Makna Lailatul Qadar bagi Kalangan Sufi

Siapa yang menjumpai malam itu, maka baginya anugerah kebaikan seribu bulan

“Substansi lailatul qadar pada seorang hamba adalah kebersihan dan kemurnian jiwa yang ia miliki,” kata Syekh Abdul Karim al-Jily, sufi asal Baghdad bergelar Quthb ad-Din alias poros agama.

Imam Qusyairi menyebut lailatul qadar sebagai lailatul mubarak atau malam keberkahan. Beliau menjelaskan tentang lailatul mubarak demikian:

“Dialah malam di mana hati seorang hamba hadir dan menyaksikan “pancaran” Tuhannya. Di dalamnya ia merasakan kenikmatan dari cahaya pencapaian dan kedekatan kepada Tuhannya.”

Lalu, Syekh Jamaluddin al-Khalwati dalam kitabnya ‘Ta’wilat’ menjelaskan, “Lailatul qadar merupakan malam pencapaian, di mana malam ini lebih baik dari seribu derajat dan kedudukan. Maka barang siapa yang telah sampai dan menemukan malam ini, jiwanya akan fana (melebur) secara keseluruhan, sebagai tanda terbukanya penghalang antara dia dan Tuhannya.”

Nampaknya, bagi kaum sufi tidak terlalu penting mengejar formalitas peristiwa lailatul qadar itu sendiri, yang digambarkan sebagai malam yang sunyi dan menenangkan. Sebab yang terpenting bagi mereka adalah menemukan pelukan Tuhannya pada setiap malam di sepanjang hidupnya.

Komentar
Loading...