Puasa ala Sufi

Puasa bagi kaum sufi bukan hanya soal menahan haus dan lapar, karena itu cuma sekadar menahan atau mengurangi kebutuhan fisik.

Puasa bagi sufi lebih dari itu, menahan diri dari pandangan, ucapan, maupun pendengaran yang menutup mata batinnya.

Puasa ala sufi bukan saja menunaikan kewajiban syariat, di mana secara fisik harus menahan diri dari makan, minum dan keinginan seksual. Tapi juga pemenuhan batin menuju level makrifat hingga hakikat.

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi, seorang sufi yang juga ahli hadits, menjelaskan dalam “Lathaifal-Isyarah” bahwa puasa itu ada dua macam: puasa lahir dan puasa batin.

Puasa lahir hanya menahan lapar dan haus serta hal-hal yang membatalkannya.

Sementara puasa batin adalah puasa hati nurani (qalbu) dari segala penyakitnya, puasa jiwa (ruh) dari segala bentuk kenyamanan dan ketenangan; dan puasa sirr dari segala bentuk pengawasan.

Menurut Al-Qusyairi, siapa yang puasanya sekadar menahan sesuatu yang membatalkan, maka akhir puasanya adalah ketika berbuka, saat magrib.

Tapi siapa yang puasanya menahan diri dari berbagai macam selain Allah (al-aghyar), maka puncak puasanya adalah dengan menyaksikan Al-Haqq.

Maka itu, Al-Qusyairi membagi orang berpuasa menjadi dua kategori.

Pertama, orang yang menyambut bulan Ramadhan kemudian ia berpuasa karena Allah.

Ia berhak mendapatkan pahala karena puasanya, kendatipun puasanya sekadar menegakkan aspek lahiriah semata. Memenuhi syarat dan rukunnya.

Kedua, puasa batiniah. Ia akan berpuasa bersama Allah dan akan mendapat kedekatan (al-qurbah) bersama Allah.

Ia tidak berpuasa untuk sekadar memenuhi syarat dan rukunnya saja, tapi lebih dari itu, ia berpuasa lebih hakiki bersama Allah.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...