Mengintip “Smart Kampung” Banyuwangi

Kabupaten Banyuwangi kerap mendapat penghargaan terkait tata kelola pemerintahan yang mengedepankan Teknologi Informasi (IT), salah satunya program “Smart Kampung”.

Berkat program Smart Kampung, kini Kabupaten Banyuwangi menjadi satu dari 25 kabupaten/kota yang tengah didampingi oleh pemerintah pusat untuk menerapkan konsep Smart City.

Sejak 2017 kota yang dijuluki sebagai “Sunrise of Java” itu, dipilih oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan 25 daerah lain melalui seleksi yang melibatkan Kemenkominfo, Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi), dan Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi).

Istilah “Smart Kampung” merupakan istilah Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, yang sebetulnya memiliki arti yang sama dengan Smart City. Hanya saja, karena Banyuwangi merupakan sebuah kabupaten maka istilah yang digunakan adalah Smart Kampung.

View this post on Instagram

Reposted from @banyuwangi_kab – Banyuwangi menjadi kabupaten terbaik layanan sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE). Hasil penilaian tersebut diserahkan Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin kepada Bupati Banyuwangi Azwar Anas, Kamis (28/3) . Banyuwangi mendapatkan indeks sebesar 3,43 dari skala 5 atau yang tertinggi di kategori kabupaten seluruh Indonesia. Banyuwangi terus berbenah memperbaiki kinerja terutama menyempurnakan sistem elektronik baik pada administrasi pemerintahan, pelayanan publik, kesejahteraan. Pemanfaatan IT bagi Banyuwangi bukan pilihan tapi keharusan, karena geografis daerah yang luas, penuh keterbatasan, anggaran, SDM, dan waktu. Muaranya adalah kepuasan masyarakat terhadap kinerja dan layanan pemerintah daerah. Penghargaan ini untuk semua orang yang telah bekerja keras membangun Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE) para developer aplikasi dan jaringan hingga perangkat desa yang mendigitalisasi data seluruh warga sampai di pelosok desa. @jusufkalla @h.syafruddin_ @kemenpanrb @azwaranas.a3 #Banyuwangi #pemerintah #kabupaten #government #inovasi #smartkampung #malpelayananpublik #award #aplikasi #indonesia #informatika #jusufkalla #bupatibanyuwangi #abdullahazwaranas – #regrann

A post shared by Dispora Banyuwangi (@disporabanyuwangi) on

Banyuwangi merupakan kabupaten terbesar di Jawa Timur. Jarak merupakan salah satu problem dalam tata kelola pemerintahan yang harus dihadapi masyarakat pedesaan. Ke mana-mana mereka membutuhkan waktu rata-rata 3 jam. Dengan konsep Smart Kampung problem jarak bisa dipecahkan.

“Orang bisa mengurus KTP cuma 10 menit saja dengan IT,” kata Bupati Anas.

Konsep Smart Kampung yang diterapkan di Banyuwangi juga memanfaatkan media sosial. Dengan media sosial anggaran belanja daerah bisa ditekan. Ia mencontohkan, pariwisata Banyuwangi yang sekarang melejit dipromosikan lewat media sosial.

Seperti apa konsep Smart Kampung?

Konsep ini dikembangkan oleh Pemda Banyuwangi sejak 2016, dikarenakan 87 persen wilayah Kabupaten Banyuwangi terdiri dari perkampungan.

Program Smart Kampung didasarkan pada Peraturan Bupati Nomor 18 Tahun 2016 tentang Integrasi Program Kerja Berbasis Desa/Perkotaan melalui Smart Kampung Banyuwangi.

Program tersebut merancang desa agar memiliki kerangka kerja program terpadu yang menggabungkan penggunaan IT berbasis serat optik, kegiatan ekonomi produktif, kegiatan ekonomi kreatif, pendidikan kesehatan perbaikan, serta upaya pengentasan kemiskinan.

Inti dari program ini adalah pengembangan IT untuk mendorong masyarakat desa agar lebih memiliki daya saing. Tujuannya, penerapan IT dapat menjadi “jalan tol” bagi masyarakat Banyuwangi yang kebanyakan tinggal di kampung-kampung. Sebab jika dibandingkan, luas Banyuwangi adalah 9 kali lipat dari luas kota Jakarta, atau sekitar 5.782 kilometer persegi. Tentu saja, akses masyarakat adalah problem utama jika tidak mengandalkan teknologi.

