Lelaki yang Meninggalkan Istrinya Demi Ibu

Dalam sebuah adegan film di YouTube dikisahkan tentang pernikahan antara lelaki miskin yang sukses dengan perempuan dari anak orang yang kaya raya. Dari para pelakonnya, tampak film ini diproduksi di Timur Tengah.

Dikisahkan, ketika pernikahan itu berlangsung seorang ibu dari lelaki yang miskin itu datang. Dengan baju dan kerudung warna hitam, ibu yang sudah tua itu mendatangi anaknya yang sedang berdiri bersama sang istri untuk menyambut para tamu yang hadir.

Mengetahui ibunya datang dan menghampirinya, sang anak menundukkan badannya. Lalu ia mencium tangan ibunya dengan penuh kasih. Sang ibu sendiri kemudian naik ke altar pernikahan itu untuk memeluk anaknya, merangkul dan mencium keningnya.

Melihat pakaian ibu mertuanya yang tak pantas, istri dari lelaki sederhana itu berkata kepada suaminya, “Suruh ibumu turun dari tempat pernikahan.”

Mendengar ucapan yang mengejutkan dari sang istri, lelaki berbakti itu menjawab, “Kenapa kamu berkata seperti itu?”

“Sebab pakaian dia sangat buruk dan memalukan,” ujar istri kaya raya itu.

“Nanti saya akan beritahukan sendiri,” jawab sang lelaki.

“Sekarang juga. Jika tidak, saya sendiri akan beritahu ibumu di khalayak ramai,” ujar sang istri memaksa.

Ketika wanita itu hendak menyuruh ibu mertuanya, seketika sang suami mencegahnya, “Jangan…!”

Sementara para tamu menyaksikan adegan itu penuh keheranan. Tiba-tiba anak yang berbakti itu berkata pada ibunya, “Ibu turunlah dulu.”

“Tapi kenapa, Nak?” tanya sang ibu.

“Sebab kata istri saya, ibu telah memalukan dia di khalayak ramai,” jelas sang anak.

Ketika terjadi dialog antara anak dan ibunya tersebut, di tempat yang tak jauh dari mereka, wanita yang kurang ajar itu hanya tersenyum penuh kemenangan.

Dengan rasa sedih ibu itu turun dari altar dan pergi meninggalkan mereka. Wanita itu kemudian menarik pinggul suaminya dan mengajaknya untuk berfoto bersama. Seorang fotografer pun memotret mereka. Sementara itu, seorang ibu yang sedang sedih berjalan gontai perlahan-lahan meninggalkan mereka. Makin jauh dan kian jauh.

Seketika ibu itu berhenti dan membalikkan badannya. Dia melihat anak kesayangannya sedang difoto bersama istrinya oleh fotografer. Pada saat bersamaan, sang anak kemudian melihat ibunya yang juga sedang menatapnya penuh kesedihan. Dari tatapan wajahnya, tampak lelaki itu sebenarnya begitu sedih hatinya.

Sang ibu kemudian membalikkan kembali badannya dan berjalan meninggalkan ruangan. Peristiwa mengejutkan pun akhirnya terjadi. Lelaki itu turun dari altar dan kemudian meminta para pemain musik menghentikan alunan musiknya.

Mendengar musik itu berhenti, langkah kaki ibu pun seketika berhenti. Namun, dia tetap pada posisinya. Tiba-tiba anak berbakti itu berkata, “Siapakah yang mau membeli ibu saya?”

Mendengar pertanyaan demikian, sang ibu pun membalikkan badannya karena terkejut mendengar anaknya akan menjual dirinya kepada orang lain. Semua yang hadir terkejut mendengar pertanyaan ini. Bahkan, orang-orang yang tadinya duduk di kursi pun bangkit.

“Saya mau menjualnya,” ujar lelaki itu lebih lanjut.

Mendengar perkataan anaknya itu, sang ibu terlihat semakin sedih dan hampir menangis. Tiba-tiba ingat bagaimana dulu ia begitu penuh kasih sayang memandikan anaknya.

