Mengenal Lebih Dekat Konsep Desa Digital

Mendengar frasa ‘Desa Digital’, pasti bayangan orang adalah tentang sebuah desa yang keren, canggih, anak muda banget, yang semua hal dilakukan secara online dengan internet ngebut di semua sudutnya.

Tapi apakah benar seperti itu?

Untuk memastikan, coba kita tengok sebuah desa yang boleh dikatakan merupakan sebuah desa percontohan Desa Digital pertama di Indonesia, yakni Desa Lamahu di Gorontalo.

Desa Lamahu terletak di Kecamatan Bulango, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo. Desa terpencil ini diklaim merupakan ‘Desa Digital’ pertama yang memiliki fasilitas tercanggih di Indonesia.

Seperti apa bentuknya?

Konsep desa digital digagas oleh jajaran aparat Desa Lamahu bersama Karang Taruna dan Pemuda Elnino Center, dengan mengembangkan sistem Command Center berbasis Android.

‘Command Center’ bukan istilah asing bagi warga kota seperti Jakarta, Bandung atau Surabaya, tapi tidak demikian bagi orang desa.

Apalagi letak Desa Lamahu jauh dari pusat kota. Untuk menjangkau pusat kantor desa saja, masyarakat desa harus terlebih dulu menembus jalan-jalan pematang kecil di antara lahan persawahan.

Wajah Lamahu, tak jauh berbeda dengan wajah desa-desa lain. Pemandangannya yang asri, kehidupannya yang masih alami, dengan pekerjaan warganya yang masih lekat dengan alam seperti pertanian, peternakan dan sejenisnya.

Meski demikian, sekarang desa ini tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. Desa Lamahu kini tengah menjadi pilot project Desa Digital yang pertama di Indonesia dengan sistem Command Center yang dibuatnya.

Seperti halnya di kota-kota, fungsi Command Center tidak lebih sama, hanya saja dalam spektrum pedesaan. Command Center berfungsi sebagai pusat pelayanan digital pemerintah desa yang banyak manfaatnya dalam melayani kebutuhan masyarakat.

Cara kerjanya, Command Center menjadi satu pusat sistem desa digital untuk memantau aktivitas warga desa sekaligus memberikan layanan kepada mereka.

Konsep ini ditunjang dengan adanya 32 tiang cerdas atau smart pole yang dilengkapi CCTV, Wifi, lampu otomatis, serta sensor cahaya dan gerak. Semua dipasang di sembilan titik di kawasan pinggiran desa. Sementara, 23 titik lagi dipasang di pemukiman rumah warga dan di lahan pertanian.

(Foto: Smart Pole)

Untuk memanfaatkan Command Center masyarakat yang punya smartphone Android harus mendownload aplikasi ‘Panic Button’ di Playstore. Di dalam aplikasi ini tersedia tiga pilihan, yaitu layanan keamanan, kesehatan, dan pelayanan pengurusan berkas kependudukan atau keterangan surat izin.

Tekan Satu Tombol

Aplikasi yang dibuat Desa Lamahu juga tak kalah canggih dengan aplikasi serupa yang dibuat oleh pemerintahan di kota-kota besar.

Ketika ada suatu kejadian tindak kriminal warga hanya tinggal menekan tombol darurat pada aplikasi ‘Panic Button’ tersebut.

Maka dengan seketika alarm akan berbunyi karena terintegrasi dengan smartphone milik Babinsa Babinkamtibmas, aparat desa, dan kecamatan serta kepala Puskesmas.

Jadi, misalnya ada tindak pencurian, warga desa tak perlu repot-repot membuat laporan yang terkadang memakan waktu lama, dan belum tentu juga mendapat respon. Warga tinggal langsung pencet tombol, maka akan direspons cepat oleh warga dan aparat desa.

Nah, apabila seorang warga memilih tombol layanan kesehatan di aplikasi Panic Button itu, tandanya ada penanganan kesehatan yang harus segera ditangani, seperti sakit parah, meninggal, atau melahirkan.

Sementara tombol layanan pengurusan berkas, apabila ditekan seorang warga, akan otomatis muncul data lengkap kependudukan yang telah diinput sebelumnya. Data kependudukan muncul dengan mode tampilan seperti nama, alamat, dan identitas lain, bahkan hingga letak GPS-nya.

Pihak pemerintah desa akan memenuhi layanan, apakah warga minta dibuatkan surat keterangan, berkas kependudukan, surat izin usaha, atau lainnya.

Command Center sendiri meliputi sejumlah layanan seperti E-Siskamling, internet rakyat, sampai Smart Village. Command Center juga menyediakan WiFi gratis dengan kecepatan 10 mbps untuk seluruh warga desa. Warga bisa mengakses dengan hanya menginput data kependudukan berupa NIK dan password.

Tim IT Desa Lamahu.

Bagaimana, canggih bukan?

Meski diakui masih jauh dari sempurna, setidaknya Desa Lamahu menyiratkan harapan bahwa betapapun letaknya jauh dari pusat kota -yang identik dengan peradaban – dengan teknologi informasi, mereka mampu membangun peradaban, bahkan melebihi orang-orang kota.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...