Mengapa Dzikir dalam Tarekat Menjadi Wajib?

Setiap tarekat memiliki amalan wirid utama yang diamalkan secara terus menerus oleh setiap murid yang telah berbaiat tarekat kepada seorang Mursyid. Mengamalkan wirid menjadi amalan wajib bagi para pengamal tarekat sesuai ketentuan dalam tarekatnya masing-masing.

Hal ini yang terkadang menjadi salah satu alasan orang awam enggan untuk bertarekat, yakni karena ada kewajiban melaksanakan wirid. “Kok wirid jadi wajib sih, padahal sebelum bertarekat, wirid itu boleh dibaca kapan saja.”

Lalu muncul pertanyaan, mengapa dzikir dalam tarekat menjadi wajib diamalkan?

Sebelum sampai sana, mesti dipahami bahwa dzikir adalah hal yang esensial bagi seorang muslim. Sebuah hal yang lazim tatkala Allah memerintahkan agar berdzikir sebanyak-banyaknya. “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan dzikir sebanyak-banyaknya.” (Surah Al Ahzab ayat 41).

Menurut Ibnu Abbas, tidaklah Allah mewajibkan sesuatu kecuali diberinya batasan tertentu. Allah mengampuni dan menerima alasan orang yang tidak melaksanakan kewajiban karena adanya udzur, kecuali dzikir. Allah tidak memberi batasan tertentu bagi dzikir. Tidak pula menerima udzur dari seseorang yang meninggalkan dzikir, kecuali orang tersebut memang dikalahkan akalnya oleh hawa nafsunya. Allah bahkan memerintahkan dzikir dalam setiap keadaan, baik itu dalam keadaan berdiri, duduk, maupun berbaring seperti dalam surah Ali Imran ayat 191.

Dzikir membuat seseorang terhindar dari kelalaian itu sebabnya dzikir dilakukan pada malam maupun siang hari, di daratan dan lautan, saat di tempat maupun ada saat perjalanan, ketika kaya maupun miskin, saat sakit maupun sehat, dan aneka keadaan lainnya. Dzikir bisa dilakukan secara sendiri maupun berjamaah, secara sembunyi maupun terang-terangan baik itu dengan suara pelan maupun keras sesuai situasi dan kondisi.

Alhasil, dzikir sudah semestinya menjadi rutinitas harian yang bukan menjadi beban melainkan kebutuhan primer seorang manusia. Sedangkan posisi tarekat ialah metode dan jalan seseorang menuju Allah melalui bimbingan Mursyid yang bersanad hingga Rasulullah Saw. Fungsinya Mursyid di sini ialah melanjutkan fungsi dan tugas Rasulullah dalam melakukan bimbingan kerohanian.

Tatkala bertarekat, seseorang mengawalinya dengan berbaiat kepada seorang Mursyid tarekat mu’tabarah. Dengan berbaiat, maka ia berjanji untuk melazimkan wirid dalam tarekat tertentu. Sedangkan bagi seorang muslim apabila telah berjanji maka ia wajib memenuhi.

وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡـُٔولٗا

“..dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.” (Surat Al-Isra’, Ayat 34).

Jadi, kendati pun di awal mengamalkan wirid itu hukumnya tidak wajib, namun tatkala sudah berjanji untuk melaksanakan wirid, maka ia menjadi wajib dalam rangka memenuhi janji.

Oleh karenanya seorang pengamal tarekat bisa mengqadha atau mengganti wirid yang terlewat di lain waktu demi memenuhi janjinya ketika berbaiat.

Baiat dalam tarekat bisa dibilang sebagai komitmen spiritual untuk menjadi pribadi baru yang lebih baik. Dengan bertarekat seseorang akan terbimbing secara ruhani untuk selalu ingat kepada Allah. Sedemikian pentingnya berdzikir hingga nabi bersabda: “Perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya (berdzikir) dan yang tidak mengingat (Tuhannya) seperti orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...