“Jadi, adakah yang mau membeli ibu saya?” tanya lelaki itu sekali lagi.

Semuanya bisu. Keadaan menjadi tegang. Sorot mata orang-orang kaya raya di sekitar mereka terlihat masih terkejut dengan keadaan tak terduga ini.

Tiba-tiba lelaki itu berkata, “Tak akan ada yang mampu membeli ibu saya?”

Tiba-tiba wajah ibu itu berubah mendengar perkataan anaknya yang demikian. Ia menangis penuh bangga. Seketika itu juga teringat bagaimana ia begitu sering mendekati anaknya yang sedang tidur kemudian mencium keningnya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu, ia menyelimutinya agar tidak kedinginan.

“Ya, tak akan ada yang mampu membeli ibu saya.” Suara itu kembali terdengar memecah kebisuan orang-orang di pesta perkawinan.

Sang anak lalu berjalan mendekati ibunya yang berdiri mematung tak percaya. Ia kemudian tersenyum kepada ibunya. Tiba-tiba ia menjatuhkan diri dan mencium kaki ibunya. Sementara itu, sang istri yang melihat ulah suaminya tersebut tampak tak percaya.

Sang ibu kemudian memegang pundak anaknya dan mereka pun berangkulan. (Terus terang, pada adegan ini saya menangis tersedu-sedu menontonnya. Tiba-tiba saya teringat pada ibu di kampung halaman. Saya banyak berbuat dosa padanya. Saya belum bisa berbuat banyak untuknya. Ibu, maafkan anakmu ini!)

Dalam pelukan yang sangat hangat, ibu mengelus-elus kepala anaknya. Dia lalu memeluk anaknya lebih erat lagi. Tangis pun pecah antara anak dan ibu. Setelah itu mereka melepaskan pelukan. Anak berbakti itu pun pergi bersama ibu dan saudaranya. Ia lebih memilih ibunya daripada istrinya yang tak tahu diri. Kisah selesai dan saya pun masih menangis karena terharu menontonnya.

Demikian sebuah kisah yang luar biasa tentang bagaimana bakti seorang anak pada ibunya. Secantik dan sekaya apapun istri, tak bisa menggantikan posisi ibu. Apalagi sampai ibu kita dipermalukan oleh menantunya sendiri di depan banyak orang. Berarti, dia bukanlah menantu yang baik. Ketika Anda mendapatkan (calon) istri seperti itu, sebagai seorang lelaki sebaiknya Anda tinggalkan. Sebab, (calon) istri seperti itu akan membuat hubungan Anda dengan ibu menjadi retak. Anda bisa menjadi anak durhaka karenanya.

Setelah menikah, anak lelaki masih menjadi milik ibunya. Posisi istri tak bisa menggantikan posisi ibunya. Beda halnya dengan istri. Ketika ia menikah, hak sepenuhnya berada pada suami.

Jadilah anak yang berbakti pada ibunya! Sebab, tak ada kata rugi dengan berbakti pada ibu. Kebahagiaan, keberkahan hidup dan kesuksesan di dunia ini, salah satunya disebabkan karena bakti seseorang pada ibunya. Ketika semuanya itu tak ada dalam hidup Anda, bisa jadi karena Anda tak berbakti pada ibu Anda. Segera perbaiki hidup Anda! Cari ibu Anda, perbaiki hubungan dan kalau bisa, cium kaki ibu dengan sepenuh hati. Percayalah! Hidup Anda akan berubah setelah itu.

“Bagi saya ibu adalah segala-galanya, jalan rezeki dibuka dengan bakti kita pada orang tua, hal yang membuat hati seorang ibu bahagia bukanlah harta, melainkan akhlak seorang anak yang mulia,” ujar Susi Pudjiastuti, mantan menteri Kelautan dan Perikanan Indonesia [2014-2019].

Baca Lainnya
Komentar
Loading...