Pembangunan, Kelestarian Lingkungan dan Keserakahan

Apakah pembangunan selalu identik dengan kerusakan lingkungan? Bukankah tujuan pembangunan itu untuk kesejahteraan dan kebahagiaan? Kenapa pembangunan dan kelestarian alam seolah-olah menjadi dua hal yang bertentangan?

Keduanya bisa berjalan beriringan, bukan? Kecuali karena keserakahan.

David Attenborough, naturalis dan sejarawan yang terkenal karena film-film dokumenternya tentang alam liar, meramalkan bahwa hutan tropis Amazon dan Kalimantan bakal hilang pada 2030. Bayangkan, tanpa hutan tropis yang menyerap karbon, efek rumah kaca akan makin menyengat.

Sementara pada tahun 2040, es di kutub akan meleleh habis yang bakal meruntuhkan daratan kutub yang terkelupas sambil melepaskan gas metana ke atmosfer, dan secara dramatis mempercepat pemanasan global.

Terumbu karang diperkirakan akan punah pada tahun 2050 akibat laut yang memanas. Tanpa terumbu karang sebagian besar spesies ikan juga akan punah.

Dan yang lebih bahaya lagi, pada tahun 2100 dia memprediksikan suhu bumi akan 4 derajat Celcius lebih panas. Artinya, membuat sebagian besar muka bumi tak bisa di huni oleh manusia.

Kenapa demikian? Karena selama kurang dari satu abad manusia telah mengubah bentang alam bumi dan menghancurkan keragaman hayatinya dengan sangat dramatis. Itulah dampak ke depan yang harus dibayar mahal.

Apakah masih ada kesempatan untuk memperbaikinya? “Masih ada kesempatan,” kata Attenborough.

Tapi pria berusia 93 tahun itu berpesan, pertumbuhan jumlah manusia bukanlah satu-satunya faktor yang merusak alam. “Gaya hidup dan keserakahanlah, justru faktor yang lebih dominan,” kata Attenborough dalam sebuah video dokumenter tentang perjalanan karirnya yang diberi judul: “A Life on our Planet: My Witness Statement and Vision for the Future”, ditayangkan oleh Netflix beberapa waktu lalu.

David Attenborough. Foto: telegraph.co.uk.

Saat ini, Attenborough mungkin orang yang paling otoritatif bicara tentang Planet Bumi. Dia pernah menerobos lebatnya hutan tropis Amazon dan Kalimantan, mengarungi gurun Sahara dan savana Serengeti Afrika, menyelami terumbu karang lepas pantai Australia, hingga menjejakkan kakinya di padang es Kutub Utara serta Selatan.

Dia telah berkarir sepanjang 60 tahun sebagai sutradara dan produser di Televisi BBC Inggris. Selama itu, dia telah memproduksi puluhan film dokumenter tentang alam.

Apa yang bisa dilakukan umat manusia?

Salah satu yang diusulkan Attenborough adalah mengubah paradigma pembangunan dari mengeksploitasi alam menjadi bekerjasama dengan alam.

Menurut dia, peningkatan standar hidup dapat mengurangi laju pertumbuhan penduduk, sebab penduduk di negara makmur cenderung memiliki lebih sedikit anak.

Tapi, kemakmuran itu tidak boleh dicapai dengan mengabaikan atau bahkan merusak alam dan lingkungan. “Manusia tak seharusnya terpisah “apart” dari alam namun harus menjadi bagian “a part” dari alam.”

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan? Pertama: gaya hidup harus lebih ramah lingkungan dan alam. Misalnya, beralih dari energi fosil ke energi terbarukan. Kedua: mengembalikan sebagian hutan dan keragaman hayatinya. Ketiga: manusia mengubah pola konsumsi dan aktivitasnya; Keempat: beralih dari pertanian monokultur ke sumber pangan yang beragam; Kelima: mengalokasikan kawasan bagi suaka flora dan fauna di darat maupun laut.

Role Model

Sejumlah negara bisa dijadikan role model terkait tindakan penyelamatan bumi yang dihuni manusia di masa depan. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Maroko.

Negeri yang terletak di Afrika Utara itu, kini hampir sepenuhnya tergantung pada energi surya, bahkan berpotensi menjadi pengekspor energi terbarukan itu ke negara lain di Benua Eropa dan Afrika.

