Mereka yang Lahir di era Internet, Tumbuh di Masa Pandemi

Ketika banyak pekerjaan konvesional tiba-tiba menghilang, para mahasiswa di Amerika ini menggunakan kecerdikan mereka untuk menemukan cara baru mempertahankan hidup.

Bekerja sambil kuliah bukanlah hal baru bagi para mahasiswa yang menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Menurut temuan analisis dari Universitas Georgetown, ada sekitar 70 persen mahasiswa memiliki berbagai jenis pekerjaan. Sebagaimana dikutip dari nytimes.com.

Ketika pandemi Covid-19 melanda pada awal semester musim semi lalu, ada sekitar sepertiga mahasiswa yang kehilangan pekerjaan konvensional mereka, menurut penelitian Temple University’s Hope Center for College, Community and Justice.

Namun, justru kemudian banyak dari mereka yang menjadi kreatif dan inovatif. Mereka memanfaatkan ekonomi digital yang tumbuh di sekitar mereka, yang mungkin langkah ini masih merupakan mimpi saat mereka kuliah.

Seorang mahasiswa baru di Texas State University kehilangan pekerjaannya sebagai bartender dan barista ketika pandemi Covid-19 merebak. Sekarang dia akhirnya berjualan mi ramen instan dan makanan panggang yang dia buat sendiri di dapurnya.

Lalu, ada juga mahasiswa senior di Vassar College yang sebelumnya bekerja magang, tapi kemudian tidak cukup untuk membuat ia dan keluarganya aman secara finansial. Ia kemudian memulai bisnis membaca tarot online.

Seorang mahasiswa senior lainnya di Stanford yang dulu bekerja di perpustakaan kampusnya sampai perpustakaan itu ditutup. Sekarang memiliki pekerjaan dengan start-up marketplace storage yang meniru model Airbnb.

Berjualan Mi Ramen
Foto Raymond Cabrera.

“Wortel, seledri, bawang merah dan bawang putih itu dimasukkan ke dalam pasta putih, kemudian dipanggang di dalam oven, memberi rasa lebih pada mi ramen instan,” kata Raymond Cabrera sambil memotong-motong sayuran di dapur apartemen kecilnya di San Marcos, Texas.

Setelah kehilangan pekerjaan pada bulan Maret lalu, ia kini mengisi hari-harinya dengan banyak ide, dan tentu saja dibantu dengan video dari YouTube.

“Dari situlah saya mendapatkan ide untuk ramen,” kata Cabrera, 23 tahun, seorang mahasiswa junior yang baru saja pindah ke Texas State University.

Ia memuji video serial YouTube seperti Bon Appétit yang populer dengan “Gourmet Makes” sebagai inspirasi untuk membuat dan menjual ramen instannya, sesuatu yang memang pernah dia impikan sebelumnya.

Cabrera untuk sementara ini menjual ramen instannya ke sebuah coffee shop, dan berharap suatu hari bisa menjualnya di farmer’s markets.

Kemasannya pun sederhana: hanya wadah plastik berisi kaldu buatannya, dihaluskan dengan bumbu tambahan, serta mi mentah yang dibeli di toko.

Coffee shop membayarnya seharga 1 dollar per wadah, dan dia biasanya menghasilkan sekitar 50 wadah sekaligus dan akan membuat lebih banyak lagi sesuai dengan permintaan toko.

Undang-undang tentang makanan rumahan di Texas memang mengizinkan penduduk untuk menjual makanan tertentu yang mereka buat di rumah tanpa harus memiliki izin dari negara negara bagian.

Pandemi semakin mendorong Cabrera untuk mulai membuat kue dan brownies yang memiliki manfaat kesehatan. Ia lalu menjualnya kepada kerabat dan teman dengan harga sekitar 5 hingga 10 dollar.

Cabrera mengatakan, sebetulnya dirinya telah memenuhi syarat untuk mendapat kompensasi sebagai pengangguran mulai bulan April, tetapi bantuan itu tidak cukup untuk menanggung banyak kebutuhan saat dia mengejar gelar sarjana di bidang komunikasi.

Memang ada ada kabar baik, ketika bos lamanya mengatakan dia bisa kembali ke pekerjaan sebagai barista dengan bekerja empat atau lima malam dalam seminggu. Cabrera bersyukur, tetapi dia mungkin masih berencana untuk mempertahankan bisnisnya.

