Manisnya Investasi, Ini 6 Tips Agar Terhindar dari Penipuan

Manisnya keuntungan yang ditawarkan sejumlah lembaga investasi membuat orang terbuai. Lebih-lebih, ketika tawaran manisnya keuntungan itu dikawinkan dengan narasi-narasi keagamaan seperti label syariah, kebun kurma, rumah tahfiz dan sebaginya. Ditambah promosi yang meyakinkan dengan mencatut figur-figur publik semisal artis atau tokoh agama. Ujung-ujungnya, hanya digunakan sebagai modus penipuan.

Kasus investasi bodong teranyar yang diungkap Kepolisian Daerah Jawa Timur salah satunya kasus investasi MeMiles yang diduga beromzet Rp 740 miliar. Kabarnya, kasus ini menyeret sejumlah nama artis ibu kota.

MeMiles merupakan platform digital advertising yang memadukan tiga jenis bisnis: advertising, market place dan traveling. MeMiles mengiming-imingi korban keuntungan yang tak masuk akal. Misalnya, dengan top up Rp 300.000 bisa dapat bonus hanphone, top up Rp 3 juta dapat sepeda motor dan top up Rp 7 juta dapat Fortuner.

Sebelumnya, terkuak juga modus penipuan investasi bodong berkedok perumahan syariah di sejumlah tempat, kemudian investasi kebun kurma di Bogor Jawa Barat yang ternyata hanya modus jual beli lahan belaka, itu pun tak jelas surat-suratnya. Padahal dana investasi dari korban yang masuk mencapai miliaran rupiah.

Lebih jauh ke belakang, ada kasus-kasus investasi bodong berkedok koperasi bernama Pandawa, Langit Biru, CSI dan lain sebagainya. Sama modusnya, mengiming-imingi keuntungan besar tapi ujung-ujungnya menipu. Nah, agar tidak mudah tergiur dengan investasi bodong semacam ini, berikut 6 tips yang perlu diperhatikan:

1. Banyak-banyak cari informasi

Berinvestasi memang bukan hal mudah, meski bukan hal yang sulit juga. Selayaknya banyak informasi yang seharusnya digali oleh calon investor. Banyak membaca, banyak bertanya, sebelum investasi dilakukan, jangan menggali informasi justru dilakukan setelah berinvestasi. Jangan berinvestasi karena pengaruh tawaran keuntungan yang besar atau hanya ikut-ikutan kawan. Semakin banyak informasi tentang produk yang akan diinvestasikan maka semakin kecil calon investor menjadi korban penipuan.

2. Jangan tergiur keuntungan besar

Hati-hati dengan produk investasi yang menawarkan keuntungan amat besar, apalagi sulit dinalar secara bisnis. Bandingkan dengan produk-produk investasi lain yang sudah teruji dan legal. Penawaran yang terlalu tinggi biasanya bukan investasi yang legal. Misalnya, dalam sebulan keuntungan 10%, itu sudah tidak masuk akal.

3. Mengecek legalitasnya ke OJK

Untuk meyakinkan, cek legalitas produk investasi ke OJK dan lembaga-lembagi otoritatif lainnya. Misalnya, jika berbentuk koperasi bisa dicek ke Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah atau Kementerian Perdagangan.

4. Lakukan identifikasi produk investasi

Penting untuk mengidentifikasi jenis produk investasi. Misalnya, apakah berupa investasi riil seperti properti, perkebunan atau emas atau finansial seperti saham atau pengelolaan saham seperti reksadana.

5. Kenali Pengelola

Pastikan pengelola memiliki izin dan legalitas, dan bisa dipercaya sebagai orang-orang yang memiliki profesionalitas dan integritas.

6. Pahami Modus Penipuan

Banyak kasus penipuan berkedok investasi yang sudah dibongkar oleh pihak kepolisian. Kasus-kasus itu seharusnya bisa dijadikan pelajaran. Jika memiliki modus yang sama, calon investor tentu harus sangat waspada. Jangan segan untuk menolak tawaran tersebut.

Berinvestasi sebetulnya merupakan salah salah satu cara untuk mengelola keuangan dan mendapat keuntungan. Bagi enterpreneur investasi adalah salah satu alternatif untuk mengembangkan modal dan usaha. Sementara bagi karyawan, yang sumber pendapatannya dari gaji, menginvestasikan kelebihan pendapatan jelas lebih menguntungkan ketimbang hanya menyimpannya. Tapi, jika berinvestasi pada tempat yang salah, bukan untung diraih malah buntung tak dapat dihindari.

Penulis: Imam Tamaim

Baca Lainnya
Komentar
Loading...