Maroko membangun pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia pada tahun 2018 yang memasok listrik bagi 1,1 juta rakyatnya.

Pembangkit listrik itu dibangun di lahan seluas 30 kilometer persegi di wilayah luar kota Ouarzazate, di pinggiran gurun Sahara.

Kompleks Noors, nama lokasi pembangkit itu menggunakan teknologi Concentrating Solar Powers (CSP) dan menggunakan panel fotovoltaik. CSP berbeda dengan fotovoltaik, CSP memungkinkan menyimpan energi untuk malam dan hari berawan.

CSP menggunakan cermin untuk memfokuskan cahaya matahari dan memanaskan cairan, yang dicampur dengan air hingga mencapai suhu hampir 400°C. Uap yang dihasilkan dari pemanasan itulah yang mendorong turbin untuk menghasilkan tenaga listrik.

Megaproyek itu sudah dirintis sejak tahun 2013 dan secara resmi diluncurkan oleh Raja Maroko Mohammed VI. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi emisi karbon sebesar 700 ribu ton per tahun.

Selain Maroko, beberapa negara di kepulauan Pasifik juga membuat peraturan pelarangan penangkapan ikan di kawasan terumbu karang.

Seperti yang diberlakukan di Pulau Kayangel, wilayah negara kepulauan Palau, yang terletak di Samudera Pasifik. Kayangel adalah pulau Atol yang dikelilingi oleh gugusan terumbu karang.

Pulau Kayangel. Foto: coralreefpalau.org.

Di pulau ini ada aturan khusus, yakni pengunjung atau wisatawan dilarang mengambil ikan karang, kerang, kepiting dan biota laut lainnya. Bagi yang hobi memancing atau non komersil terdapat lokasi khusus di daerah yang tidak ada terumbu karangnya (non reef).

Belakangan, Palau juga melarang penggunaan tabir surya dalam penyelaman di kepulauan ini, karena dianggap bisa membawa racun yang berbahaya bagi terumbu karang.

Dampak pelarangan tersebut justru telah meningkatkan populasi ikan dan menumbuhkan industri perikanan.

Indonesia dan Omnibus Law

Masalah Indonesia adalah jumlah penduduknya yang sangat besar, artinya pembangunan diperlukan untuk mempercepat peningkatan standar hidup. Bahanya lagi, pembangunan selalu identik dengan pembangunan fisik belaka dengan segala kepentingan material di belakangnya.

Lahirnya Undang-Undang Omnibus Law mencuatkan isu itu, dimana investasi akan lebih dipermudah sementara peraturan tentang kelestarian lingkungan agak longgar atau cenderung diabaikan.

Mengutip Mongabay, Herry Purnomo, peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR) menjelaskan soal tingginya risiko bagi lingkungan di balik efisiensi investasi dan kemudahan berusaha yang ditawarkan oleh UU Cipta Kerja.

Senada dengan itu, Ketua Tim Kampanye Hutan Greenpeace, Arie Rompas juga mengatakan, banyak pasal dalam omnibus law yang bisa mempercepat deforestasi. “Kondisi ini, terlihat (salah satunya) dari perubahan Pasal 18 ayat 2 Undang-undang Nomor 41/1999 tentang Kehutanan dalam UU Cipta Kerja,” jelasnya.

Ayat yang berbunyi “luas kawasan hutan yang harus dipertahankan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) minimal 30% dari luas daerah aliran sungai dan atau pulau dengan sebaran yang proporsional” itu mengalami perubahan signifikan. Batasan minimal 30% kawasan hutan itu dihapus dalam UU Cipta Kerja.

Meskipun Attenborough tidak sedang membahas soal Omnibuslaw dalam tayangan dokumenternya belakangan ini, tapi dia mengingatkan kita dengan keras bahwa pertumbuhan ekonomi dan investasi yang mengabaikan kelestarian alam justru akan menjerumuskan kita menuju bencana, bagi kita dan anak-anak cucu kita.

Benar kata Mahatma Gandhi bahwa, “Dunia ini cukup untuk semua orang, tapi tidak akan cukup untuk (melayani) keserakahan.”

Indonesia dengan keragaman hayatinya terlalu kaya untuk sekadar memenuhi kehidupan penduduknya, tapi pasti tidak akan cukup untuk memenuhi hasrat keserakahan segelintir orang saja.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...