Maradona sebagai Manusia

Dunia sepak bola kehilangan seorang legenda: Diego Armando Maradona. Bagi banyak orang dia lebih dari sekadar pemain bola. Dia seniman besar, pembela kaum pinggiran dan penentang kolonialisme, seperti yang terjadi atas Palestina.

Sebagai manusia biasa, Maradona sama sekali tidak sempurna. Hidupnya kacau dan penuh kontoversi. Terjerat narkoba, keluarganya berantakan, hingga terlibat masalah hukum dan kriminal.

Tapi kenapa, pada saat hari pemakamannya puluhan ribu penggemar berkumpul, memberikan penghormatan terakhir. Bahkan, saat dilarang karena alasan Covid-19 pun tetap memaksa. Mereka merangsek mendekati peti jenazah sang idola. Bentrok dengan aparat keamanan akhirnya tak terhindarkan.

“Maradona tidak sempurna. Tapi dia tak pernah berpura-pura,” begitu kata salah satu penggemar yang menghadiri pemakaman.

Ya. Maradona yang dikenal dengan “hand of god”-nya mengakui, apa yang dilakukannya selama ini adalah sebuah kesalahan. Bahkan ketika dia tak bisa menghentikan perilakunya.

Maradona meninggal akibat serangan jantung pada Rabu, 25/11 waktu Argentina atau Kamis, 26/11 WIB. Usianya genap 60 tahun.

Saat petugas bersiap membawa peti matinya ke pemakaman, orang-orang naik ke gerbang istana, mereka berteriak, “Diego milik rakyat.”

Tak lama kemudian, teriakan berubah, “Biarkan kami masuk!”

Mobil jenazah terpaksa keluar dari pintu belakang istana kepresidenan Argentina, ditemani iring-iringan sepeda motor polisi.

Ketulusan Mengakui Kesalahan

Maradona telah berhasil mengubah permainan sepak bola sebagai seni, dan mengangkat namanya menjadi seorang legenda sepanjang abad ini. Orang-orang tetap menganggapnya seperti itu sampai akhir hayatnya, meskipun perilaku pribadinya banyak cela.

Pada hari ketika Maradona mengucapkan selamat tinggal dari dunia yang membesarkannya, suaranya pecah, ia terisak. Pikirannya melayang pada kesalahan-kesalahan yang telah dibuatnya. Sebuah harga yang harus dia bayar.

Pada momen perpisahan itu, dia tidak membela diri. Bahkan sebaliknya, dia malah mengatakan bahwa olahraga yang dia cintai dan kagumi, yang dia kuasai, dan yang dia angkat menjadi sebuah seni, tidak mungkin ternoda oleh karena kesalahan-kesalahan pribadinya sebagai manusia biasa.

“La pelota no se mancha,” katanya dalam bahasa Argentina. Sepak bola tidak akan ternoda. Kalimat yang dia sampaikan tegas kepada para penggemarnya.

Maradona sedang beraksi di lapangan.

Bagi sebagian penggemar, kecintaan dan rasa hormat kepada Maradona bahkan mendekati pengkultusan. Di kota Naples, walikotanya, Luigi De Magistiris, bersedia mengubah nama stadion kebanggaan Napoli, San Paolo, menjadi Diego Maradona.

Sekalipun Maradona lahir dan besar di Argentina, jasanya begitu besar untuk Kota Naples. Ia berperan besar mempersembahkan tiga trofi, yang sampai saat ini menjadi satu-satunya raihan untuk Napoli.

Argentina sendiri menyatakan tiga hari berkabung nasional setelah kematiannya diumumkan. Di negara itu pula, telah lama ada gereja yang menggunakan namanya sebagai penghormatan.

Bukan Orang Yang Sempurna

Sebagai manusia, sang bintang lapangan ini bukanlah sosok sempurna. Dia pernah berjuang dari kecanduan narkoba selama beberapa dekade. Dia juga pernah diusir dari Piala Dunia dengan rasa malu setelah dinyatakan positif menggunakan doping.

Masalah kesehatan juga terus menderanya, menunjukkan bahwa dia menjalani pola hidup yang kurang baik. Dia tidak mengakui putranya, Diego, selama bertahun-tahun. Dia juga terasing dari mantan istrinya, Claudia Villafane dan kedua putrinya, Giannina dan Dalma.

Ia bahkan terlibat dalam sejumlah kekerasan, kepemilikan senjata, dan kejahatan terorganisir.

Betapapun demikian, rasa bersalah dan penyesalan atas segala kekhilafannya tetap diakui Maradona, walaupun dia mengaku gagal berhenti melakukannya.

Maradona sendiri tidak pernah membuat alasan atas kesalahannya. Seperti yang dia katakan kepada pembuat film Emir Kusturica pada 2008, dia menganggap dirinya bertanggung jawab atas semua yang telah dia lakukan, baik maupun buruk.

Tapi dia juga tahu, bahwa pada titik tertentu harus dibedakan antara Maradona sebagai manusia dan Maradona sebagai pemain bola.

Tidak Lupa Asal

Dan yang paling menarik, setinggi apapun ia terbang dalam karirnya, Maradona tidak pernah melupakan asalnya.

Maradona yang memang terlahir dari kemiskinan, tetap dikenal sebagai seorang sosialis sayap kiri, anti-imperialis yang terus mendukung gerakan-gerakan progresif.

Dia punya kedekatan hubungan dengan mendiang pemimpin Venezuela Hugo Chavez, mendiang Presiden Kuba Fidel Castro dan Evo Morales, Bolivia.

Maradona juga merupakan pendukung utama kemerdekaan rakyat Palestina. Saat militer Israel menyerang Gaza dan menewaskan 3 ribu warga Palestina, ia berang dan secara terbuka mengkritik Israel.

Pada Juli 2018, Maradona sempat bertemu dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Moskow. Dalam kesempatan itu ia mengatakan, “Dalam hati saya, saya orang Palestina,” katanya kepada Abbas sambil memeluknya.

Saat kematiannya diumumkan, ucapan dan pujian yang tulus dari para koleganya di dunia sepakbola mengalir deras, seolah menutupi ingatan tentang kekurangan dan kelemahan sang bintang.

Ucapan belasungkawa juga datang dari juru bicara Hamas, Sami Abu Zuhri.

Sekali lagi, bagaimanapun Maradona adalah manusia biasa. Salah dan khilaf pernah dilakukannya, seperti kebanyakan manusia. Tapi nyatanya dia masih tetap dikagumi hingga akhir hayatnya.

Masa lalunya yang dia akui sebagai kekhilafan, adalah sikap jujur yang patut dihormati. Sikapnya yang jelas terhadap nilai-nilai kemanusiaan, seperti menentang kolonialisme atas Palestina adalah kebaikan yang juga patut dihargai.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...