Mengintip Lailatul Qadar di Malam Likuran

Likuran berasal dari bahasa Jawa Selikur, sebutan untuk bilangan dari angka 21-29

Dalam tradisi Islam-Jawa dikenal tradisi ‘malam likuran’ atau ‘selikuran’, yaitu merayakan malam-malam ganjil pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan.

Likuran berasal dari bahasa Jawa Selikur, sebutan untuk bilangan dari angka 21-29. Orang Jawa dulu yang pandai berfilosofi memaknainya sebagai “Sing Linuwih le Tafakur” (mengoptimakan tafakur).

Tafakur dalam arti luas adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak sedekah, iktikaf, tadarus Alquran, memperbanyak zikir dan lain-lain.

Untuk apa semua itu dilakukan? Tak lain sebagai upaya mendapatkan kemuliaan malam lailatul qadar yang diyakini bakal turun pada malam-malam likuran.

Bagaimana mereka merayakan malam likuran? Berikut fakta-faktanya:

Tradisi Leluhur Orang Jawa

Perayaan malam likuran bagi masyarakat Jawa merupakan tradisi leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Ini dilakukan di antaranya di keraton-keraton Surakarta dan Yogyakarta serta masyarakat pedesaan di Jawa lainnya.

Konon, tradisi ini sudah lama ada, sejak masuknya Islam ke Pulau Jawa yang disebarkan oleh Wali Songo. Seperti diketahui, cara dakwah Wali Songo selalu menggunakan pendekatan budaya.

Pada malam likuran masyarakat desa di Jawa umumnya memperingati dengan kenduri di rumah-rumah setiap keluarga. Biasanya disiapkan hidangan nasi dan lauk-pauknya atau yang dikenal dengan Rasulan. Ini diadakan pada malam-malam ganjil yang berakhir pada 29 Ramadhan.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...