Peristiwa Penting Apa Yang Menjadikan Bulan Syaban Mulia?

Datangnya bulan Sya’ban menandai semakin dekatnya bulan Ramadhan. Bulan Sya’ban ini termasuk bulan mulia yang keberkahannya sudah masyhur dan kebaikan di dalamnya yang berlimpah.

Bulan ini bisa dikatakan sebagai bulan yang baik untuk bertobat dan melatih ketaatan. Dalam Kitab Madza fi Sya’ban, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al Maliki berkata, “Siapa yang bersungguh-sungguh melatih diri di bulan Sya’ban, maka dia akan sukses ketika bulan Ramadhan, buah dari pembiasaannya.”

Dinamakan Sya’ban karena banyaknya kebaikan yang bercabang darinya (yatasya’abu minhu al khair). Sya’ban bisa berasal dari kata syi’b yang artinya jalan atau celah di gunung, maksudnya Sya’ban itu jalan kebaikan. Juga bisa berasal dari kata sya’b yaitu jabara yang berarti memperbaiki atau memulihkan, maksudnya Allah memperbaiki kerusakan qalbu seseorang di bulan Syaban.

Abuya Al Maliki juga menuturkan dalam kitabnya tersebut bahwa di bulan Syaban ada peristiwa-peristiwa yang penting yang patut jadi perhatian dan renungan. Bulan Sya’ban dimuliakan sebagai bentuk ta’dzim kepada Allah yang telah menciptakannya bukan memuliakan bulan itu secara langsung.

Lalu apa saja peristiwa penting yang menjadikan bulan Sya’ban mulia?

Pertama, Perubahan Kiblat

Di bulan Sya’ban inilah kiblat yang awalnya menghadap Baitul Maqdis berubah menghadap ke Ka’bah di Masjidil Haram Kaum muslimin pada saat itu shalat menghadap Baitul Maqdis sekitar 17 bulan 3 hari. Allah memerintahkan untuk menghadap kiblat pada Selasa, Nishfu Sya’ban.

Foto: Neale LaSalle.

“Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu.” (Surah Al-Baqarah: 144).

Kedua, Bulan Diangkatnya Amal

Diantara keistimewaan bulan ini ialah diangkatnya amal seorang muslim. Diangkat amal untuk diperlihatkan dan ditunjukkan kepada Allah Swt.

Dalam hadits dari Usamah bin Zaid, “Wahai Rasulullah aku belum pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?

Rasul menjawab, itu bulan yang terletak antara bulan Rajab dan Ramadhan serta banyak orang lalai padanya. Dialah bulan diangkatnya amal kepada rabbil ‘alamin (Tuhan Pemelihara alam raya). Aku senang amalku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa,” (HR. An Nasa’i).

Kendati demikian, bukan berarti pengangkatan amal hanya terjadi di bulan Sya’ban, karena dalam beberapa hadis lain disebutkan bahwa pengangkatan amal itu terjadi dalam beberapa waktu. Ada pengangkatan amal secara harian baik siang dan malam, ada pengangkatan amal pekanan. Yang jelas dalam setiap pengangkatan amal atau dilaporkannya amal memiliki hikmah yang berbeda.

Ketiga, Ditentukannya Umur

Bulan ini juga bulan ditentukannya ajal seseorang. Namun mesti diingat sejatinya perbuatan dan keputusan Allah tidaklah ditentukan oleh waktu dan tempat. Bisa saja penentuan umur itu ditetapkan di Bulan Sya’ban, bisa juga tidak.

لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. (Surah Asy-Syura: 11).

Diceritakan dalam hadis dari Sayidah Aisyah, bahwa Nabi berpuasa di bulan Syaban secara penuh, wahai Rasulullah, bulan yang paling engkau sukai untuk berpuasa adalah bulan Syaban.

Nabi bersabda, sesungguhnya Allah mencatat di bulan Syaban setiap diri yang mati di tahun itu (dicatat ajalnya), maka aku suka datangnya ajalku sedangkan aku dalam keadaan berpuasa, (HR. Abu Ya’la). Karena itu pula Nabi memperbanyak puasa di bulan Syaban ini.

Keempat, Bulan Turunnya Ayat Perintah Bershalawat

Keistimewaan lain bulan Syaban ialah turunnya ayat untuk bershalawat kepada Rasulullah Saw.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. (Surat Al-Ahzab: 56)

Kelima, Sya’ban Bulan Al Qur’an

Di sebagian atsar disebutkan bahwa dinamai Sya’ban juga sebagai Syahrul Qur’an (bulannya Al Qur’an). Meski Al Qur’an dituntut untuk dibaca di setiap waktu, namun ada waktu-waktu yang memang lebih ditekankan untuk dibaca seperti di bulan Ramadhan dan Sya’ban.

Foto: Tayeb Mezahdia.

Ibnu Rajab menuturkan, diriwayatkan dari sanad yang lemah, dari Anas Ra, Ia berkata, kaum Muslimin ketika memasuki bulan Syaban sibuk dan tekun dengan mushafnya masing-masing untuk dibaca dan mereka mengeluarkan zakat harta untuk menguatkan dhuafa dan orang miskin berpuasa di Bulan Ramadhan.

Bulan Syaban ini juga disebut sebagai Syahrul Qurra’ (bulannya para pembaca al Qur’an). Amr bin Qais tatkala masuk bulan Syaban dia tutup tokonya dan mengosongkan waktunya khusus untuk membaca Al Qur’an.

Dalam Lathaiful Ma’arif karya Ibnu Rajab Al Hambali, Hasan bin Sahl berkata: “Wahai Tuhanku, Engkau menjadikanku diantara dua bulan yang agung, maka apa bagian untukku,” kata Bulan Sya’ban. Allah menjawab: “Kujadikan untukmu (bulan) Qiraatul Qur’an (membaca Al Qur’an).”

Bahkan, Syekh Ahmad Hijazi rahimahullah menyatakan bahwa kaum salafus shalih menyambut bulan Syaban dengan membaca Al Qur’an.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...