Ketika Santri Menjadi Entrepreneur

“Prinsip saya, tidak mencari manfaat dari pondok, tapi saya harus memberi manfaat kepada pondok,” kata HM Shodiq Nurhadi (alm), alumni santri yang juga pengusaha sukses di Bojonegoro, Jawa Timur.

Kini terbukti bisnis Haji Sodiq di berbagai bidang terus berkembang. Dari mulai toko swalayan, toko bangunan, toko sembako, distributor pupuk, SPBU, koperasi, perkebunan, pertanian, transportasi, bisnis tembakau dan bermacam bisnis lainnya.

Bahkan, ia juga berhasil menjadi lokomotif dakwah dan pendidikan di daerahnya, Bojonegoro. Pondok pesantren modern didirikannya di Sumberejo, Bojonegoro dengan fasilitas masjid dan sekolah yang cukup memadai.

Haji Sodiq adalah alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Jawa Timur. Dia hanya tiga tahun di Gontor, karena kenyataan pahit setelah sang ibu meninggal dunia, sementara ketika itu adik-adiknya masih kecil dan butuh biaya sekolah.

Dia pun terpaksa pulang kampung, tentu saja atas restu sang kiai, karena dia harus menjadi tulang punggung keluarga.

Berbekal ilmu selama tiga tahun dari pondok Gontor, Ia pulang ke Bojonegoro menjadi kernet angkot, kemudian naik menjadi sopir. Tahun 1974, ia memberanikan diri mengambil kredit di bank untuk membeli angkot sendiri dan disopiri sendiri. Semakin lama mobilnya bertambah menjadi 4.

“Kalau mobil rusak, saya memperbaiki sendiri, saya pernah diajari di Gontor kalau diesel penggilingan padi rusak, saya yang memperbaiki,” kisahnya, dikutip dari forbis.id.

Dia sempat menjual keempat mobilnya untuk membiayai haji orangtuanya. Sisanya, digunakan untuk mendirikan toko bangunan dan toko elektronik. Apa saja dia kerjakan untuk menambah penghasilan, termasuk menjadi makelar. Modalnya adalah “amanah” seperti ajaran yang diterimanya saat di pondok.

Suatu waktu ia pernah diundang ke almamaternya untuk membenahi unit usaha di pondok Gontor. Ia mengusulkan kepada pimpinan pondok agar ada ustaz yang magang di tempat usahanya. Semuanya berjalan dengan baik.

Di luar dugaan, setelah ia membantu pondok, kiai Gontor malah memberikan amanah untuk menyalurkan sembako bersama kementerian koperasi.

“Lebih dari 60 ribu liter minyak dan gula disalurkan kepada masyarakat,” cerita Haji Sodiq.

Ketika Menteri Koperasi yang kala itu dijabat Adi Sasono bertanya kepadanya, berapa keuntungan yang didapatnya? Dia menjawab, semua keuntungan untuk pondok.

Di sinilah prinsip kesantrian muncul, dia meyakini apa yang dilakukan untuk membantu pondok pesantren, keberkahannya akan berbalik kepadanya. Terbukti, kini usaha yang dilanjutkan oleh anak-anaknya semakin berkembang.

Prinsip ini juga yang ditularkan kepada anak-anaknya, yang semuanya dia kirim ke pondok modern Gontor.

Sepulang dari pondok, anak-anak Haji Sodiq juga mengelola berbagai macam bisnis seperti palawija, pengering gabah, laundry hingga sembako. Mereka menjalankan prinsip bisnis yang sama dengan almarhum ayahnya, yakni memegang amanah serta meyakini keberkahan pondok pesantren.

Haji Sodiq wafat pada Ahad, 8 Desember 2019, dia meninggalkan warisan berharga yang menginspirasi para santri agar tidak ragu berwirausaha.

H. Masnuh Masrur Arif, Sidoarjo Jawa Timur

Setali tiga uang dengan Haji Sodiq, begitu pula dengan Haji Masnuh Masrur, pengusaha besi logam asal Sidoarjo Jawa Timur.

