Puasa Sebagai Ibadah Instruktif dan Konstruktif

Pertama penulis terinsipirasi oleh tulisan dari Prof. Dr. Muhtadi Ridwan M.A. dengan tulisan yang berjudul “Puasa Ajaran Universal”. Dengan mengangkat judul tentang sebuah ibadah yang bersifat mahdhah, abah Muhtadi memaparkan beberapa konsep puasa dalam perspektif keberagaman massa, agama, dan asbabul wurudnya (alasan) diperintahkan menjalankannya.

Dengan keberagaman tersebut membuat puasa ini tidak hanya diperuntukkan saklek pada satu golongan. Namun peranan puasa juga diperuntukkan bagi setiap umat manusia, dalam hal ini perbedaan mungkin hanya terletak atas dasar niat dan juga tata cara menjalankannya.

Tulisan saya tidak akan membahas apakah kondisi tersebut dibenarkan atau tidak, dan mencari siapa yang paling benar dalam melakukan ibadah puasa, karena hemat penulis tidak untuk memberikan justifikasi atas hal tersebut, namun lebih mengenalkan bagaimana sebuah ibadah ini (puasa) memiliki fungsi yang sangat bermanfaat dalam memberikan pengaruh positif untuk segenap insan manusia.

Selanjutnya kita kutip dari hujjah Al Quran sebagai ajaran agama islam yang membahas tentang perintah melaksanakan puasa, yaitu dalam surat Al Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dengan ayat tersebut Tuhan memberikan perintah secara fardhu (ain) dan yang dipanggil (munada) adalah orang-orang yang beriman, untuk diwajibkan berpuasa seperti yang telah diwajibkan atas orang orang terdahulu.

Mungkin konteks ini yang menjadi kenapa puasa tidak hanya diwajibkan atas umat Islam semasa turunnya wahyu. Namun juga secara universal diperintahkan sebelum turunnya wahyu dalam surat ini.

Dan kewajibannya atas ayat selanjutnya “أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ dengan waktu waktu yang telah ditentukan. Maka bisa dimaknai bahwa ketetapan atas puasa yang diwajibkan itu sesuai dengan waktu yang diperintahkan. Dan alasan yang konkrit atas perintah tersebut adalah supaya menjadi manusia yang bertaqwa.

Selaras dengan uraian diatas, ada sebuah sinergitas antara konsep instruktif yang Allah swt berikan kepada umat manusia dengan fungsi konstruktif atas perintah tersebut kepada manusia itu sendiri.

Menukil dari penjelasan KBBI bahwa instruktif adalah persifatan perintah dan konstruktif adalah persifatan membina, memperbaiki dan membangun. Maka ajaran puasa tersebut selain juga perintah untuk dilaksanakan umat manusia, juga sebagai proses membina dan memperbaiki diri.

Banyak hal yang melatarbelakangi kenapa puasa dijadikan alasan guna menjadi sebuah telaga pembersihan dan pembenahan atas diri manusia. Dalam kitabnya Kyai Ali Maksum yang berjudul Risalatus Shiyam, menerangkan tentang beberapa hikmah diwajibkannya puasa, diantaranya adalah sebagai berikut,

Pelaku puasa akan lebih dekat dengan sifat-sifat terpuji, jelas saja ini menjadi langkah orang yang berpuasa untuk membenahi diri kepada perilaku perilaku yang baik.

Yang kedua adalah puasa dapat membersihkan dan menjernihkan jiwa pelakunya dari sifat kebinatangan. Dengan esensi puasa yang menjadi penahan dari segala perilaku yang membatalkannya, seorang yang berpuasa akan lebih terlatih menahan nafsu berupa ketamakan, egoisme dan sebagainya.

Ketiga adalah puasa dapat menjaga kesehatan tubuh karena perut adalah sumber penyakit. Dimaksudkan karena tubuh dilatih untuk tidak mengkonsumsi dalam kurun waktu mulai fajar hingga terbenam matahari.

Dengan berbagai macam manfaat dan keutamaan puasa, bisa saja menjadikan alasan seseorang melakukan puasa disamping karena memang sebagai perintah yang wajib atau kalau saya mengambil istilah ushul fiqh adalah “ Iijab” sebagai perintah yang wajib untuk dijalankan kepada orang mukallaf.

Puasa juga memiliki nilai konstruktif yang amat besar dalam membangun karakter umat manusia. Karena kalau manusia diibaratkan sebuah software atau aplikasi, maka diperlukan sebuah upgrade guna menyesuaikan dengan kondisi dirinya yang semakin berkembang. Juga dengan kondisi sosial karena manusia adalah makhluk sosial seperti yang dinamakan sang filsuf Aristoteles sebagai “Zoon Politicon”.

Konklusi atas keuniversalan puasa memang terletak dari keberagaman tata cara dan rule game sesuai dengan ajaran masing masing. Namun hasil akhir akan bermuara sebagai upaya membenahi atau merefresh manusia ke arah nilai positif.

Kontributor: Yazid Nur Rohman Wakid (MATAN UIN Malang)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...