Menyiapkan Tahun Ajaran Baru di Tengah Pandemi

Pemerintah Indonesia menyatakan, tidak ada pemunduran jadwal awal tahun ajaran baru kendati pandemi Covid-19 masih berlangsung.

Artinya, penerimaan murid baru tetap akan dilakukan secara daring dan luring (luar jaringan) atau bertemu langsung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Sejumlah sekolah tetap mendirikan posko-posko Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan alasan tidak semua masyarakat terhubung ke internet.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menetapkan tahun ajaran baru 2020/2021 dimulai 13 Juli, namun kemungkinan besar pembelajaran masih tetap akan dilakukan dari rumah karena belum juga mereda pandemi Covid-19.

Aturan yang tertuang dalam Keputusan Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) DKI Jakarta Nomor 467 Tahun 2020 tersebut hanya mengatur tentang tahun ajaran baru. Sementara, untuk kebijakan belajar di sekolah merupakan kewenangan gubernur.

Jadi, sekolah dari rumah kemungkinan besar masih akan terus diterapkan, sampai Covid-19 benar-benar dipastikan mereda. Entah sampai kapan.

Pemerintah sendiri sampai saat ini masih menyusun panduan belajar dari rumah jika nanti penerapannya butuh waktu yang panjang, serta panduan belajar di sekolah pada masa new normal.

Sambil menunggu, panduan di bawah ini cukup membantu para orang tua saat mendampingi anak-anak belajar dari rumah di masa pendemi yang panjang ini. Panduan dikutip dari guruberbagi Kemdikbud.

Pertama, Membuat jadwal dan aturan bersama

Orangtua sejatinya adalah guru bagi anak-anaknya. Para guru di sekolah bertugas menggantikan peran orangtua. Jadi, ketika anak belajar atau sekolah dari rumah seharusnnya tidak menimbulkan masalah.

Namun demikian, tetap butuh kerja sama yang baik antara guru sekolah dan orangtua dalam kegiatan belajar mengajar dari rumah. Ingatkan anak tentang aturan dan jadwal yang akan dibuat bersama dan menjadi tanggung jawab bersama untuk mengikutinya.

Membantu bukan berarti membuatkan, tapi memberi kesempatan bagi anak dengan mendiskusikan jadwal mereka sendiri serta memberinya tanggung jawab untuk melaksanakannya setiap hari.

Tulis dan tempelkan jadwal kegiatan yang telah dibuat dibuat di tempat yang mudah terlihat.

Kedua, Ide kegiatan

Bantu anak-anak dengan ide kegiatan mereka. Misal, dengan meminta mereka menyebutkan beberapa hal yang bisa dilakukan selain mengerjakan tugas dari sekolah.

Misalnya, kegiatan rutin seperti mandi, sarapan, dan shalat. Atau kegiatan Fisik seperti olahraga ringan, menyapu halaman, membersihkan rumah atau kamar sendiri, membersihkan alat pribadi eperti mencuci piring dan gelas setelah makan.

Kegiatan Lain misalnya, membaca buku, bermain musik, menulis buku harian, bermain games, dan membantu orang lain.

Ketiga, Komunikasi positif

Bangun hubungan positif dengan anak-anak dan selalu bertanya dengan positif terutama ketika anak akan memulai sebuah kegiatan. Misalnya, apa yang bisa dibantu?

Penting bagi orangtua menanyakan apa yang bisa dibantu sehingga membangun hubungan positif dengan anak. Namun, membantu anak bukan berarti mengerjakan semua pekerjaan yang seharusnya dikerjakan anak.

Bantulah anak memahami apa yang seharusnya dikerjakan dengan membaca kembali tugas dari sekolah. Jika kesulitan, orangtua dapat menghubungi gurunya untuk meminta penjelasan tugas dimaksud.

Keempat, Ingatkan waktu dan Introspeksi

Ingatkanlah selalu jadwal kegiatan dan waktu yang akan, sedang dan telah dilakukan anak.

Ada sejumlah kegiatan yang terkadang tidak bisa berjalan sesuai rencana, jika demikian bisa dilakukan revisi jadwal, sehingga target belajar anak tetap bisa tercapai.

Lakukan instrospeksi karena orang tua juga bukanlah orang yang serba tahu. Ini agar mengingatkan bahwa semua orang di rumah perlu terus menerus belajar. Banyak cara bisa dilakukan orang tua untuk belajar. Dengan membuka internet, bertanya pada guru, atau teman-teman anaknya.

Teknologi informasi tentu amat berguna, seperti WhatsApp Group, Classroom, dan lain sebagainya.

Kelima, Refleksi dan Relasi

Orangtua bisa melakukan refleksi dengan anak-anak mereka secara santai atau informal. Misalnya ketika sarapan atau makan bersama, atau menjelang tidur. Bicarakan tentang apa yang sudah mereka kerjakan seharian itu.

Jika ada check list kegiatan yang harus mereka isi, bantu mereka untuk melengkapinya sebelum hari berakhir.

Pertanyaan-pertanyaan semisal, “Bagaimana perasaanmu hari itu?”, “Apa yang sudah berhasil dilakukan dan apa yang belum berhasil?” “Apa yang membuat senang, sedih, kesal atau bahagia?”

Dengarkan curhat cerita mereka. Beri pujian untuk capaian yang dilakukan dan berikan masukan jika diperlukan.

Dalam Islam, orang tua atau tepatnya ibu adalah sekolah pertama (madrasatul ula) bagi anak-anaknya. Orang tua adalah guru yang sesungguhnya. Sebab itu, situasi Covid-19 ini dapat disyukuri karena pendidikan anak-anak kembali kepada para orang tuanya.

Namun, tidak semua orang tua mampu menjadi guru. Inilah tantangannya, bukan saja anak-anak, orang tua pun akhirnya dituntut untuk kembali belajar. Belajar menjadi guru yang baik bagi anak-anaknya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...