Mukhlish dan Mukhlash

Dalam beribadah, ikhlas merupakan kata kunci agar perbuatan baik seseorang berbalas pahala dan keberkahan dari Allah Swt.

Kebaikan yang tampak di mata banyak orang belum tentu menjadi kebaikan di mata Allah Swt, kenapa? Karena bisa jadi di dalam hati terbesit tujuan yang merusak keikhlasan.

Dalam fenomena sehari-hari, di tengah pandemi Covid-19 yang melanda dunia ini, banyak sekali kita saksikan orang-orang baik berlomba berbagi bantuan.

Mereka berbagi, lalu mengabadikan kegiatannya dan meng-upload-nya di media sosial miliknya, lalu teman-teman atau follower-nya mengomentarinya.

Salah? Tentu saja tidak. Namun tetap harus berhati-hati, terutama terkait dengan potensi terbesitnya sifat riya’ dari dalam hati. Lebih-lebih, jika mempublikasikan kegiatan berdonasi tersebut justru menyinggung perasaan orang-orang yang menerima.

Di dalam al-Qur’an ada dua istilah untuk menggambarkan keikhlasan seorang muslim, yaitu mukhlish dan muhkhlash.

Mukhlis adalah orang yang berupaya untuk berbuat ikhlas, artinya dalam proses perbuatannya itu bisa saja setan membelokkan niatnya yang awal.

Sedangkan mukhlash adalah orang yang mendapatkan anugerah sifat ikhlas dari Allah Swt, dia ‘diikhlashkan’ oleh-Nya, karena itu setan pun sulit mengganggunya.

Sebagaimana firman Allah, “Iblis berkata: ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlash di antara mereka,” (QS. al-Hijr: 39-40).

Orang yang mukhlash sudah pasti mukhlish, tapi orang yang mukhlis belum tentu mukhlash. Mukhlash adalah derajat tertinggi bagi manusia yang ikhlas.

Untuk mencapai level mukhlashin atau orang-orang mukhlash, seorang mukhlish harus terus menerus melatih dirinya (mujahadah), diuji terus-menerus keikhklasannya dalam segala amal dan perbuatannya (istiqamah).

Seorang ulama besar, Syekh Muhammad Nawawi Al-Bantany dalam kitabnya “Nashaihul ‘Ibad” membagi ikhlas pada 3 level:

Pertama, merupakan level paling tinggi, yaitu membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk, di mana tidak ada yang diinginkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian atau like, harta dan sebagainya.”

Kedua, di level kedua, orang yang beramal melakukan amalannya karena Allah, namun di balik itu ia berkeinginan agar dengan ibadahnya tersebut kelak di akhirat ia mendapatkan pahala yang besar dari Allah.

Beribadah dengan niat dan motivasi seperti ini saja masih dikategorikan sebagai ikhlas level dua, meskipun dibolehkan, mengingat Allah dan Rasul-Nya sering memotivasi hambanya untuk melakukan amalan tertentu dengan balasan pahala akhirat.

Ketiga, di level ini orang melakukan perbuatan karena Allah namun dengan tujuan agar diberikan imbalan duniawi, seperti kelapangan rezeki dan terhindar dari hal-hal yang menyakitkan di dunia.

Contohnya, orang salat dhuha motivasinya agar diluaskan rezekinya. Rajin salat malam harapannya mendapatkan kemuliaan di dunia, membaca istighfar banyak-banyak agar dimudahkan mendapatkan keturunan, dan lain sebagainya. Meski begitu, ini masih disebut orang ikhlas walaupun level terendah.

Di luar tiga level itu, misalnya beribadah tapi berharap agar dipuji. Mencari ilmu tapi berharap dihormati sebagai orang alim. Bersedekah tapi dibalik itu berkepentingan agar terpilih sebagai kepala daerah atau wakil rakyat.

Nah, yang demikian ini menurut Syekh Nawawi termasuk sikap riya’, bukan ikhlas.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...