Ceritanya, sebelum lulus dari pondok pesantren Tambak Beras, Jombang, Haji Masnuh sowan ke Kiai Wahab Hasbullah untuk meminta doa agar diberikan ilmu yang bermanfaat setelah lulus.

Tapi oleh sang kiai dia malah didoakan menjadi pengusaha. Dari situlah Haji Masnuh termotivasi untuk berbisnis dan beberapa kali mencoba peruntungan di bisnis logam karena memang di wilayah tempat tinggalnya, Sidoarjo merupakan sentra kerajinan logam seperti untuk kebutuhan alat-alat pertanian dan sebagainya.

Sejak kecil, Haji Masruh sudah akrab dengan kehidupan pondok pesantren yang dikenalkan oleh sang ayah, Haji Masrur, sejak dia lulus dari Madrasah Ibtidaiyah pada tahun 1966.

Oleh ayahnya, dia lalu dikirim ke Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang. Saat masih menjadi santri, cita-citanya menjadi seorang ustaz, sebab itu tak heran dia banyak menguasai kitab kuning yang dipelajarinya dari para kiai di sekitaran Jombang.

“Pelajaran dari pondok pesantren lebih dari cukup untuk bersosialisasi di tengah masyarakat,” kata Haji Masnuh dalam program Sapa Santri Kompas TV. Menurutnya, dalam kehidupan di manapun, termasuk dalam menjalankan bisnis, yang terpenting adalah bersosialisasi dengan masyarakat.

Saat ini Haji Masnuh menjalankan bisnisnya dengan bendera Masrur & Son. Salah satu bisnisnya adalah memenuhi kebutuhan tiang listrik di berbagai wilayah di Indonesia. Hampir setiap pulau sudah dijajaki, dari ujung Sumatera hingga Papua.

Banyak cerita selama di pondok pesantren. Sampai akhirnya dia harus pulang dengan bekal ilmu agama yang cukup. Sekaligus belajar berwirausaha dan berbisnis agar bisa membawa manfaat bagi orang lain.

“Saya masuk pesantren pada tahun 1960-1972 dan 1973 mulai menggeluti dunia besi itu,” ungkap Haji Masnuh, dikutip dari TIMES Indonesia.

Lulus dari pondok, dia mengikuti jejak ayahnya menjalankan usaha besi logam.

Haji Masnuh mengajak warga sekitar untuk bergabung di perusahaanya. Termasuk memberi arahan dan pelatihan.

Pada tahun 1976 Haji Masnuh sempat merantau ke Kalimantan Selatan dan bertemu dengan pemborong timber. Maka terjalin komunikasi antara kedua belah pihak. Kemudian mereka sepakat membangun bisnis bersama melalui tender proyek pengaman logging atau pengaman kayu sebelum diseberangkan lewat sungai.

“Saya dipesani pengaman logging. Saya dapat proyek itu luar biasa. Bahan bekas saya sulap menjadi barang bagus,” jelas Haji Masnuh.

Tidak berhenti sampai di situ, Masnuh yang waktu itu masih muda, meningkatkan pengalaman dan memetakan kemungkinan yang bisa digali. Sehingga pada tahun 1977, ia belajar membuat tiang beton PLN. Omset per tahun dari produk tersebut mencapai puluhan miliar rupiah.

Setelah itu, untuk mengikuti kebutuhan pasar, Masrur & Son juga membuat spare part sepeda motor dan mobil hingga membuat body kompor gas.

Menjalankan prinsip kesantriannya, yakni membawa banyak manfaat bagi masyarakat sekitar, Haji Masnuh pun kemudian mengembangkan koperasi bagi para UMKM di sekitar perusahaan yang sejak dulu sudah dikenal sebagai sentra kerajinan logam.

Nah, Anda santri? Jangan ragu menjadi entrepreneur. Dengan prinsip-prinsip kesantrian, entrepreneurship akan membawa banyak manfaat bagi masyarakat.

Baca Lainnya
Komentar
Loading...