Letak Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Allah Swt telah meletakkan neraca keseimbangan di alam raya ini, dengan neraca keseimbangan ini semua berjalan teratur dan baik. Tak ada ciptaan-Nya yang sia-sia, semua diciptakan dengan penuh ketelitian dan perhitungan.

Lihatlah bagaimana teraturnya planet-planet di tata surya kita. Dengan garis edarnya masing-masing, planet-planet itu tidak menabrak satu sama lain. Tengoklah burung yang terbang bersamaan namun tak saling bersinggungan. Semua menunjukkan adanya keseimbangan dan keteraturan.

Kita sebagai muslim dituntut untuk menegakkan keseimbangan itu. Dalam surah Ar Rahman ayat 7-9 Allah Swt berfirman:

“Dan langit telah ditinggikan-Nya dan Dia ciptakan keseimbangan, agar kamu jangan merusak keseimbangan itu, dan tegakkanlah keseimbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi keseimbangan itu.”

Ajaran-ajaran Islam mencerminkan keseimbangan. Kita dilarang untuk merusak dan menerobos mekanisme keseimbangan itu. Baik itu keseimbangan kosmis, keseimbangan ekologis, keseimbangan sosial hingga keseimbangan diri. Semua aspek kehidupan tak luput dari ajarannya, dan kita sekali lagi dituntut untuk mewujudkan keseimbangan itu.

Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Lalu bagaimana menjaga keseimbangan dunia dan akhirat. Apakah dengan membaginya secara sama dan setara? Ataukah justru kita harus meninggalkan dunia?

Jika kita lihat al Qur’an, sekian banyak ayatnya berbicara tentang penekanan bahwa akhirat itu jauh lebih baik dan penting ketimbang dunia.

Misalnya firman Allah Swt dalam surah Al A’la ayat 17,

وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰىۗ

Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ

Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.

Apakah ini menandakan bahwa al Qur’an menilai dunia dengan akhirat itu tidak seimbang?

Penulis Kitab Tafsir Al Misbah, Prof. Dr. M. Quraish Shihab menyebutkan bahwa dalam pandangan Islam keseimbangan itu bukan persamaan. Ada faktor-faktor yang menjadikan sesuatu tidak sama, tapi karena adanya faktor itu maka dia disamakan (dianggap seimbang).

“Ada faktor-faktor yang menjadikan tuntunan tuntunan agama seakan akan bahwa itu tidak seimbang,” imbuhnya.

Seperti adanya penekanan akhirat atas dunia di dalam Al Qur’an. Itu terjadi karena adanya faktor-faktor. Pada prinsipnya manusia itu lebih senang dunia dari akhirat, lalu ada setan yang mengajak manusia ke dunia.

Kecenderungan manusia terhadap dunia ini sebagaimana digambarakan dalam surah ali Imran ayat 14, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.”

Faktor lain bahwa kenyamanan duniawi itu bisa terasa secara langsung berbeda dengan kenyamanan ruhani yang tidak terasa secara langsung. Maka oleh sebab faktor itu dilakukanlah penekanan pada akhirat, di sinilah letak keseimbangannya.

Dengan demikian bagi mereka yang mengatakan bahwa kita harus meninggalkan dunia karena akhirat lebih baik, ini adalah pendapat yang keliru dan bisa menyebabkan dunia muslim tertinggal.

Seorang Sufi Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyyah Pontren Suryalaya Syekh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin berpendapat bahwa kemajuan dunia tidak mungkin dicapai tanpa adanya bekal untuk kehidupan akhirat dan sebaliknya kebahagiaan akhirat tidak mungkin dicapai, kalau kehidupan dunia diabaikan. Kedua-duanya harus berjalan seimbang.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...