Mendidik Calon Leader Menurut Sains

Kita pasti menginginkan anak-anak yang sukses. Mereka bisa menjadi para pemimpin pada masanya. Tapi apakah cara kita mendidik mereka sudah tepat? Ini masalahnya.

Sains mengungkapkan bahwa gaya orang tua dalam mengasuh anak-anaknya berperan sangat menentukan terhadap karakter kepemimpinan mereka.

Bahkan tidak saja dalam mengasuh anak-anak, gaya seorang bos dalam “mengasuh” para karyawannya juga berperan penting menentukan karakter kepemimpinan mereka di masa depan. Tentu saja, ini penting bagi kesuksesan perusahaan.

Sama halnya dengan keterampilan lain, seperti marketing, kemampuan menjelaskan logika dan manfaat suatu keputusan, meyakinkan orang tentang ide yang masuk akal, kepemimpinan juga merupakan keterampilan yang amat penting.

Tim yang hebat, perusahaan hebat, dibangun oleh para pemimpin yang hebat. Pasti.

Itulah kenapa perusahaan semisal Google mencurahkan banyak waktu untuk mengidentifikasi perilaku kunci manajer dalam tim terbaiknya.

Jadi, bagaimana kita membantu anak-anak kita agar mereka belajar menjadi pemimpin? Begitupun, membantu karyawan kita agar mereka belajar menjadi pemimpin formal dan informal yang lebih baik?

Mengutip Inc.com, sebuah studi pernah dilakukan pada tahun 2019 dan diterbitkan dalam Journal of Applied Psychology. Dalam studi tersebut para peneliti menilai potensi kepemimpinan lebih dari 1.500 remaja.

Mereka mensurvei rekan-rekan, guru dan orang tua untuk mengevaluasi apakah setiap individu bisa dipandang sebagai pemimpin yang baik.

Studi juga menentukan individu mana yang secara aktif berpartisipasi dalam peran kepemimpinan. Mengukur tingkat harga diri dan kepercayaan diri setiap individu dalam mengambil peran kepemimpinan.

Mereka meminta peserta untuk menjawab setuju atau tidak dengan pertanyaan misalnya, “Orang tua saya sering terlibat/turun tangan untuk memecahkan masalah hidup saya,” dan misalnya lagi, “Sampai saya dewasa, orang tua saya masih mengawasi setiap pergerakan saya.”

Ternyata, para peneliti menemukan bahwa anak-anak dengan orang tua yang terlalu protektif, dipandang oleh orang lain memiliki potensi kepemimpinan yang lebih rendah.

Secara statistik, orang-orang dengan orang tua yang terlalu protektif cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih rendah dan cenderung tidak berusaha mencari peran kepemimpinan.

Selain itu, orang yang dianggap kurang percaya diri dan kurang supel cenderung tidak dipilih untuk memimpin.

Penelitian lain menunjukkan bahwa orang-orang cenderung memilih sosok yang kharismatik, percaya diri dan ekstrovert (terbuka) sebagai pemimpin.

Kesimpulan mereka, anak-anak dengan orang tua yang terlalu protektif cenderung tidak berusaha mencari peran kepemimpinan. Teman serta guru mereka pun cenderung tidak memilihnya untuk menjadi pemimpin.

Walhasil, mereka tidak mendapat kesempatan untuk belajar bagaimana menjadi seorang pemimpin yang lebih baik.

Anak Mami

Kita pasti pernah mendengar istilah “anak mami”. Dimana orang tua mereka terlalu protektif dan cenderung memaksakan keinginan kepada anak-anaknya daripada mengharapkan mereka menjalani kehidupan sendiri.

Akibatnya, anak-anak itu cenderung kurang berkembang dan terampil dalam memecahkan masalah.

Bagaimana mereka bisa belajar memecahkan masalah jika tidak pernah mencobanya?

Dan, bagaimana mereka bisa merasa percaya diri untuk mengurus berbagai hal dan memimpin orang lain, sementara mengurus diri sendiri saja tidak dipercaya.

Berlaku juga untuk karyawan

Mengasuh dan mendidik anak, setali tiga uang dengan “mengasuh” Karyawan.

Ketika seorang bos, membatasi kemampuan karyawan untuk menerapkan keterampilan dan kreativitas mereka, sama artinya dengan melumpuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian karyawan.

Jika karyawan Anda setuju dengan pernyataan ini: “Bos saya sering turun tangan memecahkan masalah untuk saya,” atau “Bos saya mengawasi setiap gerakan saya,” artinya, karyawan Anda tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk menjadi pemimpin yang diinginkan. Padahal, Anda membutuhkannya.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...