Metamorfosis Kupu-kupu

Salah satu tujuan dari proses metamorfosa serangga seperti kupu-kupu adalah menghindari terjadinya persaingan untuk mendapatkan makanan pada tahap kehidupan yang berbeda-beda.

Metamorfosa menjadi semacam strategi untuk bertahan hidup bagi populasi serangga, karena ulat yang merupakan cikal bakal kupu-kupu memakan makanan yang berbeda dengan kupu-kupu. Ulat mengunyah daun yang kaya nutrisi, sementara kupu-kupu hanya hanya perlu menyesap nektar bunga.

Pada akhirnya, orang tua dan keturunan mereka tidak bersaing untuk mendapatkan makanan, hal ini memungkinkan kedua tahap kehidupan (ulat dan kupu-kupu) berkembang secara mandiri. Bermetamorfosis adalah cara mereka mempertahankan populasi.

Kupu-kupu merupakan salah satu serangga yang mengalami metamorfosa secara sempurna atau holometabolisme. Ia berkembang dalam empat tahap: telur, larva (ulat), pupa (kepompong) dan dewasa.

Yang paling mencolok dari metamorfosis sempurna yaitu penampilan dan perilaku larva dari larva dewasa begitu sangat berbeda. Coba lihat perbedaan ulat dan kupu-kupu. Perilakunya sangat berbeda. Ulat memakan dedaunan dengan rakusnya seolah besok tidak ada hari lagi. Sementara kupu-kupu hanya mencecap nektar bunga sedikit saja.

Pada serangga yang mengalami metamorfosis tidak sempurna, larva atau disebut dengan nimfa. Banyak di antara mereka, seperti belalang atau capung, yang nimfanya terlihat dan berperilaku seperti serangga dewasanya hanya saja dalam versi kecil.

Apa hikmah dari semua itu?

Bila kita renungkan, setidaknya ada tiga hikmah yang dapat kita ambil dari kehidupan kupu-kupu.

Pertama, saat masih menjadi ulat ia tampak selalu merugikan dan menebar kerusakan setiap hinggap pada tanaman, keberadaan ulat ditakuti oleh yang melihatnya. Tapi kemudian, ulat berubah menjadi kepompong dan berdiam diri untuk beberapa lama. Ini semacam perilaku muhasabah dan pertobatan di dalam kepompong.

Apa pelajaran yang bisa diambil. Seorang Muslim hendaknya mampu merefleksikan diri dengan bermuhasabah dan bertobat atas segala perbuatan yang menyakiti orang lain.

Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (totalitas),” (QS. 66: 8).

Kedua, kehadiran kupu-kupu dengan keindahan warna-warninya (setelah berada di dalam kepompong sekian lama), mampu memberikan kegembiraan bagi orang lain.

Tingkah lakunya pun sungguh mulia, ia hinggap di dahan namun tidak pernah mematahkannya. Ia juga selalu menebarkan benih-benih bunga ketika hinggap dari satu bunga ke bunga yang lain. Kupu-kupu senantiasa memberikan manfaat bagi alam sekitarnya.

Ketiga, meski waktu menjadi ulat tampak seperti serangga yang rakus memakan dedaunan, ketika menjadi kupu-kupu ia hanya makan sari bunga atau nektar. Sumber makanan yang baik dan bergizi.

Seorang muslim, memang seharusnya hanya memakan makanan yang halal dan baik, sehingga yang dikeluarkan pun merupakan kebajikan.

Allah Swt berfirman, “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,” (QS 2: 168).

Demikianlah Allah Swt. mengajarkan umat manusia dengan pertanda-pertanda yang ada di alam semesta (ayat kauniyah), termasuk dari serangga kupu-kupu. Tak lain, tujuannya adalah agar manusia bisa belajar dan mengambil hikmah untuk menjalani kehidupan yang lebih baik dan bermanfaat.

“Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka,” (QS 3: 191).

Dalam situasi pandemi Covid-19 sekarang, manusia juga bisa belajar dari kupu-kupu, yakni harus mampu bermetamorfosis dalam segala hal untuk tetap bisa bertahan dan melanjutkan hidup yang lebih baik dan bermanfaat di masa depan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...