Kasali: “Kita Sampai di Era Dobel Disrupsi”

Guru Besar Ilmu Manajemen FEB Universitas Indonesia Prof. Rhenald Kasali, Ph.D. menyampaikan gagasan tentang perubahan di era dobel disrupsi dalam kuliah umum Studium Generale Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.

Menurutnya, perubahan yang tengah terjadi di era disrupsi ini bersifat seperti sekuens yang saling mempengaruhi antar sektor, misalnya pada sains dan gaya hidup masyarakat.

Melalui acara yang digelar virtual tersebut, Rhenald menyampaikan pandangan mengenai pentingnya bersikap relevan dalam menanggapi perkembangan zaman.

“Lingkungan dan masyarakat global akan terus berubah, terutama pada aspek populasi dan teknologinya. Berubahnya kedua aspek tersebut menghasilkan apa yang sekarang dikenal dengan konsep World 0.0 hingga 4.0,” kata Rhenald seperti dilansir itb.ac.id.

Menurutnya, di masa depan kenaikan populasi dunia yang pesat akan mendorong kecerdasan buatan dan teknologi artifisial untuk mendominasi banyak hal. Baca juga >>

Meski demikian, Rhenald tak lupa mengingatkan akan bahaya-bahaya yang ada di baliknya, seperti berkurangnya sumber daya manusia dan pemanasan global.

Disrupsi sendiri, kata dia, yaitu inovasi yang mengakibatkan kebiasaan-kebiasaan lama menjadi usang.

“Padahal tugas kita sebagai manusia adalah untuk menjadikan hal tersebut relevan. Oleh karena itu diperlukan pembaruan kebiasaan sesuai kondisi zaman,” jelasnya.

Lebih lanjut dia mengungkapkan bahwa kondisi pandemi telah melahirkan sebuah istilah baru yang disebut dengan “dobel disrupsi”.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat terjadi karena adanya keusangan teknologi digital seperti pada aspek kecepatan dan efisiensi, yang secara tiba-tiba tidak dapat disangkal.

“Kunci dari dobel disrupsi adalah adanya lebih banyak teknologi efisien untuk menjawab ekspektasi-ekspektasi baru yang dimiliki konsumen,” lanjutnya.

Dia mencontohkan kemunculan telemedicine yang merupakan solusi dari kebiasaan baru sosial distancing pada kondisi pandemi.

“Dokter-dokter Indonesia yang dahulu enggan memberikan resep tanpa bertatap muka pun terpaksa untuk beradaptasi dengan teknologi tersebut,” kata dia.

Namun menurut Rhenald, seperti efek kartu domino era dobel disrupsi juga lambat laun akan menghasilkan tren baru.

“Kita hidup dengan teknologi yang telah lebih berkembang tetapi masalahnya, sumber daya manusia juga akan berkurang,” terangnya.

Rhenald menambahkan, terjadinya otomasi bakal menyebabkan perubahan di masa depan dunia kerja Indonesia. Berdasarkan riset, sebanyak 23 juta masyarakat Indonesia akan tergantikan oleh mesin. Misalnya dengan adanya chat bot yang dapat melayani konsumen lewat obrolan digital. Baca juga >>

Menanggapi masalah tersebut, Rhenald Kasali mengatakan masyarakat Indonesia tidak boleh menutup diri dengan perkembangan teknologi agar tidak terseret arus.

Menurutnya, inisiatif dan komitmen untuk meraih peluang juga mempunyai peran penting dalam menentukan terciptanya lapangan pekerjaan baru di masa depan.

Dia mengungkapkan ada beberapa sektor yang akan bersinar di era dobel disrupsi, seperti bioteknologi, cyber security dan logistik.

“Sekarang, mulai banyak orang berpendidikan tinggi yang belum tentu dapat bekerja. Supaya dapat bertahan, kita harus bisa memegang kendali dan menjadi seorang pemimpin, mulai dari diri sendiri,” tandas Rhenald.

#rhenaldkasali #dobeldisrupsi #teknologi

Baca Lainnya
Komentar
Loading...