Pemimpin Informal di Era Virtual, Ini Cirinya

Pemimpin informal terkadang lahir karena suatu kondisi tertentu, salah satunya karena pandemi Covid-19. Mereka diangkat secara informal oleh rekan-rekan kerjanya, meskipun tanpa mengabaikan pimpinan formal.

Ambil contoh, orang-orang yang mampu mengelola transisi virtual di kantor mereka selama pandemi.

Ketika atasan mereka disibukkan dengan masalah-masalah strategis. Mereka mengambil kekosongan itu untuk mengatur diri mereka sendiri. Walhasil, situasi seperti ini melahirkan pemimpin informal.

Dengan kepiawaian melakukan transisi ke arah virtual, mereka berhasil mencairkan ketegangan di perusahaan akibat tidak bisa menjalankan aktivitas perusahaan konvensional.

Ternyata, kehadiran para pemimpin informal ini dikonfirmasi oleh sains dengan hasil sejumlah penelitian.

Ilmuwan dari beberapa universitas di dunia melakukan sejumlah studi. Selama pandemi Covid-19 yang mengakibatkan penguncian di sejumlah wilayah, mereka berusaha menguji teori tentang bagaimana lingkungan yang berbeda menghasilkan pemimpin yang berbeda.

Misalnya, teori mengatakan bahwa dalam kantor konvensional pemimpin biasanya mencakup orang-orang dengan karakter karismatik, inovatif dan ekstrovert.

Sebaliknya, dalam kantor virtual, pemimpin yang muncul adalah mereka orang-orang dengan keterampilan organisasi yang baik dalam lingkungan baru tersebut.

Penelitian menyoroti setidaknya 5 ciri munculnya pemimpin di era virtual, yaitu:

1. Dia mampu mendeteksi dan menyelesaikan semua masalah

Problem solver tampaknya jarang menjadi karakter dari kepemimpinan konvensional. Mereka lebih sering mempelajari masalah lalu mencari seorang spesialis untuk menyelesaikannya.

Hal itu bisa dilakukan dalam situasi kantor yang normal dengan suasana tatap muka, tidak ada yang stress karena takut menekan tombol lift atau untuk rapat dengan rekan kerja.

Sebab penelitian menunjukkan bahwa telekonferensi (virtual) membuat banyak orang stres. Akibatnya, pemimpin yang dibutuhkan justru mereka yang bisa mengelola transisi ini dengan mulus.

Mereka mampu mencari titik stres utama, kemudian menghilangkannya. Mereka adalah para profesional yang mampu membuat segala sesuatu berjalan nyaman.

2. Dia mampu mengkoordinasikan rapat, teknologi dan agenda

Komunikasi virtual tidak sesederhana kelihatannya. Dalam lingkungan kantor konvensional, orang bisa berkomunikasi menggunakan berbagai metode.

Tetapi ketika semua komunikasi bersifat virtual, maka diperlukan komunikasi yang lebih teratur. Secara psikologis, keberhasilan interaksi online memang membutuhkan organisasi yang baik. Misalnya, dalam pemilihan teknologi yang harus bisa dipahami secara umum untuk menghilangkan kesalahpahaman.

Metode-metode untuk melacak apa yang dikomunikasikan juga diperlukan. Selain itu, diskusi harus diformalkan untuk memastikan tidak kontraproduktif. Nah, orang yang paling mampu mengkoordinasikan semua ini akan mempengaruhi agenda perusahaan.

3. Dia mampu melacak jadwal dan tenggat waktu (deadline)

Pimpinan konvensional jarang melacak jadwal dan tenggat waktu para bawahannya. Mereka biasanya hanya menetapkan jadwal kemudian menyerahkan tanggung jawab kepada manajer proyek atau staf.

Ketika semua dilakukan secara virtual, maka kemampuan melacak jadwal dan tenggat waktu atau deadline adalah bagian dari proses memimpin.

4. Dia menetapkan tugas-tugas

Ini sama seperti yang juga dilakukan para pemimpin konvensional: menetapkan tugas. Tapi caranya berbeda.

Pemimpin konvensional cenderung mendelegasikan pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

Tapi dalam sistem kerja virtual seringkali tugas diberikan kepada siapa pun yang bisa menyelesaikannya dengan cara terbaik.

Misalnya, tutorial untuk kolega yang menggunakan platform tertentu bisa saja dibuat oleh siapa pun yang mengerti teknologi. Tidak harus ahli IT yang membuatnya.

Bagaimanapun, penelitian menunjukkan bahwa pemimpin adalah orang yang mampu membuat tugas. Tidak masalah apakah tugas itu untuk ahli atau untuk siapa saja.

5. Dia memberikan umpan balik (feedback) yang dibutuhkan

Sistem kerja virtual membuat nuansa kerja lebih kolaboratif. Dalam kantor tatap muka umpan balik biasanya tidak memerlukan jadwal yang ketat. Tapi dalam rapat virtual dibutuhkan perhatian yang lebih dan segera.

Karenanya, anggota rapat cenderung membuat feedback yang efisien, yang dapat memicu perbaikan dengan segera.

Penelitian dari studi ini menemukan bahwa feedback yang lebih sering dalam sistem kerja virtual akan menimbulkan penghargaan terhadap rekan kerja. (Sumber: Forbes)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...