Mendulang Cuan dari Bisnis Sabun Rumahan

Berawal dari masalah kulit yang tidak cocok dengan sabun pabrikan, Alvin Nurhadi dan Nabila Al Bathaty akhirnya mencoba membuat sabun sendiri. Berawal dari situlah keduanya mengembangkan bisnis sabun rumahan (homemade).

“Kulit saya gatal-gatal kalau menggunakan sabun pabrikan,” kata Alvin, dikutip laman Bisnis.com.

Begitu pula dengan Nabila, kulitnya akan sangat mudah kering, bersisik, bahkan lecet jika menggunakan sabun pabrikan. Semakin menjadi-jadi lagi apabila dirinya berpindah tempat tinggal.

“Saya akhirnya mencoba sabun alami berbahan dasar susu dari seorang teman. Hasilnya, sabun itu memberikan rasa nyaman di kulit,” ujar Nabila.

Merasa cocok dengan sabun buatan sendiri, kedua orang ini lalu mencoba peruntungan di bisnis sabun rumahan. Bagaimana hasilnya? Ternyata, keduanya bisa mendulang cuan alias keuntungan.

Nah, di masa pandemi yang belum juga berakhir ini, memproduksi sabun rumahan barangkali bisa menjadi alternatif untuk menambah penghasilan sampingan. Selain caranya tidak terlalu susah, pasarnya pun masih tergolong cukup terbuka.

Modal Kecil

Modal bisnis sabun rumahan ini terbilang kecil, karena memang tidak membutuhkan tempat untuk berjualan. Modal tempat usaha bisa dikesampingkan sehingga yang diperlukan tinggal peralatan dan bahan.

Nabila misalnya, ia memiliki produk dengan brand AQILA Handmade Soap, mengaku hanya mengeluarkan modal Rp500.000 saja untuk bisnis sabunnya itu.

Dia rajin membaca literatur tentang sabun karena memang memiliki masalah pribadi dengan kulit. Walhasil, pencariannya itu menjadi semacam riset yang membuatnya bisa menghasilkan produk sabun yang tepat. Kini sabun produksinya itu dia jual lewat media sosial.

Sementara, Alfin yang membuat produk sabun dengan merek Adara Natural Body Soap, mengaku bermodal sekitar Rp4 juta untuk membeli berbagai macam peralatan serta bahan-bahan yang dibutuhkan.

Menurutnya, bisnis sabun rumahan persis seperti bisnis makanan yang bisa dibuat di dapur rumahan, tanpa modal besar. Yang paling penting adalah berani dan mau belajar.

Berbeda dengan Nabila, selain membeli beragam peralatan dan bahan, Alfin juga menyiapkan tempat produksi yang lumayan luas dengan sirkulasi udara yang baik.

Peralatan dan Bahan

Peralatan-peralatan yang diperlukan diantaranya: hand mixer, mangkuk stainless steel, teko ukur tahan panas, termometer digital, timbangan, cetakan untuk sabun, alat untuk memotong, sarung tangan dan kacamata.

Sementara itu, bahan dasar sebagai komposisi sabun antara lain: soda api dan beragam jenis minyak seperti, minyak kelapa, minyak zaitun, minyak nabati, dan esensial. Komposisi bahan dasar ini disesuaikan dengan jenis sabun yang akan dibuat.

Seperti apa prospek bisnisnya?

Jika dihitung, rata-rata biaya operasional pembuatan sabun rumahan berkisar antara 30% sampai 40% dari total omzet. Ini dapat dikatakan biaya operasional yang tergolong rendah.

Sementara dari sisi pendapatan, seperti pengakuan Alvin misalnya, rata-rata senilai Rp 10 juta sampai Rp 12 juta per bulan dengan rata-rata biaya operasional sekitar Rp4 juta per bulan. Artinya, dia bisa mendulang laba bersih sekitar Rp6 juta sampai Rp 8 juta per bulannya.

Lain Alvin, lain lagi Nabila. Dia malah mengaku bisa mencatatkan pendapatan per bulannya antara Rp13 juta sampai Rp20 juta, dengan biaya operasional sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulannya. Jadi, rata-rata keuntungannya berkisar Rp 8 juta sampai Rp 14 juta per bulan.

Menarik bukan? Bukankah untuk bisnis skala rumahan pendapatan tersebut sudah cukup besar?

Tantangan Bisnis

Di balik keuntungan, semua bisnis pasti memiliki tantangan. Secara umum tantangan bisnis sabun rumahan adalah kesabaran. Kenapa demikian, sebab yang ditawarkan oleh sabun rumahan ini adalah nilai, yaitu nilai-nilai kesehatan, kelestarian alam, dan sebagainya.

Kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk alternatif seperti sabun rumahan ini masih sangat rendah, karena masih menilai dari harganya yang lebih mahal ketimbang sabun pabrikan. Tapi dengan begitu, bukankah peluang untuk berkembang menjadi terbuka lebar?

Para pengusaha sabun rumahan pun harus rajin-rajin melakukan edukasi terhadap masyarakat tentang kelebihan menggunakan sabun rumahan yang diproduksinya. Mereka harus menjelaskan dengan baik, misalnya kenapa sabun ini lebih mahal ketimbang sabun pabrikan.

“Akhirnya, saya berjualan sambil melakukan edukasi secara berulang-ulang,” ujar Nabila.

Lalu, apa sih bedanya sabun rumahan dengan pabrikan?

Pembeda paling utamanya adalah komposisi kimia dalam sabun pabrikan yang tidak akan ditemukan di sabun rumahan.

Sabun pabrikan biasanya terbuat dari bahan kimia murah dan berbahaya bagi kesehatan seperti, sodium lauryl sulfate (SLS) dan sodium laureth sulfate (SLES).

Kedua komposisi tersebut memang bisa memproduksi busa dan mengangkat kotoran serta minyak secara langsung. Tapi bahan kimia tersebut membuat kulit menjadi kering dan berpotensi iritasi.

Di samping itu, kandungan minyak nabati di dalam sabun pabrikan juga sangat sedikit serta cenderung tidak ramah lingkungan.

Sementara sabun rumahan diklaim lebih ampuh melembabkan kulit karena terdapat kandungan glycerin alami yang terbentuk dari proses saponifikasi alami.

Belum lagi, sabun rumahan juga mengandung pengawet serta antiseptik alami dari bahan dasar minyak kelapa. Selain itu, busa yang dihasilkan juga tidak berlebihan.

Nah, Anda tertarik mencoba bisnis ini? Sepertinya tidak terlalu sulit mempelajari produksinya asalkan Anda mau belajar. Dan, yang terpenting pasarnya juga masih terbuka lebar, karena keunikannya sabun ini tidak saja bisa dijual kepada individu tapi bisa juga dipasok ke penginapan atau perhotelan yang lebih mengedepankan keunikan sebuah produk.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...