Prospek Cerah Bertani Porang

Dahulu, porang dipandang sebelah mata oleh para petani. Komoditas ini belum sepopuler ubi, singkong atau talas yang biasa dikonsumsi masyarakat. Namun siapa sangka, porang kini menjadi umbi-umbian idola para petani karena pangsa pasarnya yang menggiurkan: ekspor.

Porang atau dalam bahasa latin disebut amorphophallus muelleri blume merupakan tanaman umbi-umbian yang memiliki banyak keunggulan. Selain rendah kalori dan juga bebas gula, porang bisa diolah menjadi berbagai bahan makanan hingga bahan kosmetik.

Komoditas ini sekarang sudah banyak dibudidayakan di sejumlah wilayah. Porang dinilai sebagai produk yang menjanjikan dan memiliki masa depan cerah.

Sampai-sampai Presiden Joko Widodo menitip pesan kepada para petani milenial di Madiun Jawa Timur, agar tidak hanya mampu menggarap lahan pertanian semata tapi juga bisa mengolah porang hingga pascapanen.

Kepala Negara mendorong para petani bisa mengolah umbi porang menjadi barang jadi seperti keripik, tepung, dan lain sebagainya.

Saat berkunjung ke PT Asia Prima Konjac, pabrik pengolahan porang di Kabupaten Madiun, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, Jokowi sempat berdialog dengan perwakilan petani porang.

Adalah Yoyok Triyono, dia petani muda porang generasi ketiga di rumahnya.

Yoyok mengikuti jejak kakek dan ayahnya menjadi petani. Di depan Jokowi Yoyok bercerita tentang bagaimana menggiurkannya prospek bercocok tanam porang. Karena itu, banyak anak muda yang tertarik menggelutinya.

“Petani milenial, petani muda di desa kami, mungkin juga di wilayah Madiun, kalau zaman dulu lulus sekolah cari kerja di kota. Kalau sekarang tidak, lulus sekolah jadi petani porang, tiga tahun berjuang bertani porang, setelah tiga tahun bawa pulang mobil,” ujar Yoyok bercerita.

Yoyok mulai menanam porang tahun 2010 dan awalnya hanya memiliki lahan seluas 0,3 hektare, warisan dari ayahnya. Sekarang, luas lahan yang dimilikinya telah mencapai 3 hektare.

Menurutnya, porang adalah komoditas yang sangat menjanjikan karena tidak hanya umbinya saja yang laku. Porang juga cukup mudah untuk ditanam.

Senada dengan Yoyok, petani porang yang lain Didi Kuswandi bercerita, dulu menjadi petani itu cita-cita pelarian saja, tapi hari ini semua berbondong-bondong ingin menjadi petani porang.

Selain mudah ditanam dan mudah dipelihara, porang juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Seorang petani dari lereng Gunung Wilis, Warsito, bercerita bahwa dari satu hektare lahan ia bisa memperoleh 15 hingga 20 ton umbi porang dalam rentang waktu tanam 8 bulan. Jika dirupiahkan kurang lebih senilai Rp 35-40 juta.

Bagaimana, tertarik bertani porang?

#porang #petani #kosmetik

Baca Lainnya
Komentar
Loading...