Refleksi Nuzulul Qur’an: Maknai Pengulangan Iqra’

Dalam rangka memperingati Nuzulul Qur’an, Pemprov Jawa Timur menyelenggarakan Khotmil Qur’an Kubro Online 2020 kali bersama Gubernur Jawa Timur, Forkopimda, 17 Bupati Walikota dan 4.000 hafidz/hafidzah se Jawa Timur pada 16 Ramadhan 1441 Hijriah atau Sabtu 9 Mei 2020.

Acara ini dilengkapi dengan tausiyah online oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar selaku imam besar masjid Istiqlal Jakarta. Dalam tausiyahnya, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar merefleksikan kembali pentingnya pemahaman sejarah Nuzulul Qur’an.

Ayat yang pertama kali Allah turunkan dalam al-Qur’an dalah Iqra’. Iqra’ adalah fi’il amr dan tidak ada kitab suci yang tampil pertama dengan diawali fi’il amr selain al-Qur’an.

Hal ini sangat menarik karena fi’il amr Iqra’ ditujukan kepada seseorang belum bisa membaca dan menulis, yaitu Rasulullah Saw. yang saat itu disebut ummi. Selain itu, biasanya setelah fi’il amr selalu diikuti oleh maf’ul.

Namun, dalam konteks ini fi’il amr tidak dikenai objek, sampai Rasulullah bertanya sebanyak empat kali saat turunnya perintah Iqra’. Meskipun saat itu ada objek yang dibaca, namun sangat susah sekali karena wahyu turun di tengah malam yang gelap gulita di dalam gua hira’ dan Nabi Saw. dalam keadaan yang buta huruf.

“Proses penurunan wahyu pertama ini, Allah memerintahkan Nabi Saw. sampai empat kali. Iqra’, Iqra’, Iqra’ Bismi robbik, Iqra’ wa robbukal akrom,” tutur Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.

Proses penyampaian wahyu oleh malaikat Jibril, mustahil jika dalam kata-kata yang disampaikan tidak ada makna yang terkandung. Perintah Iqra’ sampai empat kali pun memiliki makna yang sangat fundamental.

Arti Iqra’

Arti Iqra’ yang pertama mengajak manusia untuk melakukan kesadaran sensorial. Iqra’ kedua adalah kesadaran intelektual atau tafakkur yang meliputi bagaimana cara berpikir dan belajar. Iqra’ yang ketiga adalah kesadaran emosional atau tadzakkur, yang meliputi cara memahami. Dan Iqra’ yang keempat adalah puncak yaitu kesadaran spiritual.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mengilustrasikan empat makna Iqra’ dengan pohon kelapa. Iqra’ pertama seperti sebuah foto pohon kelapa yang indah dipandang, biasanya hal ini disukai oleh turis-turis mancanegara karena di negara asalnya tidak ada pohon kelapa.

Artinya dalam Iqra’ pertama ini, seseorang hanya sampai pada level takjub dalam memandang pohon kelapa tersebut tanpa ada pemaknaan yang mendalam.

Iqra’ yang kedua mengajak seseorang untuk sedikit berpikir bahwa pohon kelapa tidak hanya indah dipandang, namun memiliki fungsi dan manfaat yang sangat banyak seperti sapu lidi, makanan, minuman, alat-alat rumah tangga semua bisa dibuat dari pohon kelapa. Disini seseorang menyadari bahwa dari akar sampai buah dari pohon kelapa ada manfaatnya, selaras dengan firman Allah pada QS. Ali Imran ayat 191:

…..رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Jadi jika kita masih membaca dan menghafal tanpa paham maknanya maka kita hanya sampai pada level yang pertama.

Iqra’ yang ketiga menghadirkan sisi emosional dari pohon kelapa. Contohnya, pohon kelapa ini selain memiliki manfaat yang sangat banyak ternyata yang menanam adalah almarhum guru di pesantren. Jadi ketika kita melihat pohon kelapa yang menjulang tinggi tersebut otomatis ingat dengan almarhum guru tersebut. Artinya ketika kita sudah sampai pada Iqra’ ketiga, kita memiliki ikatan emosional dengan al-Qur’an, seperti merasa aneh jika tidak membaca dalam satu hari atau seringkali di bulan Ramadhan ini tidak terasa telah mengkhatamkan al-Qur’an lebih dari satu kali.

Iqra’ yang terakhir digambarkan dengan siapa yang sebenarnya tampil pada pohon kelapa ini? Hal ini terjawab ketika melihat firman Allah pada QS. al-Baqarah ayat 115.

وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَاَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ١١٥

Artinya: “Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Mahaluas, Maha Mengetahui.”

Artinya, ketika menatap pohon kelapa ini terbesit dalam pikiran bahwa Allah lah yang berkuasa di balik adanya pohon kelapa ini.

Maka yang terbaik bagi kita kedepan tidak hanya berhenti pada level pertama yaitu dapat membaca, menghafal dan melagukan al-Qur’an. Namun perlunya penghayatan makna-makna al-Qur’an, kemampuan berkomunikasi secara emosional dengan al-Qur’an dan yang paling puncak adalah menyadarkan kita secara spiritual siapa sebenarnya dibalik alam semesta ini.

Penulis: Risma Savhira D. L. (Sekretaris PK MATAN UIN Sunan Ampel Surabaya, Koor. Srikandi PC MATAN SURABAYA, Pengurus LKAS PW RMI NU Jawa Timur, Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Sunan Ampel Surabaya)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...