Mengubah Sampah Cangkang Telur Menjadi Ubin

Bagi sebagian besar orang, banyak benda di sekitar kita dipandang sebagai sampah belaka. Namun bagi seorang kreator benda-benda itu bisa menjadi bernilai. Cangkang telur, salah satunya.

Desainer Hong Kong Elaine Yan Ling Ng, berhasil mengubah sampah cangkang telur menjadi ubin untuk dinding, hasil kreativitasnya memiliki nilai seni tinggi.

Elaine merupakan seorang desainer interior di Hong Kong yang di-hire oleh rumah desain bernama ‘Nature Squared’ di Inggris. Rumah desain ini memang selalu mengutamakan desain yang sustainable dan ramah lingkungan.

Setiap tahun ada sekitar 250 ribu ton limbah cangkang telur ayam diproduksi di seluruh dunia dan sebagian besar berakhir di tempat pembuangan sampah. Itulah alasan Eleine memanfaatkan limbah cangkang telur ini untuk membuat desain ubin yang dinamakan dengan “Carrelé”, koleksi ubin dinding yang berkelanjutan secara ekologis. Baca juga >>

Elaine sebenarnya terinspirasi oleh penggunaan limbah kulit telur dalam dunia medis dan gigi. Carrelé kemudian diciptakan oleh Elaine, yang saat ini baru saja diangkat sebagai kepala inovator material di Nature Squared.

Ubin cangkang telur merupakan proyek pertama Elaine dari sederet proyek serupa yang akan memanfaatkan bahan alam seperti sarang rayap, rumput dan biji-bijian, dan bahkan batuan, untuk menjadi bahan konstruksi yang sustainable (berkelanjutan).

Elaine berpendapat, jika sampah biologis yang bersifat padat itu cukup baik untuk industri medis, artinya bahwa ia memiliki kekuatan dan stabilitas yang hebat. Dengan sedikit perubahan formula, sifat-sifat cangkang telur tersebut membuatnya dapat digunakan juga pada industri lain seperti arsitektur.

Butuh dua tahun bagi Elaine untuk mengkreasikan kulit telur menjadi ‘Carrelé’. Nama tersebut merupakan gabungan dari kata Perancis untuk ubin dan simbol periodik untuk kalsium.

‘Carrelé’ sudah diproduksi di pabrik Nature Squared yang terletak di Cebu Filipina. Pabrik tersebut mengumpulkan sekitar 3.000 kulit telur organik dari toko roti lokal, dapur, dan lainnya. Kulit-kulit telur tersebut dihancurkan di pabrik lalu dikombinasikan dengan bahan pengikat, dan dikeringkan pada suhu kamar untuk membuat ubin berukuran satu meter persegi.

“Kita cenderung mengasosiasikan kulit telur dengan kerapuhan, tetapi sebenarnya ia sangat kuat dan tahan sinar UV secara alami,” kata Elaine yang juga merupakan alumni Central Saint Martins di bidang tekstil, dikutip wallpaper.com.

Menurutnya, kulit telur juga menyerap warna alami secara berkelanjutan dengan cara yang menarik, menjadikannya sebagai bahan bangunan yang luar biasa.

“Kami menggunakan pewarna alami seperti nila, madder, dan klorofilin,” kata Elaine.

Menurut dia, ubin yang mudah dibersihkan itu dapat diaplikasikan ke dinding, termasuk di area basah seperti kamar mandi dan dapur sekalipun. Elaine punya rencana untuk memperluas produknya tersebut untuk ubin lantai.

“Saya suka visualnya yang tak terduga,” kata Lay Koon Tan, yang mendirikan ‘Nature Squared’ bersama Paul Hoeve pada tahun 2000. Tan mengatakan, bentuk ubin kulit telur tersebut mengingatkannya pada teraso. “Tapi jelas, ini bukan teraso,” katanya. Baca juga >>

Carrelé tidak hanya cantik dilihat maupun disentuh. Tapi ia juga mewakili pendekatan desain arsitektur yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

“Dengan kulit telur, kebanyakan orang melihatnya sebagai sampah, tetapi saya melihatnya taman bermain tanpa akhir dan sumber daya tanpa batas,” kata Elaine.

Selain kulit telur saat ini ia juga sedang bereksperimen dengan kulit kerang yang, seperti telur, merupakan biokeramik dan penyerap CO2. Setiap tahun, sekitar tujuh juta ton kulit kerang dihasilkan oleh industri makanan laut.

Semua desainer tentu saja pasti kreatif. Tapi tidak semua mampu menerapkan kreativitasnya dalam kesadaran sosial dan lingkungan yang lebih luas. Itulah yang dilakukan Elaine. Ia mendesain sesuatu untuk kebaikan yang lebih besar, bukan hanya sebagai keindahan dan fungsi semata.

#ubin #cangkangtelur #sampah

Baca Lainnya
Komentar
Loading...