Kolaborasi, Cara Bisnis Lokal Tumbuh dan Berkembang

“Ketika pandemi melanda, saya mulai menanam bahan pangan saya sendiri,” kata Jon Cleveland, seorang seniman tata cahaya panggung di Montreal Kanada, yang sekarang beralih profesi menjadi petani.

“Sekarang saya telah mengubahnya (kebiasaan menanam itu) menjadi bisnis kecil-kecilan,” cerita Jon pada media CBC belum lama ini.

Sejak dunia dilanda pandemi Covid-19, pola pikir bertahan hidup telah menjadi tren global. Orang-orang mulai menanam sayuran, buah-buahan atau bahan pangan lainnya untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, minimal untuk dirinya sendiri.

Jon yang berasal dari New Brunswick, Kanada, sebuah desa pertanian, kini malah mampu menyediakan sayuran segar untuk warga Montreal.

“Saya dibesarkan di sebuah wilayah pertanian. Setelah bersekolah di sekolah seni dan berkeliling negeri, saya akhirnya menetap di Montreal sejak 8 tahun yang lalu dan bekerja penuh waktu di bidang seni,” kisahnya.

Ketika Covid melanda, Jon, seperti banyak orang lainnya, kehilangan semua pekerjaannya di bidang seni. Dia pun mencari cara untuk menghilangkan bosan sekaligus bertahan hidup. Mulailah dia bercocok tanam, awalnya untuk kebutuhan makanan sendiri.

Sebelumnya, Jon juga pernah melakoni hobinya berbagi resep masakan lewat media sosial. Dia pernah berpengalaman menjadi koki lebih dari satu dekade. Ia mencoba mengajari orang-orang bagaimana memasak makanan untuk diri mereka sendiri, bahkan termasuk cara memanggang roti. Tapi itu tak bertahan lama.

Memutuskan Memulai Bisnis Pertanian

Fokus pada jalur pasokan terbatas, yaitu untuk kebutuhan pangan lokal dan segar, Jon memutuskan untuk memulai usaha kecilnya yan diberi nama ‘BunkerGreens’.

Nama itu berasal dari ruang bawah tanah tempat dia menanam sayuran, sebuah tempat yang lebih mirip bunker. Tapi itu juga karena pertanian keluarga Jon di kampungnya juga bernama Bunker Hill Farm.

“Sesuai dengan nama usaha keluarga yang tinggal di sana selama lebih dari 100 tahun,” jelasnya.

Jon menghasilkan berbagi ragam salad segar yang dipanen dan dijual langsung ke konsumen melalui situs yang dibuatnya BunkerGreens.com.

Kolaborasi

Pria ini menjalankan bisnis barunya dengan bantuan sejumlah kolega. Chris Thoreau dari Vancouver yang telah lebih dulu menjalani bisnis microgreens ini membantu membimbing Jon memulai bisnis tersebut.

Jon telah mengembangkan sebuah sistem yang terus tumbuh untuk menjadi contoh bisnis pangan lokal di sana. Dan itu, tentu saja, karena ada orang-orang yang bisa dengan cepat dimintainya nasihat dan dukungan.

Dia juga didukung oleh organisasi wirausaha muda di sana, Futurpreneur, yang meminjamkan dana, memberi pelatihan dan pendampingan, sehingga membuat bisnis Jon berjalan semestinya.

Bahkan teman lamanya, desainer luar biasa, Hicham Illoussamen, membantu Jon mengembangkan merek dan citra produknya di pasar.

“Saya memang tidak mungkin meminta lebih banyak dukungan, tapi begitulah cara bisnis lokal bertahan dan berkembang,” kata Jon.

Dia membutuhkan komunitas untuk menjalankan bisnis lokalnya. Dia butuh dukungan dari departemen store setempat yang memasarkan produk pangan lokal, dan dari berbagai pihak lainnya.

“Sebagai pemilik bisnis kecil yang bersifat lokal, kami hanya dapat berhasil dengan banyak dukungan lokal,” katanya.

Pengalaman

Sebelum menjalankan BunkerGreens, Jon pernah punya pengalaman menarik. Setelah tinggal di British Columbia (BC), provinsi paling barat dari Kanada, selama setahun, dia kembali ke pertanian keluarganya, membantu mereka memasok hasil bumi ke toko dan restoran lokal.

Dan sekarang, dirinya senang bisa kembali menumbuhkan banyak hal. Jon memang suka dengan pekerjaan yang oleh ayahnya disebut sebagai “pekerjaan kasar”, yang dibenci oleh kebanyakan orang.

“Saya suka prosesnya dan saya senang melihat hasilnya,” kata Jon.

Oleh karena itu, ketika dia memulai BunkerGreens, dia membuat rak tanaman sendiri, menyambung pipa ledeng, dan pekerjaan teknik lainnya. Bahkan ia juga yang mengangkut tanah yang dibelinya sebagai media tanam menuruni tiga tingkat anak tangga.

“Saya merendam benih, menanamnya, menyiraminya, lalu memanennya. Ini bukan kehidupan romantis. Ini kerja keras, tapi itu bermanfaat,” kata dia.

Meskipun dirinya pernah menjadi wiraswasta selama bertahun-tahun, tapi mempelajari cara membangun dan menjalankan usaha pertanian perkotaan adalah hal baru.

“Ini menantang, mendebarkan, sekaligus menakutkan! Tapi membuatku tetap sibuk melalui semua ini,” tutup Jon Cleveland.

Kisah ini semoga bisa menginspirasi anak-anak muda lain, terutama di Indonesia, negeri agraris di mana hidup sebagai petani adalah hal yang biasa.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...