Membuat Lilin Beraroma

Courtney Brunson, 20 tahun, awalnya berencana untuk bekerja sebagai penasihat tetap di kampus Clemson University selama musim panas, tetapi segera setelah dia pulang lebih awal ke Florence, S.C., pada bulan Maret lalu, rencananya gagal semua akibat pandemi. Dia adalah seorang mahasiswa jurusan manajemen.

Orang tuanya kemudian mendorongnya untuk berinovasi, akhirnya dia memutuskan untuk membuat lilin beraroma dan menjualnya. Ia berharap ke depan bisa mendirikan toko.

Mendapatkan Pekerjaan di Start-up Online
Foto: Theo Charusi.

Theo Charusi, seorang mahasiswa senior berusia 22 tahun jurusan sains dan teknologi di Universitas Stanford, mengatakan dia mungkin mengalami “tekanan lebih dari rata-rata mahasiswa.”

“Tidak ada yang terbuka atau hampir tidak terbuka, dan tidak ada yang mempekerjakannya,” kata Charusi, “Jadi Anda harus kreatif untuk menemukan cara menghasilkan uang.”

Ketika pekerjaan perpustakaan kampusnya hilang, Charusi bekerja untuk platform online bernama Stache, yang dia sebut “Airbnb untuk storage,” yang dimulai beberapa tahun lalu oleh seorang temannya.

Platform ini menghubungkan orang-orang yang mencari penyimpanan yang terjangkau dengan orang-orang yang menyewakan sebagian dari rumah atau garasi mereka untuk ruang penyimpanan.

Sejak ibunya kehilangan pekerjaan di perusahaan makanan, dia pun harus mengirimkan sekitar 800 dollar sebulan ke rumahnya, di mana dia masih merawat dua saudara yang berusia 4 dan 8 tahun.

“Ini membuat stres,” katanya, “tetapi saya merasa banyak orang berada di posisi yang lebih buruk, jadi saya beruntung dalam arti bahwa saya masih mendapat kesempatan bekerja.”

Membuat pakaian dan masker, jual lewat Instagram

Seorang mahasiswa tingkat dua yang belajar biologi di Texas A&M University, Sweat, 19 tahun, mengatakan bahwa dia telah membuat kaus, T-shirt, dan masker untuk siswa di lebih dari 30 sekolah, ia menghasilkan sekitar 2.000 dollar pada pertengahan Agustus lalu.

Dia menjalankan bisnis terutama melalui Instagram. Masker masing-masing seharga 7 dollar atau 11 dollar dapat dua.

Saat memulai bisnis, dia sebetulnya masih menunggu kabar tentang posisi sebagai mentor di kampus yang dia lamar.

“Saya pernah mengalami saat-saat saya di perguruan tinggi di mana saya khawatir tentang buku, biaya, dan semua hal lain kebutuhan kuliah,” kata Sweat.

“Pada saat itu, saya akan menelepon Ibu dan kakek nenek saya menangis, seperti, ‘Saya tidak tahu harus berbuat apa.’ Jadi saya pikir itu adalah beban bagi mereka, dan saya tidak ingin selalu mengkhawatirkan mereka karena tidak memiliki uang.”

Ahirnya dia membeli bahan di sebuah toko grosir di Houston. Lalu dia mengerjakan sekitar 15 hingga 20 produk, mempersiapkannya untuk diambil atau dikirim sambil melampirkan kartu ucapan terima kasih yang dipersonalisasi.

Musim gugur ini, dia akan memindahkan bisnisnya dari meja ruang makan milik ibunya di Pearland, Texas, ke apartemennya di College Station. Meski begitu, dia masih menunggu informasi terkait pekerjaan mentoringnya.

Generasi wirausaha

Sara Cochran, seorang profesor di departemen manajemen dan kewirausahaan di Sekolah Bisnis Kelley Universitas Indiana mengatakan, kecerdikan yang ditunjukkan para mahasiswa selama pandemi menunjukkan kenapa “generasi ini harus disebut sebagai generasi wirausaha.”

Dia mengatakan, masa-masa sulit dalam sejarah sering kali menguntungkan mereka yang memiliki pola pikir untuk melihat peluang, di mana sementara orang lain melihat kekacauan dan kebingungan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...