Melalui Smart Kampung, pelayanan publik di Banyuwangi menjadi lebih cepat. Pemberdayaan ekonomi masyarakat lebih merata. Pelayanan kesehatan dan pendidikan masyarakat juga pada akhirnya menjadi lebih mudah. Karena semua urusan dapat diselesaikan hanya di tingkat desa. Dengan jaringan yang kuat, Smart Kampung dapat melipat mata rantai layanan di pedesaan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas saat mengunjungi kantor Desa Karang Bendo, Kecamatan Rogojampi, yang memberikan layanan tanpa hari libur. Foto: tribunnews.com

Intinya, menurut Bupati Banyuwangi H. Abdullah Azwar Anas, program Smart Kampung adalah pelayanan masyarakat berbasis IT.

Kepala Bidang Pemerintahan Desa Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa Banyuwangi, Trey. FM menjelaskan, sebagaimana dikutip NewsWeek, bahwa Smart Kampung merupakan konsep pengembangan pelayanan masyarakat dalam suatu komunitas untuk melakukan sesuatu secara cerdas, pintar, bijak, cepat dan terutama berbasis IT.

Tujuan Smart Kampung

Oleh sebab itu, Smart Kampung dapat dikatakan berjalan dengan baik apabila tujuan-tujuan berikut ini tercapai, yakni:

Pertama, meningkatkan program kerja setiap SKPD agar dapat dilaksanakan secara efektif, efisien, tepat sasaran dan tentu saja harus cepat.

Kedua, meningkatkan fungsi pemerintah desa dalam mendukung pelaksanaan program kerja pemerintah Kabupaten.

Ketiga, meningkatkan fungsi pelayanan masyarakat agar dapat langsung dinikmati oleh lapisan masyarakat paling bawah.

Keempat, meningkatkan partisipasi dan peran serta masyarakat dalam pelaksanaan program kerja pemerintah kabupaten.

Kelima, memudahkan masyarakat mendapatkan pelayanan secara terpadu.

Sementara itu, ada sejumlah kualifikasi yang harus dipenuhi oleh Smart Kampung di Banyuwangi ini, yaitu memiliki: WIFI Gratis tanpa password, tempat bermain anak, sudut baca atau Perpustakaan desa, program sedekah oksigen atau tanaman, penjaga kantor 24 jam, toilet Bersih, pintu gerbang buka 24 jam, honor bagi Satgas Pemburu Kemiskinan, papan informasi untuk keterbukaan, ruang laktasi/menyusui anak, lampu penerangan kantor, rumah difabel, layanan Berbasis IT, serta kotak pengaduan masyarakat.

https://www.instagram.com/p/B18gIxrnSS4/

Smart Kampung pada awalnya dikembangkan oleh para peneliti India, N. Viswanadham dan Sowmya Vedula dengan proyek bernama “Smart Village”. Konsep ini dikembangkan pada tahun 2010 dengan desain ekosistem desa terpadu untuk membangun desa yang smart.

Smart Village kemudian menjadi alternatif pengembangan wilayah pedesaan di era global. “Smart Kampung” atau ada pula yang menggunakan istilah “Desa Pintar” kini menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di pedesaan.

Dalam konsep Smart Kampung, teknologi harus bertindak sebagai pendorong bagi kualitas pendidikan, peluang bisnis lokal, meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan, meningkatkan keterlibatan publik (demokratis), serta meningkatkan kualitas hidup penduduk desa.

Riset yang dilakukan Departemen Sistem Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menyimpulkan, Kampung Smart merupakan konsep pembangunan desa yang memberikan solusi bagi masalah pedesaan dengan memanfaatkan teknologi, untuk menyediakan layanan, kemudahan akses informasi dan memberikan akses yang efektif serta efisien. Tujuannya, membuat kehidupan masyarakat di pedesaan menjadi lebih mudah serta meningkatkan ekonomi masyarakat pedesaan.

Teknologi, seharusnya menjadi jembatan menuju kemajuan. Bukan malah sebaliknya. Apa yang dilakukan Kabupaten Banyuwangi dengan “Smart Kampung”-nya, meski mungkin belum sempurna, adalah ikhtiar mengoptimalkan teknologi agar berbuah kebaikan. Sebab, jika salah digunakan, teknologi bisa juga membawa kemudharatan di masyarakat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...