Nasehat Imam Ghazali Untuk Pembaca dan Pengkaji Al Qur’an

Imam Ghazali dalam karyanya Minhajul Arifin dalam bab Al Qira’ah memberi pesan kepada pembaca al Qur’an dengan mengutip surah an Nahl ayat 98-100.

“Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.”

“Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan.”

“Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah.”

Imam Al Ghazali seakan ingin menegaskan bahwa adab pertama sebelum membaca al Qur’an ialah memohon perlindungan kepada Allah dari setan.

Ulama yang bergelar hujjatul Islam ini juga seperti ingin mengingatkan kepada kita untuk selalu mewaspadai setan. Agar kita tidak salah dalam membaca al Qur’an, tidak lalai untuk mentadabburi dan memikirkan kandungan serta isinya.

Pesan ini tentu sangat relevan untuk semua pecinta, pembaca, pengkaji, peneliti, serta setiap orang yang berusaha menyelami makna dan kandungan al Qur’an. Karena meski yang dibaca ataupun dikaji al Qur’an, masih ada kesempatan setan untuk memberi pengaruh buruk terhadap hasil bacaan atau kajian bahkan lalai dalam menerapkannya.

Penulis kitab Ihya Ulumiddin ini juga seakan ingin menyatakan bahwa setan tak mampu memberi pengaruh buruk selama kita beriman dan bertawakkal kepada Allah Swt.

Hal ini selaras dengan surah Shad ayat 82-83 yang menyatakan;
“(Iblis) menjawab, “Demi kemuliaan-Mu, pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih di antara mereka.”

Karena setan hanya berpengaruh kepada mereka yang menjadikannya sebagai pimpinan dan menyekutukan Allah Swt. Sehingga dari sini sangat penting bagi kita untuk memperhatikan adab batin sebelum membaca al Qur’an.

Ulama asal Iran ini kemudian melanjutkan dengan mengutip surah al hajj ayat 4 yang menyatakan; “(Tentang setan), telah ditetapkan bahwa siapa yang berkawan dengan dia, maka dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke azab neraka.”

“Ingatlah ikrar dan perjanjian Allah kepadamu dalam wahyu dan firman-Nya. Perhatikan saat bagaimana engkau membaca kitab dan firman-Nya, maka tartilkanlah bacaannya dan tadabburilah isinya.
Berhentilah saat membaca ayat tentang janji, ancaman, perumpamaan, nasehat, perintah, larangan serta muhkam dan mutasyabihnya. Sungguh aku khawatir penerapanmu terhadap hukum-hukum-Nya (hudud) adalah kelalaian dari pengabaianmu terhadap batasan-batasan-Nya (hudud),” ungkap ulama sufi bermadzhab Syafii tersebut.

Ulama yang wafat pada tahun 1111 M ini kemudian mengakhirinya dengan mengutip surah al A’raf ayat 185.

فَبِاَيِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ

“Lalu berita mana lagi setelah ini yang akan mereka percayai?”

Pertanyaan ini seakan menyinggung kita, setelah apa yang dibawa dan disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw melalui pesan dan kandungan al Qur’an ini. Maka kitab mana lagi yang akan kita percayai yang datang dari sisi Allah Swt?

Baca Lainnya
Komentar
Loading...