Makna Wushul Kepada Allah

Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam kitab Sirrul Asrar wa Madzharul Anwar fima Yahtaju ilaihil Abrar menjelaskan mengenai makna wushul ila Allah (sampai pada Allah).

“Makna sampai kepada Allah itu bukan seperti bertemunya fisik (jism) dengan fisik (jism), bukan seperti bertemunya ilmu (‘ilm) dengan pengetahuan (ma’lum), bukan seperti bertemunya akal (‘aql) dengan pemikiran (ma’qul) dan bukan seperti bertemunya dugaan (wahm) dengan yang diduga (mauhum).

Makna sampai atau wushul di sini ialah kadar keterputusan hamba dari selain Allah yang tanpa jarak (dekat ataupun jauh), tanpa arah dan tidak berhadapan, tanpa temu dan tanpa pisah.

Maha suci Allah yang memiliki hikmah agung di dalam setiap penampakan-Nya (dzuhur), kesamaran-Nya (khafa’), manifestasi-Nya (tajalli), ketertutupan-Nya (istitar), dan ma’rifat-Nya (ma’rifah).

Orang yang mencapai wushul menurut ulama bermadzhab Hambali ini akan memperoleh keberuntungan, “Siapa yang telah merasakan dan menghasilkan makna tersebut (keterputusan dari selain Allah) di dunia dan mengevaluasi dirinya (muhasabah) sebelum dinilai (dihisab), maka ia termasuk orang yang beruntung,”

Wali Allah

Para wali Allah atau Auliya adalah orang yang sudah wushul kepada Allah. Qalbunya hanya bergantung dan terhubung dengan Allah sehingga tak ada rasa takut dan khawatir serta merasa bersedih hati. Sebagaimana digambarkan al Qur’an.

“Ingatlah wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. (Yunus: 62-63).

Para wali Allah adalah mereka yang tidak merasa takut dengan huru-hara dan siksa pada hari akhir nanti. Mereka juga tidak bersedih hati dengan apa yang mereka lewati di dunia. Mereka adalah hamba Allah yang beriman dan bertaqwa.

Dalam tafsir At Thabari disebutkan bahwa para wali Allah ini ialah mereka yang jika dipandang akan membuat kita ingat kepada Allah. Nabi ditanya tentang auliya Allah. Nabi menjawab: “mereka yang ketika dilihat Allah diingat”.

Para wali ini adalah pintu-pintu untuk wushul kepada Allah, karena ketika dilihat ingat Allah. Hanya dengan memandangnya membuat kita terhubung dan ingat kepada Allah.

Wushul kepada Allah adalah dambaan para salik. Melalui guru Mursyid yang tergolong Auliya lah para salik dibimbing menuju sampai kepada Allah (wushul ila Allah).

Namun perlu diingat, bahwa wushul kepada Allah adalah anugerah Allah Swt. Dengan pertolongannya, siapa yang dikehendaki-Nya akan bisa mencapainya. Demikian juga terhubung dengan para Wali-Nya yang membantu menghubungkanmu dengan Allah juga atas kehendak-Nya.

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (At Takwir: 29).

Baca Lainnya
Komentar
Loading...