Menyemai Tradisi Bahtsul Masail Di Kalangan Santri

TANGERANG – Demi menyemai tradisi bahtsul masail di kalangan santri, Lembaga Bahtsul Masail Madrasah Darus-Sunnah (LBM MDS) Ciputat menggelar Bahtsul Masail Pondok Pesantren se-Jabodetabek. Bertempat di Aula lt. 3 (Aula Kiai Idris Kamali) Gedung Baru Pesantren Darus-Sunnah, Pisangan Barat, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (9/3).

Acara yang diadakan dalam rangka peringatan haul ke-III Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA diikuti oleh delegasi dari puluhan pondok pesantren di Jabodetabek. Turut hadir pula beberapa pesantren undangan di luar Jabodetabek. Di antaranya ialah Ponpes Kempek Cirebon, Ponpes al-Muhajirin Purwakarta, dan Ponpes Qotrotul Falah Lebak.

Tepat pada pukul 08.30 WIB, acara dibuka langsung oleh Ustadz Zia Ul Haramein, Lc., M.Si. Dalam sambutannya beliau mengapresiasi antusiasme santri-santri pesantren di Jabodetabek untuk memenuhi undangan mengikuti bahtsul masail.

“Semoga bahtsul masail ini dapat ditradisikan oleh pesantren-pesantren di Jabodetabek sebagaimana tradisi yang sudah mapan di pesantren Jawa-Madura,” ucap Khadim Ma’had Darus-Sunnah tersebut.

Putra dari almarhum Kiyai Ali Mustafa Yaqub tersebut menyatakan bahwa bahtsul masail sangat penting sebagai wadah silaturahmi intelektual di kalangan santri.

Selama tiga jam berlangsung, para peserta membahas masalah hukum pengurus masjid (marbot) memarahi anak kecil yang ramai di dalam masjid. Para peserta bahtsul masail melihat bahwa di satu sisi, marbot masjid memiliki tanggung jawab menjaga ketenangan masjid supaya jamaah tidak terganggu kekhusyukannya. Di sisi lain, orang tua yang juga sebagai jamaah masjid berkeinginan untuk mengajari dan membiasakan anaknya beribadah di masjid. Meskipun panitia menyediakan tiga soal yang akan dibahas, tetapi sampai kumandang azan Zuhur hanya satu soal yang yang dapat diselesaikan.

Usai shalat jamaah, bahtsul masail tersebut diakhiri dengan acara penutupan. Asep Jamaluddin delegasi dari Pondok Pesantren Al-Awwabin Depok dalam testimoninya mengaku bangga dan terpacu untuk lebih giat lagi menggeluti kitab kuning. Menurutnya, bahtsul masail pada hari ini membuka matanya bahwa permasalahan agama harus dipelajari dan dipahami secara mendalam. Ia juga menyebut, tak cukup hanya mendengarkan ceramah singkat di sosmed saja.

Dalam sambutan penutupnya, Ustadz Dr. Muhammad Shofin Sujito, MA berharap forum bahtsul masail seperti ini juga diadakan oleh pesantren-pesantren lain di Jabodetabek. “Semakin banyak pesantren yang berinisiatif mengadakan bahtsul masail, maka santri akan mendapatkan wahana untuk mengasah kemampuannya memberikan jawaban-jawaban solutif bagi problematika yang terjadi di masyarakat. Sudah barang tentu dengan jawaban yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah,” terang Kepala Ma’had Darus-Sunnah tersebut.

Ustadz Muhammad Hanifuddin menyebut, bahwa acara bahtsul masail tersebut sebagai sebuah ikhtiar untuk mengakarkan kajian kitab kuning di kalangan santri ibukota. Menurutnya, “peran dan sumbangsih pesantren tidak akan maksimal tanpa penguasaan santri dalam kitab kuning dan kepiawaiannya mendialogkan dengan ilmu pengetahuan kontemporer dan realita di masyarakat,” tutur pembina LBM MDS tersebut.

Selesai acara penutupan, dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan ramah tamah. (Eep)

Baca Lainnya
Komentar
Loading...