Optimisme, antara Raja’ dan Khauf

Ketika sudah memasuki tahun baru, mestinya kamu optimis dan berharapan baik. Sebab kalau kamu pesimis apalagi terlalu takut dan khawatir berlebihan akan sangat tidak baik untuk kehidupanmu. Selain tak sejalan dengan nilai Islam, pesimisme juga buruk untuk kesehatanmu. Jadi tetap optimis ya.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, optimisme itu dalam bahasa Arab disebut dengan raja’. Raja’ dalam arti harapan, yakni rasa optimisme seseorang setelah melakukan aneka ketaatan dan berusaha menghindarkan diri dari segala larangan secara maksimal. Harapan inilah yang amat positif dan perlu kamu pegang.

Berbeda dengan raja’, ada juga harapan dalam arti angan-angan yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan Al tamanna, namun konotasinya negatif. Al tamanna itu kamu mengisi waktu hanya untuk berkhayal dan berangan-angan tetapi tanpa diiringi usaha yang kongkrit. Harapan semacam ini tidak dianjurkan, bahkan Nabi Saw mencela orang-orang yang sibuk hanya melamun kosong tapi tak berani ambil keputusan, hanya bermimpi tapi tak bertindak.

Sebagaimana sabdanya, “sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah mengumbar hawa nafsu dan panjang harapan. Mengumbar hawa nafsu akan menutupi kebenaran dan panjang harapan akan melupakan akhirat”.

Rasul juga mengingatkan agar kita selalu punya prasangka yang baik kepada Allah Swt. Dalam hadis disebutkan:

“Aku ada sebagaimana dalam prasangka hamba-Ku. Aku bersamanya jika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah kumpulan orang banyak, maka Aku mengingatnya dalam kumpulan orang banyak yang lebih baik dari itu. Jika ia mendekati-Ku sejarak satu jengkal, Aku mendekatinya sejarak satu hasta. Jika ia mendekati-Ku sejarak satu hasta, Aku mendekatinya sejarak sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang padanya dengan berlari.” (HR. Bukhari).

Kata raja’ bisa juga berarti takut, seperti firman Allah Swt, “Mengapa kamu tidak takut akan kebesaran Allah?” (QS. Nuh, 13).

Menurut kalangan sufi, pengharapan ialah menggantungkan qalbu pada sesuatu yang dicintai agar terjadi di masa yang akan datang. Raja’ bisa juga diartikan dengan kepercayaan atas kemurahan Yang Maha Pemurah. Jadi pada saat kamu optimis, artinya kamu mendekatkan hati dengan kelemah lembutan Tuhan, menyenangkan hati dengan adanya janji baik atau hidup dengan hati penuh harapan. Jadi raja’ itu lebih ditekankan pada memandang luasnya rahmat Allah Swt.

Namun, optimisme atau raja’ ini tidak akan terwujud tanpa disertai rasa takut (khauf). Sebagaimana rasa takut tidak akan terwujud tanpa disertai harapan (raja’). Keduanya laksana sepasang sayap yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Burung tidak dapat terbang baik dengan satu sayap. Harapan tanpa rasa takut hilang esensinya. Sedangkan rasa takut tanpa harapan akan melahirkan putus asa dari rahmat Allah. Itu sebabnya para ahli hakikat menyebut raja dan khauf seperti sepasang suami istri yang saling bekerjasama.

Idealnya, jika pekerjaan telah tuntas ditunaikan, ketaatan sudah dijalankan, dan larangan sudah ditinggalkan maka perasaan atau mood seseorang akan penuh optimisme. Sebaliknya, jika pekerjaan belum tuntas, ketaatan masih terbatas, dan dalam diri dosa masih menghias, maka perasaan takut (khauf) lah yang akan mendominasi. Jangan sampai kamu merasa raja’ padahal kewajiban belum terlaksana dan banyak berlumur dosa. Atau jangan juga kamu merasa takut (khauf) padahal sudah taat dan menghindari maksiat. Jadi keduanya mesti ada secara bersamaan dalam diri kamu. Raja’ yang berarti optimis dan khauf yang berarti takut mesti kamu kelola secara seimbang. Dengan begitu kamu bisa sukses menjalankan peran kamu baik sebagai hamba Allah maupun Khalifatullah.

Penulis: Saepuloh

Baca Lainnya
Komentar
Loading...