Mengenal Puasa Tarekatnya Syekh Abdul Qadir Al Jilani

Puasa ialah menahan diri dari yang membatalkan puasa. Seperti makan, minum dan ‘berhubungan’ suami istri. Yang demikian itu secara lahiriah sudah dinilai sah dan menggugurkan kewajiban.

Namun, Syekh Abdul Halim Mahmud dalam kitab Al ‘Ibadah Ahkam wa Asrar menyebut, bahwa hal itu tidaklah cukup bagi orang-orang shalih. Mereka punya syarat lain dalam menjalankan puasa.

Foto: masrawy.com.
Pertama, Menahan Pandangan

Menjaga mata dari yang diharamkan Allah Swt. Sebagaimana dalam firman-Nya:

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu, lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (An-Nur: 30).

Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya. (An-Nur: 31).

Rasul juga bersabda: “Pandangan itu laksana busur panah beracun dari busur-busurnya Iblis yang dilaknat Allah. Siapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Dia akan mendatangkan baginya manisnya iman di qalbunya.”

Kedua, Menjaga Lisan dari Ghibah, Namimah dan Dusta

Kesemuanya itu telah dilarang dalam Al Qur’an, baik itu ghibah, namimah (mengadu domba) maupun ucapan dusta.

Foto: Andre Piacquadio.

Dalam hadis yang diriwayatkan Syaikhani (Bukhari Muslim). Nabi berucap dalam sabdanya, sesungguhnya puasa itu perisai. Maka jangan berkata kotor dan jorok, jangan pula bertindak bodoh. Jika ada yang hendak memeranginya atau mencela dan mencaci makinya maka katakanlah, sungguh aku berpuasa.

Ketiga, Menjaga Pendengaran dari yang Diharamkan.

Sehingga tidak tergolong dalam ayat..orang-orang yang sangat suka mendengar (berita-berita) bohong. (Al-Ma’idah: 41 dan 42).

Singkatnya, syarat lain puasa bagi orang-orang shalih ialah menjaga seluruh organ tubuh dari apapun yang diharamkan Allah Swt.

Mantan Syekhul Azhar ini menyebut bahwa jenis puasa yang demikian itu punya derajat yang lebih tinggi dari puasa yang hanya menahan diri dari lapar, dahaga dan hal yang bersifat lahiriah. Beliau menambahkan bahwa derajat yang tinggi dalam berpuasa ialah puasanya qalbu dari apa pun selain Allah.

Mengenal Puasa Syariat dan Puasa Tarekat

Syekh Abdul Qadir Al Jilany dalam kitab Sirrul Asrar pun demikian membedakan puasa syariat dan puasa tarekat.

Puasa syariat, kata pengarang kitab Al Fathur Rabbany itu, ialah menahan dari makanan, minuman dan berjima’ di siang hari.

Sedangkan puasa tarekat itu menahan seluruh anggota tubuhnya dari apa-apa yang diharamkan, dari aneka larangan, serta dari hal-hal yang tercela secara lahir batin. Hal tercela itu contohnya ujub (berbangga diri), kibr (sombong), bukhl (pelit) dan lain sebagainya. Karena yang demikian itu, kata Syekh Abdul Qadir, bisa membatalkan puasa tarekat.

Sulthanul Auliya membedakan, jika puasa syariat itu ada waktunya tertentu, maka puasa tarekat itu justru dilakukan sepanjang umur. Hal ini diisyaratkan oleh sabda Nabi Saw, berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar (HR. Ibnu Majah).

Sehingga ada ungkapan “berapa banyak yang berpuasa sebenarnya tidak berpuasa, dan berapa banyak yang tidak berpuasa sebenarnya berpuasa.”

Maksudnya ia tetap dinilai berpuasa ketika menahan anggota tubuh dari berbuat dosa dan perbuatan tercela serta tidak menyakiti manusia. Itulah sebabnya dalam hadis qudsi dinyatakan. “Sesungguhnya puasa itu untukku, dan Aku yang akan membalasnya”. (HR. Bukhari),

Foto: Stas Knop.

Karena dalam berpuasa, Allah lah yang berhak menilai seseorang itu berpuasa atau tidak, beliau juga lah yang menetapkan ganjarannya.

Dalam hadis qudsi yang lain, Allah berfirman, “ada dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, yakni satu kebahagiaan ketika berbuka (ifthar) dan satu kebahagiaan ketika melihat (ru’yah) keindahan-Ku.

Kebahagiaan bagi puasa syariat ialah berbuka (ifthar) yakni tatkala makan ketika terbenamnya matahari dan melihat (ru’yah) ialah melihat bulan (ru’yatul hilal) pada malam Ied.

Sedangkan bagi ahli tarekat, kebahagiaan berbuka (ifthar) itu ketika masuk surga dan menikmati aneka kenikmatan di dalamnya. Adapun kebahagiaan yang satu lagi ialah melihat-Nya (ru’yah) ketika bertemu Allah pada hari kiamat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...